Monday, 26 July 2010
Connect facebook
Aku kurang paham dengan hal seperti ini, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah pasrah. Adakah teman-teman yang bisa membantuku mengaktifkan tombol connect facebook dalam blogku ini. Mubadzir kalau tidak bisa digunakan...
Saturday, 24 July 2010
Kembalinya kotak komentarku
Hampir putus asa aku mencoba berbagai cara dengan mengikuti saran-saran yang tersedia gratis di mbah google, aku selalu gagal menyelamatkan template blog yang kusuka. Berulang-ulang aku mencoba ganti template agar kotak komentarku kembali seperti semula, namun hasilnya selalu nihil.
Alhamdulillah, aku menemukan cara yang lain dari biasanya. Aku menemukan cara ini dari salah satu blog yang kutemukan di mbah google juga, yaitu dengan memakai fasilitas intensedebate. Sejauh ini masih belum kutemukan kekurangannya, semoga saja tidak ada.
Kini para sobat yang telah membaca tulisanku, baik yang memiliki alamat blog maupun yang tidak, bisa meninggalkan komentar. Ditunggu komentarnya ya sobat... welcome back.
Tuesday, 20 July 2010
Suara Hati (repost )
Oh Tuhan, siapa yang ‘kan mencintai dan memujaku jika kulit di dahi ini sudah menampakkan kerut-kerut yang menakutkan. Siapa yang ‘kan meneriakkan dan mengelu-elukan namaku di lubuk sanubari jika rambut putih mulai menguasai kulit kepala ini.
“Siapa kamu? Mengapa kau sangat mirip denganku?” tanyaku pada sesosok bayangan di dalam cermin, lalu bayangan itu menatapku.
“Aku adalah dirimu dua puluh tahun mendatang. Lihatlah aku dengan seksama,” jawab bayangan itu dengan senyuman. Rambutnya putih beruban, sedang kulit mukanya keriput. Mirip denganku, hanya wajahnya kelihatan sedih dan lesu. “Apa yang sedang kaurisaukan?” tanya bayangan itu.
Sejenak kukesampingkan, segala yang mencegahku bersuka cita. Hanya diam dan mencegah rasa ini keluar dari hati yang beku, yang ‘kan akibatkan hati di luar sana bergejolak tak tentram. Jikalau tidak, ia akan menerbangkan gelas kaca hingga hancur lebur di tempat kaki ini berpijak. Hingga pada saat aku melewati keping-keping kaca itu, pikiran yang lalai mengijinkan serpihannya menyobek mata kakiku dan mengucurlah tetesan darah bekuku.
“Aku ingin dicintai sepenuh hati,” jawabku dengan berlinang air mata.
Selalu terulang dan terulang lagi datangnya rasa seperti saat sedang terancam dan dipaksa melakukan sesuatu sedangkan kita tak mau. Ingin rasanya mengemas diri ini menjadi seorang putri yang cantik jelita, hingga semua orang memperlakukanku bagai gelas-gelas kaca. Selalu disayang dan diberi perhatian penuh serta dimanja. Dijaga luar dalam agar tak retak hatinya, dan agar selalu tampak indah luarnya.
“Kalau begitu mulailah dengan mencintai terlebih dulu,” jawab bayangan di cermin itu. Kemudian ia tersenyum dan melanjutkan,”Apabila karena perkataan atau perbuatan yang berasal dari dirimu menyebabkan gelas kaca terbang dan jatuh luluh lantah jadi berkeping-keping, maka tutuplah kupingmu agar tak pecah gendang telingamu, namun jangan kau tutup mata hatimu, karena dengan menutup mata hati sama saja dengan membunuh dirimu sendiri.”
“Aku juga ingin dinomersatukan,” timpalku dengan nada protes.
Sakit yang tertahan hanyalah sekelumit sakit biasa dibanding sikap acuh yang dipamerkan dan sikap menganggapku hanyalah sekedar bayangan yang melintasi hari-harinya.
