Wednesday, 4 August 2010

Tubuh penuh bulu (PART 3)

Sloth monkeyImage via Wikipedia

Segera ia membuka tutup botol itu, dan terciumlah aroma menyengat yang harum mirip aroma buah melon yang segar. Tiba-tiba ia teringat beberapa hari yang lalu ia sempat menerima minuman berwarna hijau segar beraroma melon pemberian Brian di rumah kontrakannya. Minuman itu dikemas dalam sebungkus wadah plastik dilengkapi dengan sedotan dan ditambah dengan es. Dari luar tampak menggoda untuk segera meneguk minuman itu. Apakah mungkin Brian pelakunya. Apakah ia berusaha mencelakai dirinya.


Segera malam itu juga ia menghampiri tempat kost Brian yang tak jauh dari kampus. Ia mengendap masuk melewati jendela kamar yang ia panjat melalui pohon di sampingnya. Brian yang tengah lelap tertidur kaget setengah mati dengan cekikan yang menyekat lehernya. “Lintang! Apa yang kaulakukan padaku?” tanya Brian dengan suara parau sambil menahan sakit. “Pasti kamu pelakunya, jawab!” bentak Lintang sambil melepaskan ikatan yang ia buat dengan kerah baju Brian di lehernya. “ Apa maksudmu?” tanya Brian ketakutan sambil terbatuk-batuk karena ikatan yang terlalu kuat di lehernya.


“Apa maksudmu memasukkan cairan penumbuh bulu dalam tubuhku? Jawab!” teriak Lintang sambil mengacungkan sebuah bogem ke muka Brian. Menyadari hal itu, Brian langsung bersujud memohon ampun pada Lintang dan berkata, “ Ma…maaf…memang aku memberimu cairan itu.” “Kenapa?!” sahut Lintang cepat.


“Karena…malam itu aku tak sanggup menyaksikan kau bercumbu dengan Gina, mantan kekasihku,” jawab Brian dengan tubuh gemetaran.

Enhanced by Zemanta

Tubuh penuh bulu (PART 2)

Sloth monkeyImage via Wikipedia

Menangis? Tidak- tidak, pikirnya. Seperti banci saja. Hal seperti ini harus dibiasakan. Apalagi sejak masuk di semester pertama kuliah jurusan kedokteran hewan ini, ia harus berkutat dengan jasad hewan setiap hari di laboratorium kampus. Ia sudah terbiasa dengan tekstur bulu-bulu hewan yang lembut. Namun bisa dibayangkan seperti apa komentar manusia-manusia di luar sana ketika pertama kali nanti menyaksikan tubuh Lintang saat ini. “Tidak, aku tidak boleh keluar rumah sebelum menemukan obat penghilang bulu-bulu terkutuk ini,” pikirnya.


Sudah tiga hari ini Lintang mengurung diri dalam rumah kontrakan. Untung di rumah ia menyimpan satu koli makanan instant. Ditambah telur ceplok kesukaannya jadilah menu santapan setiap harinya. Walaupun lama-lama eneg juga makan dengan menu yang sama, tapi hal itu harus dilakoni juga.


Di hari keempat, tubuh Lintang masih tidak menunjukkan perubahan. Akhirnya ia nekat di malam itu keluar rumah dengan mengendap-endap agar bisa sampai ke laboratorium kampus. Jaraknya cukup dekat hanya sekitar 100 meter. Di dalam laboratorium itu ia berusaha menemukan obat penghilang bulu itu. Setahu Lintang ia pernah menemukan cairan penumbuh bulu, berarti ada cairan untuk menetralisir, pikirnya.


“Ketemu!” teriak Lintang girang dalam hati. Segera ia meminum seluruh cairan itu dan beberapa saat kemudian menghilanglah seluruh bulu-bulu halus dari sekujur tubuh Lintang.


Cairan penghilang bulu itu sebenarnya diperuntukkan bagi hewan-hewan yang akan diotopsi oleh para mahasiswa, hingga tak perlu repot mencabuti bulu-bulunya. Sedangkan di samping botol itu, ada cairan penumbuh bulu yang diperuntukkan bagi hewan-hewan tanpa bulu yang akan diuji cobakan di tempat yang suhu udaranya di bawah nol derajat celcius.


Tunggu sebentar, seperti ada yang tidak beres dengan botol terakhir yang ia lihat. Sebotol cairan penumbuh bulu itu sudah tidak bersegel dan cairannya tinggal separuh botol. Padahal setahu Lintang selama ini belum pernah ada mahasiswa yang memakainya, karena dalam semester pertama ini belum sampai pada bab tentang penumbuh bulu. Mungkinkah ada seseorang yang memakaikan separuh dari cairan ini ke dalam tubuhnya?pikirnya.

Enhanced by Zemanta

Tubuh penuh bulu (PART 1)

Sloth monkeyImage via Wikipedia

Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bulu. Apa gerangan yang menyebabkan tumbuhnya bulu-bulu ini, pikirnya. Sudah tiga hari ini Lintang pontang-panting mencari penyebab berserta obat untuk menghilangkannya. Berbagai pengobatan mulai dari dokter sampai pengobatan alternatif telah dicobanya, namun semua hasilnya sia-sia. Tidak ada yang mengetahui sebab muasal penyakit yang ia derita kini. Jangan-jangan ini semua hukum karma atas dosa-dosa terdahulu yang pernah ia buat, pikirnya.


Lintang merebahkan diri di atas kasur empuk, tempat ia selama ini melepaskan lelah. Statusnya saat ini lajang dan sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi swasta, jurusan kedokteran hewan.


Malam ini ia benar-benar frustasi. Di hari ketiga hatinya semakin berkecamuk seolah ingin berontak dari mimpi buruk ini. Di hari pertama saat ia menyadari tubuhnya penuh dengan bulu, ia langsung berteriak seperti orang kesurupan. Untungnya ia hanya seorang diri tinggal dalam rumah kontrakan sederhana berukuran 10x6 meter itu. Segera ia berlari ke dalam kamar mandi dan mencukur bulu-bulu itu habis sampai bersih, namun beberapa menit kemudian bulu-bulu itu tumbuh kembali dengan suburnya. Seperti menyaksikan adegan proses tumbuhnya tanaman yang diambil tiap beberapa jam sekali, kemudian dipercepat gambarnya mulai dari biji sampai tumbuh menjadi tanaman dewasa, lalu berbunga dan berbuah. Yang disaksikan Lintang terhadap dirinya sendiri tak ubahnya seperti adegan tumbuhnya biji tadi, hanya saja yang ini seperti siaran langsung tanpa editing sedikitpun.


Pikirannya mulai ngelantur kemana-mana. Makan dan minum apa ia semalam sampai pagi keesokan harinya ia harus bangun dalam balutan bulu yang mirip seperti mantel yang setiap malam ia gunakan sebagai selimut tidur itu. Hanya saja yang satu ini menempel di badan dan tak bisa dilipat, apalagi masuk ke dalam almari baju seperti yang biasa ia lakukan setiap bangun tidur.

Enhanced by Zemanta

Tuesday, 3 August 2010

Rindu

rinduImage by unsunghero via Flickr

Sangat terasa rindu ini bergetar di dada
Menggelora bak air meluap dari wadah
Kini kau tak ada di samping peraduan
Ada rasa sedih dan sesal membayang

Maaf kala perhatianku tak tercurah sepenuhnya
Maaf kala aku begitu sibuk dalam keseharian
Kau begitu ikhlas dan menerima
Walau pandanganmu sayu dan tak bahagia

Kini bayangmu meremuk redamkan rasa
Ingin berlari ke arahmu dan berkata
Aku ingin kau berada di pelukku selamanya
Sampai akhir hayat tak kan terpisahkan

Enhanced by Zemanta

Sabar

Big Heart of Art - 1000 Visual MashupsImage by qthomasbower via Flickr

Saat aku baru selesai mandi dan berganti pakaian, tiba-tiba anakku mengompol di atas pangkuanku. Saat aku baru selesai mengepel lantai, anakku menumpahkan semangkuk makanan dalam piring hingga mengotori lantai. Selesai aku memandikan anakku, ia lantas bermain pasir di halaman rumah. Sia-siakah usahaku?


Jawabnya tidak… Berkali-kali kau mengganti popok anakmu yang kotor, berkali-kali pula tumbuh benih-benih kasih sayang dalam dirinya terhadapmu, yang semakin lama semakin bertumbuh. Kesabaran membuahkan kasih sayang. Kau tak menyadari hal itu, sampai anakmu cukup besar untuk mengatakan, “I love you, mom…”

Enhanced by Zemanta

Terpedaya

Bermain futsalImage by ivanlanin via Flickr

Ada seorang anak kecil kira-kira berumur 2 tahun tengah asyik bermain dengan ibunya. Sang ibu memanggil tukang bakso yang melintas, dan tak lama kemudian tersajilah semangkuk bakso untuk dinikmati sang ibu. Saat tengah menikmati sebutir bakso, tiba-tiba sang anak merengek minta apa yang dimakan ibunya. Sang ibu marah-marah sambil menjauhkan tangan sang anak dari mangkok bakso tersebut. Namun tangisan sang anak semakin menjadi-jadi, terdengar jelas sampai ke tempat di mana aku duduk ini. Lalu sang ibu mencari cara agar sang anak bisa mereda tangisnya. Diambilnya sendok bekas kuah bakso tadi lalu disodorkan pada tangan anaknya. Tak lama kemudian sang anak menjilati sendok itu dengan lahapnya. Seolah-olah sendok itu adalah sebutir bakso seperti yang dimakan ibunya. Sungguh kasihan… Sang anak tidak tahu apa yang sebenarnya ia jilat tidak sama dengan yang dimakan ibunya, namun sang anak merasa cukup puas hingga reda tangisnya.


Dalam kehidupan sehari-hari kadang nasib kita seperti anak kecil itu. Kita diberi sesuatu yang cukup bisa membuat kita terpedaya dan merasa puas, padahal bukan itu sebenarnya yang benar-benar kita inginkan. Hanya karena rekayasa orang lain, kita jadi terpedaya.

Enhanced by Zemanta

Monday, 2 August 2010

Siapa itu?

Door numbered 52Image via Wikipedia

Aku mendengar suara pintu depan berderit, pelan sekali. Aku lupa saat masuk ke dalam rumah, pintu itu belum kututup dan kubiarkan setengah terbuka. Kupingku yang tajam ditambah suasana yang saat itu sunyi senyap di siang bolong, membuatku semakin waspada. Siapa yang sedang berusaha masuk ke dalam rumah. Seseorang ataukah hanya angin yang mendorong pintu itu.

Aku yang saat itu berada di dapur segera bersembunyi di balik lemari makan. Semakin lama bulu kudukku berdiri. Takut akan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi akupun mengambil barang yang terdekat denganku, martil di atas lemari. Mungkin saat orang itu semakin dekat ke arahku, segera saja kulemparkan martil ke arah mukanya.

Bagaimana mungkin seseorang yang berniat bertamu tidak mengeluarkan sepatah kata salam sedikitpun. Pasti orang itu bermaksud jahat. Atau mungkin hanya angin lalu yang berhasil memukul mundur pintu yang sudah tua renta itu, hingga suaranya semakin keras berderit dan akhirnya terpental karena mengenai tembok di belakangnya.

Aku berusaha membungkuk sambil berusaha mengintip. Kutonjolkan kepalaku dan berusaha melihat sesuatu yang tengah bergerak, tapi tidak ada apa-apa. Mungkin orang itu mengendap-endap di lantai. Lalu kucoba merangkak sambil bergeser sedikit berharap melihat sesuatu bayangan di sana. Saat kutonjolkan lagi mukaku ke balik pintu, tiba-tiba sepasang mata tajam dengan pipi dipenuhi kumis panjang menyorot tajam ke arahku. Ya Tuhan, ternyata seekor kucing !
Enhanced by Zemanta

Sunday, 1 August 2010

Noda kotor di baju

my crochetImage by noRm@9 via Flickr

Mengapa pakaian anak kecil identik dengan noda kotor? Ini sebuah pertanyaan yang tidak perlu untuk dipertanyakan. Semua orang juga tahu jawabannya. Hanya saja tiap kali aku menemukan pakaian kotor anakku dalam keadaan penuh noda, aku selalu bertanya dalam hati. Mengapa masih kecolongan juga, padahal sudah kujauhkan anakku dari benda-benda yang bisa menyebabkan kotor baju anakku. Mungkin lebih tepatnya tidak terima kalau baju anakku kotor kena noda, apalagi noda yang sukar dibersihkan.


Alhasil sudah dikucek berkali-kali belum hilang juga nodanya, terpaksa memakai pemutih yang bisa menyebabkan pudar warna bajunya. Apalagi warna baju anakku cenderung lebih banyak warna putih, hingga gampang terlihat noda sekecil apapun. Akupun tak lega jika belum berhasil menghilangkan noda-noda itu. Pokoknya dalam keadaan kering setelah dijemur harus kelihatan putih bersih. Jika kecil saja noda masih terlihat, akan kucuci kembali walau untuk yang kesekian kali. Perfeksionis abis…

Enhanced by Zemanta

Saturday, 31 July 2010

Tidurlah Sayang

Ikut tidur aja ahImage by deasdira via Flickr

Kujaga kau anakku sayang

Kujaga kau dari ganasnya gigitan serangga malam

Kujaga kau dari rasa haus yang datang di tengah malam

Kujaga kau dari hawa dingin yang menusuk tulang

Kujaga kau dari hawa panas saat keringatmu bercucuran


Tidurlah sayang buah hatiku

Tidur dalam dekapan bunda disampingmu

Tidur dengan mimpi indah tanpa terganggu

Tidur dengan senyuman tanda nyenyak tidurmu

Enhanced by Zemanta

Karakter

Deziple CharacterImage via Wikipedia

Menangkap maksud seseorang memang gampang-gampang susah, apalagi orang yang baru kita kenal. Sedangkan untuk mengenal seseorang, kita butuh waktu. Kadang ada karakter yang mudah ditebak, ada pula yang sulit ditebak. Apalagi orang yang kurang ekspresif sehingga membutuhkan pemikiran ekstra untuk menangkap maksud orang tersebut.