Lalu bayangan itu kembali tersenyum dan berkata, “Jikalau saat ini kau sedang berada di bawah, maka bersabarlah. Karena roda dunia ini berputar dan tunggulah hingga saatnya tiba, kau berada di atas segala kepentingan yang saat ini sedang memaksamu untuk menunggu.”
Akupun semakin keras menangis, “Mengapa aku harus menunggu? Aku sudah lama menunggu!”
“Jikalau kau tidak menuruti perkataanku ini, maka lihatlah dirimu dua puluh tahun mendatang akan tetap berwajah kusut dan tak bahagia seperti diriku. Lihatlah dirimu sendiri di hadapanmu kali ini. Aku pun tak pernah dapat merasa bahagia jika dirimu tidak bahagia. Maka tolonglah aku, ubahlah dirimu agar menjadi bahagia, saat ini juga…”
Monday, 19 July 2010
Menjelang pagi
Image by faalifyazai via Flickr
Ku tak mau malam ini berakhir
Ku tak rela malam ini berganti pagi
Ku sangat menikmati sunyi dan sepi
Berkelana menjelang saat bermimpi
Dalam tenang aku berimajinasi
Membayangkan yang belum terjadi
Sampai aku lupa diri
Antara nyata dan ilusi
Enggan berhadapan dengan esok hari
Yang penuh rutinitas tiada henti
Lalu aku menghibur diri
Dengan secangkir hangat kopi
Hidup harus dijalani
Sebelum berhadapan dengan mati
Semua pasti bisa teratasi
Asal berusaha tiada henti
Catatan kecil
Namun aku tidak suka baca, aku hanya suka menulis dan mengungkapkan segala rasa dalam tulisan. Aku cepat bosan dan mengantuk saat membaca karya orang lain, apalagi tulisan yang bahasanya sulit untuk dicerna dan butuh konsentrasi tinggi untuk bisa dimengerti. Salahkah aku…
Kedengarannya seperti egois, hanya mementingkan diri sendiri. Seolah hanya mau mengumbar rasa namun pelit untuk mencicip rasa milik orang lain. Seolah hanya mau mengkritik namun tak mau menerima kritik. Mungkin seperti itulah keadaan bathinku saat ini.
Hingga tiba saatnya ide ini berhenti mengalir. Otak ini serasa macet. Lalu lintasnya padat, tak satupun yang mau bergerak. Tak ada satupun yang bisa kuceritakan walau ada segudang rasa yang menumpuk dalam benak ini. Aku kehabisan kata-kata. Seolah ada yang mencuri semua perbendaharaan kosakataku.
Tolooong… serasa ingin meluap namun tak ada jalan keluar, semuanya buntu dan pintu tertutup. Segera kuambil sebuah novel karya seorang penulis terkenal yang tergeletak di atas meja. Baru satu halaman yang kubaca, tiba-tiba terbentuk satu topik yang siap kuurai agar tak jadi benang kusut lagi.
Dilema yang terjawab
Kucoba sekuat tenaga memaksakan hati dan raga ini untuk mulai bergerak. Persendian ini masih kaku dan bathin ini serasa ingin berontak. “Toloooong….hilangkan semua rasa yang membebani ini. Sudah waktunya mencari sesuap nasi,” teriakku dalam hati.
Hari ini adalah hari pertama aku mulai masuk kerja di sebuah perusahaan swasta di kota yang sangat panas ini. Kota yang penuh dengan polusi dan ketatnya persaingan untuk mencari sesuap nasi, juga kota yang penuh dengan hangar bingar kehidupan malam yang tak pernah sepi.
Sebelum beranjak keluar dari kamar peraduan tempatku menyembunyikan semua kesedihan untuk menghadapi hari ini, aku menoleh sejenak walau dengan hati menjerit tertahan pada wajah mungil buah hatiku tercinta, alasan utama aku mempertaruhkan segalanya yang kupunya.
Buah hatiku yang masih terlalu kecil untuk kutinggal mencari sesuap nasi. Semoga ada jalan terbaik sebelum aku benar-benar betah di kantor hingga melupakan semua keceriaan dan kelucuan putriku. Atau malah sebaliknya, aku tak kan pernah bisa tenang di tempat kerja, karena sepanjang hari selalu terbayang-bayang wajah mungil anakku. Ah…semoga ada mukjizat menghampiri.