Kalau kita tahu watak seseorang tersebut labil, perubahan sikap maupun ucapan membuat kita dapat memahami bahwa saat itu ia sedang tidak mood, atau biasanya ada yang berucap “memang begitulah wataknya, nanti toh akan kembali seperti semula.” Namun seseorang yang sulit ditebak, tidak bisa dibedakan apakah ia sedang marah atau senang. Oleh karena itu orang lebih berhati-hati atau menjaga jarak saat berhadapan dengan orang semacam ini.


Enhanced by Zemanta

Mood mempengaruhi hasil suatu pekerjaan

Aku pernah membuat beberapa lukisan, walaupun aku bukan seorang pelukis. Diantara lukisan itu ada satu lukisan yang hasilnya benar-benar memuaskan diriku karena mirip dengan aslinya. Objek gambar yang kujadikan model lukisan adalah gambar pemandangan di kalender. Masih dalam tahap belajar, namun saat itu aku bertekad untuk mengahsilkan lukisan yang paling bagus dari yang sudah-sudah, karena lukisan sebelumnya selalu mengecewakan. Mungkin karena terlalu semangat dan memberi dead line bagi diri sendiri untuk segera menyelesaikannya saat itu juga, maka hasilnya malah tidak karuan.

Untuk kali itu dalam setengah hari aku baru menyelesaikan sepertiga bagian lukisan, tiba-tiba mataku sudah lelah. Ragaku sudah tak kuat lagi untuk memberikan konsentrasi penuh pada pencampuran warna. Padahal semangatku masih membaja dan tergoda untuk menyelesaikannya hari itu juga. Namun sesuai pengalaman, akhirnya mengurungkan niat untuk meneruskan melukis dan memilih untuk mengistirahatkan raga dan pikiran. Mungkin jika diteruskan esok hari dalam keadaan fresh hasilnya akan lebih bagus, pikirku.

Keesokan harinya aku meneruskan melukis dalam keadaan segar bugar karena baru bangun dari tidur. Dalam hari kedua aku telah menyelesaikan dua pertiga bagian lukisan. Lalu seperti sebelumnya aku menahan keinginan untuk melanjutkan sampai selesai setelah rasa lelah terasa. Baru di hari ketiga aku berhasil menyelesaikan seluruh bagian lukisan. Hasilnya? Alhamdulillah sangat memuaskan setidaknya bagi diriku sendiri.

Kesimpulan yang bisa kudapat adalah, lebih sabar dalam mengerjakan setiap pekerjaan. Jika rasa lelah atau mood yang tidak berpihak pada pekerjaan itu, saatnya untuk beristirahat, karena mengerjakan sesuatu dalam keadaan segar bugar hasilnya pasti lebih baik.

Tentang Waktu

Aku memandangi putriku yang masih berusia 1 tahun. Kupandangi erat-erat wajah ayunya yang cantik dan mungil. Kuperhatikan caranya bernyanyi, bergoyang dan mengucapkan kata-kata dengan terbata-bata. Lucu sekali mendengar setiap kata yang meluncur dari bibir manisnya. Apalagi saat ia mengucapkan beberapa kalimat yang tidak jelas pengejaannya. Begitu riangnya ia, seolah membuat sebuah komunikasi denganku dan aku berusaha menjawabnya walau tak mengerti benar apa sebenarnya yang ia maksud.

Kutertawa kecil dan geli, mungkin seperti ini juga diriku saat aku masih kecil. Berusaha belajar dan memahami apa isi dunia. Berusaha paham apa yang dilakukan orang-orang dewasa. Dan saat ini, 30 tahun sudah aku menghirup udara segar dunia. Tak terasa sudah sebanyak itu waktu yang kugunakan untuk mempelajari segalanya. Rasanya baru kemaren aku menjadi seorang remaja yang beranjak dewasa. Saat ini sudah menjadi seorang ibu, dan sebentar lagi akan menjadi tua seperti orang-orang kebanyakan.

Apa seperti ini yang juga dirasakan oleh para orang tua, terutama para manula yang kulitnya sudah keriput dan rambut sudah beruban. Mungkin persis seperti apa yang kurasakan saat ini, merasa waktu terlalu cepat berlalu. Mungkin mereka juga merasa baru kemaren menjadi remaja, lalu menikah dan punya anak. Sekarang harus merelakan generasi muda menggantikan posisi mereka. Mereka pasti sedih, karena menjadi tua berarti umur bertambah, dan peran mereka di dunia harus tergantikan oleh yang lebih muda.

Waktu memang saungguh berharga. Semahal-mahalnya sesuatu, itu adalah waktu.

Adakah hari libur bagi seorang ibu rumah tangga

Adakah hari libur bagi seorang ibu rumah tangga? Kalau saya jawab sendiri sepertinya tidak ada. Namanya juga ibu rumah tangga, pekerjaan sehari-hari mengurus rumah tangga yang di dalamnya ada rumah berserta perabotan yang harus dijaga kebersihannya, jadi setiap hari harus membersihkan rumah. Lalu di dalam rumah juga ada anak dan suami, yang berarti harus melayani anak-anak dan suami yang setiap hari selalu ada di rumah. Lalu apa lagi? Masih banyak… segala keruwetan dalam mengatur keuangan terutama tagihan-tagihan. Belum lagi memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, dsb.

Bisakah hal-hal rutin seperti itu diistirahatkan? Tidak bisa sobat… semua harus dilakukan terus menerus selama 24 jam berada di rumah. Lain halnya kalau bekerja di kantor. Menurut pengalaman saya yang dulu pernah kerja kantoran, setiap hari ada jam-jam tertentu bagi kita untuk fokus pada kerjaan. Biasanya jam 7 pagi sampai jam 4 sore waktu untuk di kantor. Setelah itu bebas di rumah mau melakukan apa saja, apalagi kalau di rumah ada pembantu. Belum lagi kalau hari minggu dan hari libur, saatnya untuk recharge energy dan bermalas-malasan memanjakan diri.

Namun semua profesi pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Semua sama-sama mulia di mata Tuhan. Dalam hal ini saya hanya fokus membicarakan “Adakah hari libur bagi seorang ibu rumah tangga?” Tidak ada sobat…

Jangan biarkan nila setitik, rusak susu sebelanga

Jangan biarkan nila setitik, rusak susu sebelanga. Ibarat seorang tuan rumah yang air minumnya hanya tinggal satu poci, tiba-tiba kedatangan beberapa tamu, sebaiknya jangan menyuguhkan seluruh air minum langsung dari pocinya. Suguhkan ke dalam beberapa cangkir secukupnya agar si tuan rumah masih dapat menyimpan sisa air minum yang lain untuk persediaan bagi dirinya sendiri. Jadi ketika air tadi diminum oleh para tamu, air dalam poci tidak ikut ternodai dengan air liur tamu-tamu tersebut.

Dalam berkarya juga demikian, jangan biarkan sekelumit cercaan atau kata-kata menyakitkan menghalangi kita untuk terus berkarya. Sebaliknya, jadikan cambuk agar kita dapat membuktikan kualitas dan kesungguhan kita. Orang yang sukses selalu harus menapaki tangga dari bawah sebelumnya. Tidak mengapa rasa sakit itu ada, namun tetap harus fokus untuk terus berkarya. Viva forever…

Thursday, 29 July 2010

Tidak nyenyak tidur

Sleep On ComputersImage via Wikipedia

Akhir-akhir ini aku sering bangun tengah malam dalam keadaan kaget. Seperti ada sesuatu yang membangunkan diriku saat tertidur pulas, lalu bangun dalam keadaan linglung.

Seperti yang terjadi baru saja, saat aku tertidur tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamar keras sekali. Seketika itu juga aku lompat dari tempat tidur dan lari menuju pintu dimana sumber suara berasal. Padahal mataku masih merem melek. Alhasil ngomongku agak ngelantur dan ga nyambung.

Kebiasaan ini aku sadari setelah terjadi berulang-ulang. Secepat kilat aku bisa memejamkan mata, padahal tidak ada niatan untuk tidur sebelumnya. Dalam keadaan tidak sengaja aku tertidur, lalu secepat itu pula aku terbangun oleh suara-suara kecil yang mengganggu. Sepertinya tidurku mulai tidak bisa nyenyak.
Enhanced by Zemanta

Wednesday, 28 July 2010

Jemuran

HS_0461Image by tunachilli via Flickr

Hanya mengandalkan angin saat aku menjemur pakaian yang baru kucuci ini. Dalam keadaan setengah kering dan setengah basah, juga tanpa sinar matahari kuprediksi cucian ini baru bisa kering nanti malam. Namun jika hujan rintik-rintik ini belum reda sepanjang hari ini, mungkin baru besok pagi bisa dipakai kembali.

"Huufff....," kuhembuskan nafas tanda pasrah akan apa yang terjadi. Kuamati keadaan sekitar, jalanan aspal basah kuyup dan tampak genangan air di sana sini. Kulihat langit, rasanya mendung semakin pekat saja. Hujan gerimis juga belum reda sejaktadi malam. Angin juga hanya sesekali berhembus.

Lalu kumasukkan seluruh jemuranku ke dalam ruang tamu. Kuputar kipas angin dengan kecepatan tinggi sambil kuarahkan pada semua pakaian basah itu. Tampak mereka berkibar-kibar terkena terpaan angin yang cukup kencang. Lumayan cepat daripada hanya mengandalkan angin diluar sana, pikirku.






Enhanced by Zemanta

Berburu di pagi buta

MouseImage via Wikipedia

Kumengendap-endap di pagi buta. Suara berisik dari balik tumpukan kardus yang berserakan di dapur membuatku penasaran. Pelan tanpa suara kumencoba tak mengubah suasana yang sebelumnya sudah sunyi senyap. Berharap pelaku kejahatan yang telah memporak-porandakan isi dapur kutemukan.

Kupersenjatai diri ini dengan gagang sapu yang sengaja kupegang terbalik, agar kayu tumpulnya bisa menciderai sasaran dengan mudah. Baru satu langkah kaki ini hendak berburu, tiba-tiba suara dalam tumpukan kardus itu semakin kencang. Seolah terjadi permainan kejar-kejaran dengan sesamanya, atau mungkin saling berebut makanan sisa tadi malam hingga suara gaduhnya membuat bulu kudukku berdiri.

Segera kuambil langkah seribu. Berbalik arah dan menutup pintu dapur rapat-rapat dari dalam. Ternyata nyaliku tak sebesar yang kuduga. Rasa jijik melintas dalam pikiranku saat membayangkan bentuk tubuh sekawanan itu.




Enhanced by Zemanta

Tuesday, 27 July 2010

Sekuntum mawar

Trandafir roÅŸuImage by cod_gabriel via Flickr

Sekuntum mawar merah yang sedang mekar bertanya pada rumput yang bergoyang, "Mengapa banyak kumbang yang lalu lalang hanya untuk menghisap maduku, lalu meninggalkanku begitu saja?"

Rumput menjawab, "Karena kau begitu cantik menawan, hingga banyak yang tergoda untuk menyentuhmu."

"Lalu apa yang harus kulakukan agar aku tetap cantik menawan sepanjang masa?" tanya mawar.

"Tidak ada yang bisa kaulakukan...karena semua makhluk hidup ada batas usianya. Kau akan segera layu dan mati suatu saat nanti," jawab rumput.

"Aku tak akan mati sampai kapanpun!" hardik si mawar seakan tak menerima kenyataan.

Tiba-tiba ada seorang manusia yang tertarik akan keindahan mawar, seketika itu juga dipetiknya sang mawar dari singgasana yang dipikirnya akan bertahan sepanjang masa. Matilah sang mawar dan tamatlah ceritanya.




Enhanced by Zemanta

Siapa belum sholat

sujudImage by al-jubey via Flickr

Hayo siapa yang belum sholat Isya sampai detik ini... Waktu semakin cepat berlalu. Jangan biarkan ayam berkokok merenggut waktumu. Cepatlah ambil air wudlu. Agar nyenyak nanti tidurmu.

Satu...dua...tiga...jangan keburu menggerutu, sebelum kau laksanakan janjimu. Turunkan kedua tapak kakimu dari kasur empuk itu. Ayo...ayo...belalakkan matamu. Kuatkan niatmu. Teguhkan imanmu. Agar lekas tercapai tujuanmu.




Enhanced by Zemanta

Insomnia

Insomnia smileyImage via Wikipedia

Secangkir teh manis dan hangat telah kuseduh dalam remang suasana dapur di tengah malam buta. Begitu sunyi hingga hanya bisa kudengar suara jangkrik dari balik tembok ini dan sesekali suara cicak yang menyapaku seolah bertanya sedang apa gerangan diriku.