Beberapa detik kemudian ponselku berbunyi, nomor asing yang membuyarkan lamunanku. Sesaat aku berbicara dengan seseorang di sana. Seketika itu juga aku menitikkan air mata. Inikah jawaban dari gundahku selama ini. Inikah titik terang dan keputusan yang kan mengubah hidupku. Inikah petunjuk dari yang kuasa atas semua pertanyaanku.
Naskahku diterima sebuah penerbit terkenal. Naskahku akan segera menjadi buku. Takdirku mengatakan aku harus menjadi seorang penulis. Senyum mengembang di wajahku. Ternyata Tuhan tidak membiarkanku meninggalkan putri tercintaku hanya untuk mencari sesuap nasi. Aku bisa bekerja dari rumah sambil menemani putriku.
Hari ini aku batal bekerja di kantor baru, dan akan mendatangi penerbit yang menerima naskahku, sambil membawa putriku.
Tuesday, 13 July 2010
Sepasang Kekasih
Image by wili_hybrid via Flickr
termenung di atas bangku panjang yg sudah usang
Lalu kau panjatkan doa akan cinta sejati,
berharap segera datang pangeran pelipur lara
Hari ini kulihat kau sedang berseda gurau,
bersama pacar terkasih yang baik hati
Bercengkerama seakan tiada lagi galau,
Saling melengkapi semua pasti bisa teratasi
Thursday, 8 July 2010
Cahaya rembulan
Image via Wikipedia
Aku rindu cahaya remangmu saat aku terbuai dalam gendongan ibuku di malam hari, sambil mendendangkan lagu yang bisa meninabobokanku. Aku ditimang saat beliau berjalan pelan di teras halaman rumahku. Ditemani suara jangkrik dan kodok yang bersahutan, aku menengadah menatap langit. Begitu syahdunya... begitu hangat dan lembut pancaran sinarmu. Tak pernah kulupakan hingga akhir hayatku moment itu...
Monday, 28 June 2010
Beri Aku Waktu
Image by ckaiserca via Flickr
Menuju hari esok yang penuh penat
Aku terdiam seolah terjebak
Oleh kekalutan yang meraja dalam benak
Tolong hentikan waktu untuk sesaat
Kumohon dengan penuh harap
Beri aku waktu untuk meralat
Kesalahan yang sangat engkau laknat
Sunday, 27 June 2010
Senjata Makan Tuan
Image by solidaritas KEBERSAMAAN via Flickr
Namaku Tina. Aku hanyalah seorang gadis belia berusia 9 tahun. Saat ini duduk di sekolah dasar kelas 3. Teman-temanku banyak, aku tak tahu apa yang membuat mereka suka padaku, padahal aku seorang yang pendiam dan tak suka beramah tamah. Walaupun demikian aku tak ambil pusing ketika setiap pagi mereka selalu berebut menyalin jawaban PR ku sebelum lonceng tanda masuk berbunyi. Begitulah yang mereka lakukan setiap pagi. Tak jarang juga mereka selalu mendatangiku malam sebelum ujian berlangsung, untuk belajar bersama denganku, begitu alasan mereka.
Aku seorang gadis biasa yang tidak begitu cantik dan belum akil baliq, jadi belum mengenal apa arti cinta. Teman-teman selalu menjodohkanku dengan teman lelaki. Hari ini dengan si Bram, besok dengan si Rizki, begitu seterusnya. Apa maksud mereka, ah aku tak begitu peduli. Yang kutahu setiap hari aku harus belajar dan belajar. Membaca memang hobiku, dan belajar adalah kewajibanku. Setiap jam istirahat berlangsung, mereka sering mentraktirku. Makanan apa saja yang aku inginkan, mereka bersedia bayar. Ah, aku yang berasal dari keluarga bersahaja tak menolak jajanan apa yang mereka suguhkan padaku. Maklum, aku jarang makan enak di rumah. Ayah bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu berjualan kue sehari-harinya untuk menyambung hidup.