Malam ini sungguh tak bisa kupejamkan mata, walau jarum jam dinding telah melewati pukul 12 malam. Insomnia kah diriku...Berulang-ulang kuterjaga sambil menggaruk beberapa bagian tubuhku. Sungguh gatal sekali. Kuikuti kemana arah setiap nyamuk yang melintas di zona nyamanku, lalu kumatikan. Berhasil...! Namun melintas lagi sekawanan yang lain. Sungguh menyebalkan...
Enhanced by Zemanta

Cicak

Mengkarung / Sesumpah / Cicak Kubing in Malaysia.Image via Wikipedia

Jangan kau injak ekorku. Sebab ia kan patah. Patah dan akan mencari jejakku sepanjang akhir hayatku. Jangan kau kejar aku. Sebab aku kan lari ketakutan mencari tempat persembunyian.
Jangan kau bunuh mangsaku. Sebab aku sudah menantinya seharian ini. Biarkan mereka beterbangan dalam ruangmu barang sejenak hanya tuk malam ini.

Jangan kau dekati aku. Aku terlalu malu untuk berdekatan denganmu. Jangan kau bunuh aku. Sebab aku bukanlah seekor tokek yang menggigit, hanya mirip. Juga bukan seekor buaya yang ganas. Aku hanyalah seekor cicak yang menumpang hidup di dinding kamarmu.


Enhanced by Zemanta

Habis gelap terbitlah terang

Morning sun, reflectedImage by schoeband via Flickr

Raja angin berkata pada manusia di bumi, "Hai manusia, aku hembuskan anginku agar kalian tidak merasa panas di bawah terik matahari yang sombong itu."

Tiba-tiba matahari marah mendengarnya, lalu berkata, "Aku menyinari makhluk di bumi ini tidak bermaksud jahat."

"Tapi mereka banyak yg tidak suka dengan kehadiranmu. Mereka menutup tubuh mereka dengan payung dan topi," sahut raja angin.

"Lihatlah ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian. Mereka senang sekali dengan kehadiranku. Lihatlah orang-orang yang sedang berjalan kaki maupun sedang mengendarai motor, mereka lega karena hari ini tidak turun hujan," jawab matahari riang.

Lalu sang raja hujan menghampiri matahari dengan muka masam. "Apa maksudmu manusia tidak suka dengan kehadiranku?" tanya hujan pada matahari. "Mereka justru merasa panas dan gerah dengan sinarmu yang panas itu. Saat ini pasti akulah yang mereka tunggu," sambung raja hujan tak mau kalah.

Mendengar perkataan hujan, raja angin merasa mendapat angin segar dan tertawa lebar penuh kemenangan, lalu ia menghampiri hujan sambil membisikkan sesuatu. Tiba-tiba mereka berdua tertawa terbahak-bahak sambil bergandengan tangan. Melihat hal itu matahari kebingungan, apa yang tengah mereka rencanakan, pikirnya.

Tiba-tiba raja angin dan raja hujan bersatu membentuk hujan angin yang sangat lebat. Raja angin menghembuskan nafasnya kuat-kuat hingga matahari terpelanting jauh ke ujung langit, sedangkan raja hujan melebarkan awan hitam miliknya hingga sinar matahari tak bisa lagi menyinari bumi.

Banjir ada di mana-mana. Hujan turun selama berhari-hari tiada henti. Rumah dan bangunan banyak yang roboh diterpa angin kencang. Untuk kali ini manusia banyak yang merindukan kehadiran matahari untuk menghangatkan tubuh mereka.

Tak lama kemudian, tampaklah seberkas cahaya matahari dari ufuk timur di suatu pagi buta. Matahari berjalan pelan sambil tertatih-tatih. Ia tak mau menyerah begitu saja dan ingin bangkit dari keterpurukannya selama ini. Manusia bersuka cita menyambut kehadirannya. Habis gelap terbitlah terang.

Note: Jangan menyerah




Enhanced by Zemanta

Monday, 26 July 2010

Waktu

Many people, one realityImage by Unitopia via Flickr

Malaikat bersembunyi dalam hiruk pikuknya duniaku. Rasa takut menyelimuti diri karena tak tahu apakah ini dosa, namun setebal apa keyakinanku tentang hadir atau tiadanya mereka, tetap tak menyurutkan asaku untuk berhenti.

Aku menekan tombol waktu, lalu segalanya berhenti. Hingga tak ada lagi penderitaan yang mengiris hati. Hingga aku bisa tidur sejenak tanpa memikirkan apapun, dan berharap semua tetap akan baik-baik saja.

Sementara itu waktu benar-benar berhenti. Menungguku sampai aku siap menghadapi segalanya, namun aku semakin bertambah tua dan kesepian. Seiring dengan waktu yang kunikmati hanya seorang diri, seiring dengan tidur panjang dan kelalaian akan kewajiban, seiring dengan ketidakmampuan untuk menghadapi kenyataan dan kepahitan, akupun harus merelakan waktuku terbuang dan semakin menipis.

Segera kutekan kembali tombol waktu, lalu segalanya berjalan seperti sedia kala. Kumemohon ampun pada Tuhan atas kelancanganku, dan bersedia mengahadapi kenyataan yang memang sudah digariskan untukku.


Enhanced by Zemanta

Connect facebook

Seharian berkutat dengan blog hanya untuk memperbaiki fasilitas connect facebook. Berbagai macam cara telah kucoba untuk mengaktifkan connect facebook dalam intensedebate, namun tak jua memberi hasil memuaskan. Fasilitas itu masih belum bisa digunakan dalam blogku, karena aku memiliki dua aplikasi yang tidak bisa dipakai bersamaan, yaitu telah adanya widget fan box. Seperti itu kira-kira informasi yang kuterima.

Aku kurang paham dengan hal seperti ini, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah pasrah. Adakah teman-teman yang bisa membantuku mengaktifkan tombol connect facebook dalam blogku ini. Mubadzir kalau tidak bisa digunakan...

Saturday, 24 July 2010

Kembalinya kotak komentarku

Setelah beberapa hari puasa bikin tulisan di blog, akhirnya mulai detik ini aku bisa memulainya kembali. Karena terlalu bersemangat bolak-balik mengganti template, akhirnya kode html nya ada yang kehapus. Itu yang menyebabkan blogku kehilangan kotak komentar di bawah postingan.

Hampir putus asa aku mencoba berbagai cara dengan mengikuti saran-saran yang tersedia gratis di mbah google, aku selalu gagal menyelamatkan template blog yang kusuka. Berulang-ulang aku mencoba ganti template agar kotak komentarku kembali seperti semula, namun hasilnya selalu nihil.

Alhamdulillah, aku menemukan cara yang lain dari biasanya. Aku menemukan cara ini dari salah satu blog yang kutemukan di mbah google juga, yaitu dengan memakai fasilitas intensedebate. Sejauh ini masih belum kutemukan kekurangannya, semoga saja tidak ada.