Suatu ketika, aku kebagian piket pagi membersihkan kelas. Sekolah masih sepi saat aku memasuki kelas. Sebelum mengambil sapu seperti biasa aku meletakkan tas terlebih dulu ke dalam laci di bawah mejaku. Namun saat aku memasukkan tanganku, ada cairan lengket mengotori tas dan jemariku.
“Aaaaaaaaarrrgggg….!!!” Spontan aku berteriak. Rupanya cairan itu berasal dari plastik hitam yang disembunyikan di bawah mejaku. Setelah kurogoh plastik itu dan kubuka, bulu kudukku langsung berdiri. Sekumpulan cacing tanah yang saling melilit satu sama lain berjalan merambat. Kulihat lendir menetes melewati jemariku. Secepat kilat langsung kulempar jauh-jauh bungkusan itu ke halaman sekolah.
Siapa yang tega berbuat ini padaku? adakah seseorang yang membenciku hingga ingin membuatku ketakutan setengah mati. Untung tak ada seorangpun yang mendengar teriakanku, jika tidak aku bisa malu. Kalaupun ada yang tahu pasti orang itulah pelakunya dan secara diam-diam memperhatikanku dari kejauhan.
Bel masuk kelas telah berbunyi. Akupun bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Baru berjalan sekitar 15 menit ketika pak guru menerangkan di kelas, tiba-tiba Rina yang duduk di sebelahku berteriak.
“Siapa yang menaruh cacing di sepatu Rina?” Tanya pak guru pada semua murid di kelas ini. Semuanya diam tak ada yang angkat bicara.
“Apa kau tahu darimana binatang ini berasal Tina?” Tanya pak guru sambil memicingkan mata ke arahku. Kacamatanya yang sedikit melorot dan sorot matanya yang tajam membuatku gemetaran.
“Tidak pak… mungkin… mungkin…” tiba-tiba saja kalimatku jadi terbata-bata. Antara takut menghadapi pak guru dan juga takut dengan kemunculan cacing tanah itu, pikiranku jadi tidak karuan.
“Saya tahu pak! Tina pelakunya!” teriak seseorang dari bangku belakang. Jantungku semakin berdegup kencang. Siapa yang berani menuduhku?! Aku langsung mengangkat muka. Kami semua menoleh ke arahnya. Jasmine , murid tercantik di kelas ini, sedang angkat bicara. Ia telah menuduh akulah pelakunya.
“Tadi pagi saya melihatnya membuang sesuatu keluar kelas. Ketika saya periksa ternyata ia membuang sebuah bungkusan dalam plastik hitam berisi cacing tanah,” sambungnya sambil menuding ke arahku.
“Benar semua itu Tina?” Tanya pak guru sekali lagi sambil memicingkan mata ke arahku. Kacamatanya yang semakin melorot membuatku semakin tidak bisa berucap, cahaya yang memantul dari kacamatanya membuat mataku silau.
“Sa… sa… saya memang membuang bungkusan berisi cacing itu pak, tapi bukan saya yang membawanya masuk ke dalam kelas ini,” jawabku membela diri.
“Bohong! Lalu mengapa kamu datang pagi-pagi sekali hari ini?! Ini semua bagian dari rencanamu
“Huuuu….!” Teman-teman menyoraki perkataan Jasmine. Sementara itu Rina segera dibawa ke ruang UKS oleh teman-teman, sedangkan aku dihukum berdiri di depan kelas sampai bel pulang sekolah berbunyi. Selama terpaku di depan kelas, aku hanya bisa menangis dan menundukkan kepala.
Keesokan harinya, aku berjalan tertunduk memasuki kelas. Masih teringat dengan kejadian kemarin, ditambah dengan rasa malu akibat tuduhan Jasmine yang dilemparkan padaku. Tanpa sepatah katapun aku berusaha menghadapi hari itu di sekolah dengan penuh ketegaran.