Kini para sobat yang telah membaca tulisanku, baik yang memiliki alamat blog maupun yang tidak, bisa meninggalkan komentar. Ditunggu komentarnya ya sobat... welcome back.

Tuesday, 20 July 2010

Suara Hati (repost )

Melepuh…oh kulitku mulai melepuh,” teriakku dengan mata terbelalak di muka cermin, di pagi hari saat baru terbangun dari tidur. Mimpiku semalam menjadi seorang wanita cantik dan diperlakukan bak seorang putri cantik telah luluh bersama cita dan harapanku. Ternyata masa-masa indah beberapa saat yang lalu hanyalah sebuah mimpi. Di umurku yang tidak muda lagi aku mulai dilanda ketakutan akan menjadi tua, berbadan bungkuk memakai tongkat dan rambut beruban.

Oh Tuhan, siapa yang ‘kan mencintai dan memujaku jika kulit di dahi ini sudah menampakkan kerut-kerut yang menakutkan. Siapa yang ‘kan meneriakkan dan mengelu-elukan namaku di lubuk sanubari jika rambut putih mulai menguasai kulit kepala ini.

“Siapa kamu? Mengapa kau sangat mirip denganku?” tanyaku pada sesosok bayangan di dalam cermin, lalu bayangan itu menatapku.

“Aku adalah dirimu dua puluh tahun mendatang. Lihatlah aku dengan seksama,” jawab bayangan itu dengan senyuman. Rambutnya putih beruban, sedang kulit mukanya keriput. Mirip denganku, hanya wajahnya kelihatan sedih dan lesu. “Apa yang sedang kaurisaukan?” tanya bayangan itu.

Sejenak kukesampingkan, segala yang mencegahku bersuka cita. Hanya diam dan mencegah rasa ini keluar dari hati yang beku, yang ‘kan akibatkan hati di luar sana bergejolak tak tentram. Jikalau tidak, ia akan menerbangkan gelas kaca hingga hancur lebur di tempat kaki ini berpijak. Hingga pada saat aku melewati keping-keping kaca itu, pikiran yang lalai mengijinkan serpihannya menyobek mata kakiku dan mengucurlah tetesan darah bekuku.

“Aku ingin dicintai sepenuh hati,” jawabku dengan berlinang air mata.

Selalu terulang dan terulang lagi datangnya rasa seperti saat sedang terancam dan dipaksa melakukan sesuatu sedangkan kita tak mau. Ingin rasanya mengemas diri ini menjadi seorang putri yang cantik jelita, hingga semua orang memperlakukanku bagai gelas-gelas kaca. Selalu disayang dan diberi perhatian penuh serta dimanja. Dijaga luar dalam agar tak retak hatinya, dan agar selalu tampak indah luarnya.

“Kalau begitu mulailah dengan mencintai terlebih dulu,” jawab bayangan di cermin itu. Kemudian ia tersenyum dan melanjutkan,”Apabila karena perkataan atau perbuatan yang berasal dari dirimu menyebabkan gelas kaca terbang dan jatuh luluh lantah jadi berkeping-keping, maka tutuplah kupingmu agar tak pecah gendang telingamu, namun jangan kau tutup mata hatimu, karena dengan menutup mata hati sama saja dengan membunuh dirimu sendiri.”

“Aku juga ingin dinomersatukan,” timpalku dengan nada protes.

Sakit yang tertahan hanyalah sekelumit sakit biasa dibanding sikap acuh yang dipamerkan dan sikap menganggapku hanyalah sekedar bayangan yang melintasi hari-harinya.

Lalu bayangan itu kembali tersenyum dan berkata, “Jikalau saat ini kau sedang berada di bawah, maka bersabarlah. Karena roda dunia ini berputar dan tunggulah hingga saatnya tiba, kau berada di atas segala kepentingan yang saat ini sedang memaksamu untuk menunggu.”

Akupun semakin keras menangis, “Mengapa aku harus menunggu? Aku sudah lama menunggu!”

“Jikalau kau tidak menuruti perkataanku ini, maka lihatlah dirimu dua puluh tahun mendatang akan tetap berwajah kusut dan tak bahagia seperti diriku. Lihatlah dirimu sendiri di hadapanmu kali ini. Aku pun tak pernah dapat merasa bahagia jika dirimu tidak bahagia. Maka tolonglah aku, ubahlah dirimu agar menjadi bahagia, saat ini juga…”

Monday, 19 July 2010

Menjelang pagi

cahaya dikala senjaImage by faalifyazai via Flickr

Ku tak ingin malam ini berhenti
Ku tak mau malam ini berakhir
Ku tak rela malam ini berganti pagi
Ku sangat menikmati sunyi dan sepi
Berkelana menjelang saat bermimpi

Dalam tenang aku berimajinasi
Membayangkan yang belum terjadi
Sampai aku lupa diri
Antara nyata dan ilusi

Enggan berhadapan dengan esok hari
Yang penuh rutinitas tiada henti
Lalu aku menghibur diri
Dengan secangkir hangat kopi

Hidup harus dijalani
Sebelum berhadapan dengan mati
Semua pasti bisa teratasi
Asal berusaha tiada henti
Enhanced by Zemanta

Catatan kecil

Semua bilang kalau ingin pandai menulis harus banyak baca, banyak nulis dan mendengar atau mengamati. Pendek kata apa yang akan kita tuang pasti ada sumbernya, dan sumber itu berasal dari lingkungan sekitar ditambah dengan daya imajinasi dan pendapat kita sendiri, lalu dibaur jadi satu maka jadilah tulisan orisinil karya kita.

Namun aku tidak suka baca, aku hanya suka menulis dan mengungkapkan segala rasa dalam tulisan. Aku cepat bosan dan mengantuk saat membaca karya orang lain, apalagi tulisan yang bahasanya sulit untuk dicerna dan butuh konsentrasi tinggi untuk bisa dimengerti. Salahkah aku…

Kedengarannya seperti egois, hanya mementingkan diri sendiri. Seolah hanya mau mengumbar rasa namun pelit untuk mencicip rasa milik orang lain. Seolah hanya mau mengkritik namun tak mau menerima kritik. Mungkin seperti itulah keadaan bathinku saat ini.

Hingga tiba saatnya ide ini berhenti mengalir. Otak ini serasa macet. Lalu lintasnya padat, tak satupun yang mau bergerak. Tak ada satupun yang bisa kuceritakan walau ada segudang rasa yang menumpuk dalam benak ini. Aku kehabisan kata-kata. Seolah ada yang mencuri semua perbendaharaan kosakataku.

Tolooong… serasa ingin meluap namun tak ada jalan keluar, semuanya buntu dan pintu tertutup. Segera kuambil sebuah novel karya seorang penulis terkenal yang tergeletak di atas meja. Baru satu halaman yang kubaca, tiba-tiba terbentuk satu topik yang siap kuurai agar tak jadi benang kusut lagi.

Dilema yang terjawab

Saat kubuka tabir yg menyelimuti diri ini sepanjang malam, masih terasa kantuk di pelupuk mata, dan rasa enggan itu masih tetap bergelanyut membebani pundakku. Apa mau dikata, mau tidak mau waktuku sudah sampai. Waktu untuk memulai segalanya, walau hasrat sudah tak ada lagi.

Kucoba sekuat tenaga memaksakan hati dan raga ini untuk mulai bergerak. Persendian ini masih kaku dan bathin ini serasa ingin berontak. “Toloooong….hilangkan semua rasa yang membebani ini. Sudah waktunya mencari sesuap nasi,” teriakku dalam hati.

Hari ini adalah hari pertama aku mulai masuk kerja di sebuah perusahaan swasta di kota yang sangat panas ini. Kota yang penuh dengan polusi dan ketatnya persaingan untuk mencari sesuap nasi, juga kota yang penuh dengan hangar bingar kehidupan malam yang tak pernah sepi.

Sebelum beranjak keluar dari kamar peraduan tempatku menyembunyikan semua kesedihan untuk menghadapi hari ini, aku menoleh sejenak walau dengan hati menjerit tertahan pada wajah mungil buah hatiku tercinta, alasan utama aku mempertaruhkan segalanya yang kupunya.

Buah hatiku yang masih terlalu kecil untuk kutinggal mencari sesuap nasi. Semoga ada jalan terbaik sebelum aku benar-benar betah di kantor hingga melupakan semua keceriaan dan kelucuan putriku. Atau malah sebaliknya, aku tak kan pernah bisa tenang di tempat kerja, karena sepanjang hari selalu terbayang-bayang wajah mungil anakku. Ah…semoga ada mukjizat menghampiri.

Beberapa detik kemudian ponselku berbunyi, nomor asing yang membuyarkan lamunanku. Sesaat aku berbicara dengan seseorang di sana. Seketika itu juga aku menitikkan air mata. Inikah jawaban dari gundahku selama ini. Inikah titik terang dan keputusan yang kan mengubah hidupku. Inikah petunjuk dari yang kuasa atas semua pertanyaanku.

Naskahku diterima sebuah penerbit terkenal. Naskahku akan segera menjadi buku. Takdirku mengatakan aku harus menjadi seorang penulis. Senyum mengembang di wajahku. Ternyata Tuhan tidak membiarkanku meninggalkan putri tercintaku hanya untuk mencari sesuap nasi. Aku bisa bekerja dari rumah sambil menemani putriku.

Hari ini aku batal bekerja di kantor baru, dan akan mendatangi penerbit yang menerima naskahku, sambil membawa putriku.
Enhanced by Zemanta

Tuesday, 13 July 2010

Sepasang Kekasih

CoupleImage by wili_hybrid via Flickr

Kemarin kulihat kau duduk sendiri,
termenung di atas bangku panjang yg sudah usang
Lalu kau panjatkan doa akan cinta sejati,
berharap segera datang pangeran pelipur lara

Hari ini kulihat kau sedang berseda gurau,
bersama pacar terkasih yang baik hati
Bercengkerama seakan tiada lagi galau,
Saling melengkapi semua pasti bisa teratasi

Enhanced by Zemanta

Thursday, 8 July 2010

Cahaya rembulan

MoonImage via Wikipedia

Rembulan...
Aku rindu cahaya remangmu saat aku terbuai dalam gendongan ibuku di malam hari, sambil mendendangkan lagu yang bisa meninabobokanku. Aku ditimang saat beliau berjalan pelan di teras halaman rumahku. Ditemani suara jangkrik dan kodok yang bersahutan, aku menengadah menatap langit. Begitu syahdunya... begitu hangat dan lembut pancaran sinarmu. Tak pernah kulupakan hingga akhir hayatku moment itu...
Enhanced by Zemanta

Monday, 28 June 2010

Beri Aku Waktu

Cold War ClockImage by ckaiserca via Flickr

Waktu semakin mendekat
Menuju hari esok yang penuh penat
Aku terdiam seolah terjebak
Oleh kekalutan yang meraja dalam benak

Tolong hentikan waktu untuk sesaat
Kumohon dengan penuh harap
Beri aku waktu untuk meralat
Kesalahan yang sangat engkau laknat


Enhanced by Zemanta

Sunday, 27 June 2010

Senjata Makan Tuan

Meja Bangku BaruImage by solidaritas KEBERSAMAAN via Flickr

Namaku Tina. Aku hanyalah seorang gadis belia berusia 9 tahun. Saat ini duduk di sekolah dasar kelas 3. Teman-temanku banyak, aku tak tahu apa yang membuat mereka suka padaku, padahal aku seorang yang pendiam dan tak suka beramah tamah. Walaupun demikian aku tak ambil pusing ketika setiap pagi mereka selalu berebut menyalin jawaban PR ku sebelum lonceng tanda masuk berbunyi. Begitulah yang mereka lakukan setiap pagi. Tak jarang juga mereka selalu mendatangiku malam sebelum ujian berlangsung, untuk belajar bersama denganku, begitu alasan mereka.


Aku seorang gadis biasa yang tidak begitu cantik dan belum akil baliq, jadi belum mengenal apa arti cinta. Teman-teman selalu menjodohkanku dengan teman lelaki. Hari ini dengan si Bram, besok dengan si Rizki, begitu seterusnya. Apa maksud mereka, ah aku tak begitu peduli. Yang kutahu setiap hari aku harus belajar dan belajar. Membaca memang hobiku, dan belajar adalah kewajibanku. Setiap jam istirahat berlangsung, mereka sering mentraktirku. Makanan apa saja yang aku inginkan, mereka bersedia bayar. Ah, aku yang berasal dari keluarga bersahaja tak menolak jajanan apa yang mereka suguhkan padaku. Maklum, aku jarang makan enak di rumah. Ayah bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu berjualan kue sehari-harinya untuk menyambung hidup.


Suatu ketika, aku kebagian piket pagi membersihkan kelas. Sekolah masih sepi saat aku memasuki kelas. Sebelum mengambil sapu seperti biasa aku meletakkan tas terlebih dulu ke dalam laci di bawah mejaku. Namun saat aku memasukkan tanganku, ada cairan lengket mengotori tas dan jemariku.


“Aaaaaaaaarrrgggg….!!!” Spontan aku berteriak. Rupanya cairan itu berasal dari plastik hitam yang disembunyikan di bawah mejaku. Setelah kurogoh plastik itu dan kubuka, bulu kudukku langsung berdiri. Sekumpulan cacing tanah yang saling melilit satu sama lain berjalan merambat. Kulihat lendir menetes melewati jemariku. Secepat kilat langsung kulempar jauh-jauh bungkusan itu ke halaman sekolah.