“Anak-anak, teman kalian Jasmine hari ini tidak masuk karena sedang sakit. Siapa yang akan menjenguk sepulang sekolah nanti?” kata pak guru di depan semua murid. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba Jasmine jatuh sakit. Walaupun dalam hati aku menyimpan rasa marah terhadapnya, namun aku juga penasaran dengan sakit yang dideritanya.
“Kau baik-baik saja Tina?” tanya Rina yang sedari tadi memperhatikan sikapku.
“Ah Rin… seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau sudah baikan setelah pingsan kemarin? Percayalah bukan aku pelakunya…” jelasku pada Rina teman sebangkuku, tatkala ia memandangi wajahku.
“Aku percaya bukan kau pelakunya Tin… kau tahu tidak Jasmine sekarang sedang sakit apa?” tanya Rina padaku.
“Tentu saja tidak… bukannya dia kemarin terlihat baik-baik saja?” tanyaku balik padanya.
“Iya… tapi kabar yang kudengar, tadi pagi Jasmine muntah, dan dalam muntahannya ditemukan cacing. Setelah diperiksakan ke dokter rupanya Jasmine terkena cacingan,” jawab Rina dengan muka serius sambil memicingkan matanya padaku.
“Apa?!” tanyaku tidak percaya.
“Jadi semua pasti tahu pelakunya adalah Jasmine sendiri. Mungkin ia iri dengan segala keberhasilanmu di kelas ini Tin, sampai ia tega menuduhmu.”
Thursday, 24 June 2010
Babak baru
Image by Riky Kurniawan via Flickr
Segera kumembalikkan badan dan lari pulang menuju rumah. Masih cukupkah waktu tersisa untuk memiliki kesempatan yang tak kan datang untuk kedua kali. Segera otakku bekerja secepat yang kumampu, namun sia-sia. Pintu itu sudah tertutup untuk selamanya.
Air mata ini meleleh berjatuhan. Dada ini sesak menahan kesedihan. Lalu aku mencoba berputar haluan. Kujelajahi hutan rimba yang belum pernah kulewati sebelumnya. Dari jauh nampak seberkas sinar terang yang menggoda hatiku untuk mendekatinya.
Perjalanan babak baruku dumulai. Semangatku tumbuh walau dengan arah yang berbeda. Tetap semangat...!
Friday, 11 June 2010
Cukup sampai di sini
Kukira tubuh ini cukup mampu
Walau tekad dan semangatku membaja
Tetap tak sepadan dengan kemampuan fisikku
Raga ini roboh saat tekad bajaku bersikeras menerjang
Ternyata hanya sampai di sini
Cukup sampai di sini
Wednesday, 28 April 2010
Sebuah Pelepasan
Sebuah pelepasan dari permainan tarik ulur yang diciptakan olehku
Sebuah pelepasan dari penutup mata yang hitam pekat dan wajib kau pakaikan pada kedua matamu
Sebuah pelepasan dari tuntunan dan tuntutan olehku
Sebuah pelepasan dari larangan dan perintah untukmu
Sebuah pelepasan dari carut marutnya pikiranku dan campur tanganku
Sebuah pelepasan dari kode etik yang kuciptakan untukmu
Sebuah pelepasan dari rantai berat di kedua kakimu, yang selalu kusimpan mata kuncinya di bawah bantalku
Sebuah pelepasan dari mata-mata hati dan pikiranku
Sebuah pelepasan dari bendungan yang kuciptakan untuk derasnya mata airmu
Sebuah pelepasan dari mimpi buruk yang selalu bergentayangan di alam sadarku
Sebuah pelepasan dari perkataan jangan dan tidak untukmu
Sunday, 25 April 2010
Angkuh
Image by abacus via Flickr
“Apa sudah jadi gaun saya?!” tanya Tasya dengan ketus saat baru saja tiba di butik yang dipercaya olehnya untuk membuat kostum panggung.
“Sudah non, ini silahkan dicoba,” jawab ibu pemilik butik sambil menyodorkan gaun merah menyala dengan bagian atasan berwarna hitam.
Tampak Tasya membolak balik gaun itu lalu cemberut, “Kok begini jadinya? Warnanya ga senada banget!