Siapa yang tega berbuat ini padaku? adakah seseorang yang membenciku hingga ingin membuatku ketakutan setengah mati. Untung tak ada seorangpun yang mendengar teriakanku, jika tidak aku bisa malu. Kalaupun ada yang tahu pasti orang itulah pelakunya dan secara diam-diam memperhatikanku dari kejauhan.


Bel masuk kelas telah berbunyi. Akupun bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Baru berjalan sekitar 15 menit ketika pak guru menerangkan di kelas, tiba-tiba Rina yang duduk di sebelahku berteriak. Ada seekor cacing tanah mirip seperti yang kutemukan tadi pagi sedang melilit di sepatu Rina, ia pun pingsan. Pak guru langsung menghampiri bangku kami. Semua mata tertuju pada tubuh Rina yang lunglai dan bersandar lemas di pundakku.


“Siapa yang menaruh cacing di sepatu Rina?” Tanya pak guru pada semua murid di kelas ini. Semuanya diam tak ada yang angkat bicara.


“Apa kau tahu darimana binatang ini berasal Tina?” Tanya pak guru sambil memicingkan mata ke arahku. Kacamatanya yang sedikit melorot dan sorot matanya yang tajam membuatku gemetaran.


“Tidak pak… mungkin… mungkin…” tiba-tiba saja kalimatku jadi terbata-bata. Antara takut menghadapi pak guru dan juga takut dengan kemunculan cacing tanah itu, pikiranku jadi tidak karuan.


“Saya tahu pak! Tina pelakunya!” teriak seseorang dari bangku belakang. Jantungku semakin berdegup kencang. Siapa yang berani menuduhku?! Aku langsung mengangkat muka. Kami semua menoleh ke arahnya. Jasmine , murid tercantik di kelas ini, sedang angkat bicara. Ia telah menuduh akulah pelakunya.


“Tadi pagi saya melihatnya membuang sesuatu keluar kelas. Ketika saya periksa ternyata ia membuang sebuah bungkusan dalam plastik hitam berisi cacing tanah,” sambungnya sambil menuding ke arahku.

“Benar semua itu Tina?” Tanya pak guru sekali lagi sambil memicingkan mata ke arahku. Kacamatanya yang semakin melorot membuatku semakin tidak bisa berucap, cahaya yang memantul dari kacamatanya membuat mataku silau.


“Sa… sa… saya memang membuang bungkusan berisi cacing itu pak, tapi bukan saya yang membawanya masuk ke dalam kelas ini,” jawabku membela diri.


“Bohong! Lalu mengapa kamu datang pagi-pagi sekali hari ini?! Ini semua bagian dari rencanamu kan? Supaya tidak ada yang tahu bahwa kamu pelakunya!” bentak Jasmine di depan teman-teman sekelas.


“Huuuu….!” Teman-teman menyoraki perkataan Jasmine. Sementara itu Rina segera dibawa ke ruang UKS oleh teman-teman, sedangkan aku dihukum berdiri di depan kelas sampai bel pulang sekolah berbunyi. Selama terpaku di depan kelas, aku hanya bisa menangis dan menundukkan kepala.


Keesokan harinya, aku berjalan tertunduk memasuki kelas. Masih teringat dengan kejadian kemarin, ditambah dengan rasa malu akibat tuduhan Jasmine yang dilemparkan padaku. Tanpa sepatah katapun aku berusaha menghadapi hari itu di sekolah dengan penuh ketegaran.


“Anak-anak, teman kalian Jasmine hari ini tidak masuk karena sedang sakit. Siapa yang akan menjenguk sepulang sekolah nanti?” kata pak guru di depan semua murid. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba Jasmine jatuh sakit. Walaupun dalam hati aku menyimpan rasa marah terhadapnya, namun aku juga penasaran dengan sakit yang dideritanya.


“Kau baik-baik saja Tina?” tanya Rina yang sedari tadi memperhatikan sikapku.

“Ah Rin… seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau sudah baikan setelah pingsan kemarin? Percayalah bukan aku pelakunya…” jelasku pada Rina teman sebangkuku, tatkala ia memandangi wajahku.


“Aku percaya bukan kau pelakunya Tin… kau tahu tidak Jasmine sekarang sedang sakit apa?” tanya Rina padaku.

“Tentu saja tidak… bukannya dia kemarin terlihat baik-baik saja?” tanyaku balik padanya.


“Iya… tapi kabar yang kudengar, tadi pagi Jasmine muntah, dan dalam muntahannya ditemukan cacing. Setelah diperiksakan ke dokter rupanya Jasmine terkena cacingan,” jawab Rina dengan muka serius sambil memicingkan matanya padaku.


“Apa?!” tanyaku tidak percaya.

“Jadi semua pasti tahu pelakunya adalah Jasmine sendiri. Mungkin ia iri dengan segala keberhasilanmu di kelas ini Tin, sampai ia tega menuduhmu.”


Aku hanya bisa menarik nafas dan menggeleng-gelengkan kepala mendengar berita itu. Rupanya senjata sudah makan tuan. Siapa menanam, dia pula yang akan menuai hasilnya.
Enhanced by Zemanta

Thursday, 24 June 2010

Babak baru

perjalanan baru dimulaiImage by Riky Kurniawan via Flickr

Saat kesempatan emas itu tiba, aku lupa belum mempersiapkan segalanya. Bekalku belum cukup untuk menerobos masuk pintu perbatasan yang menghubungkanku dengan masa depan yang selama ini kuimpikan. Bodoh benar aku, pikirku menyesali diri.

Segera kumembalikkan badan dan lari pulang menuju rumah. Masih cukupkah waktu tersisa untuk memiliki kesempatan yang tak kan datang untuk kedua kali. Segera otakku bekerja secepat yang kumampu, namun sia-sia. Pintu itu sudah tertutup untuk selamanya.

Air mata ini meleleh berjatuhan. Dada ini sesak menahan kesedihan. Lalu aku mencoba berputar haluan. Kujelajahi hutan rimba yang belum pernah kulewati sebelumnya. Dari jauh nampak seberkas sinar terang yang menggoda hatiku untuk mendekatinya.

Perjalanan babak baruku dumulai. Semangatku tumbuh walau dengan arah yang berbeda. Tetap semangat...!
Enhanced by Zemanta

Friday, 11 June 2010

Cukup sampai di sini

Kukira raga ini cukup kuat
Kukira tubuh ini cukup mampu
Walau tekad dan semangatku membaja
Tetap tak sepadan dengan kemampuan fisikku
Raga ini roboh saat tekad bajaku bersikeras menerjang
Ternyata hanya sampai di sini
Cukup sampai di sini