Ibu itu tampak terkejut dengan respon Tasya, “Bukannya nona sendiri yang minta saya menambahkan kain warna hitam di atasnya?”
“Iya, tapi seharusnya kalau jadinya begini ibu telepon saya dulu ngasih tahu kalau ternyata warnanya ga senada! Masak nurut aja apa yang saya omong tanpa ngasih pendapat sedikitpun!” Tasya tidak terima dengan pembelaan diri si ibu.
Ibu itu diam saja, melihat respon yang diam saja amarah Tasya semakin menjadi-jadi. Sambil menunjuk-nunjuk muka si ibu, Tasya berteriak menggurui, “Sebagai pemilik butik seharusnya punya jiwa seni, pakai dong bu kemampuan ibu!”
Ibu itupun tak tahan dengan perlakuan Tasya dan melelehlah air mata dari kedua matanya yang sudah sedikit keriput.
Malam sebelum pertunjukan, Tasya tidak dapat tidur nyenyak, gaun yang akan ia pakai besok malam tidak sesuai dengan harapannya. Mau tidak mau ia harus memakainya, mengingat sudah banyak biaya yang ia keluarkan untuk membuat kostum itu.
Saat yang telah dinanti banyak orang itupun telah tiba. Kini Tasya berjalan memasuki podium sambil mengumbar senyum yang dipaksakan terhadap penonton. Sorak sorai penggemarnya telah membuat nyalinya semakin ciut. Akankah penampilannya kali ini memuaskan mereka, sedang jantungnya berdegup kencang karena ia merasa ada yang tidak beres dengan persiapan pihak penyelenggara.
Benar saja firasatnya, di tengah-tengah lagu yang sedang dibawakannya, tiba-tiba mikrofonnya mati. Jantung Tasya berdegup kencang. Keringat dingin bercucuran dari keningnya. Ia pun panik dan bersumpah dalam hati akan menuntut pihak panitia. Saat itu juga nafasnya seolah terhenti. Tak percaya dengan apa yang sedang menimpa dirinya, Tasya pun jatuh pingsan.
Tuesday, 20 April 2010
Berusaha terjaga
Image by striking_photography via Flickr
Secepatnya kutepis semua kekhawatiran ini dengan mengambil sikap duduk tenang di atas sajadah, dan kubersujud...
Thursday, 8 April 2010
Angkuh
Image by Josie*~*Anderton via Flickr
“Apa sudah jadi gaun saya?!” tanya Tasya dengan ketus saat baru saja tiba di butik yang dipercaya olehnya untuk membuat kostum panggung.
“Sudah non, ini silahkan dicoba,” jawab ibu pemilik butik sambil menyodorkan gaun merah menyala dengan bagian atasan berwarna hitam.
Tampak Tasya membolak balik gaun itu lalu cemberut, “Kok begini jadinya? Warnanya ga senada banget!
Ibu itu tampak terkejut dengan respon Tasya, “Bukannya nona sendiri yang minta saya menambahkan kain warna hitam di atasnya?”
“Iya, tapi seharusnya kalau jadinya begini ibu telepon saya dulu ngasih tahu kalau ternyata warnanya ga senada! Masak nurut aja apa yang saya omong tanpa ngasih pendapat sedikitpun!” Tasya tidak terima dengan pembelaan diri si ibu.
Ibu itu diam saja, melihat respon yang diam saja amarah Tasya semakin menjadi-jadi. Sambil menunjuk-nunjuk muka si ibu, Tasya berteriak menggurui, “Sebagai pemilik butik seharusnya punya jiwa seni, pakai dong bu kemampuan ibu!”
Ibu itupun tak tahan dengan perlakuan Tasya dan melelehlah air mata dari kedua matanya yang sudah sedikit keriput.
Malam sebelum pertunjukan, Tasya tidak dapat tidur nyenyak, gaun yang akan ia pakai besok malam tidak sesuai dengan harapannya. Mau tidak mau ia harus memakainya, mengingat sudah banyak biaya yang ia keluarkan untuk membuat kostum itu.
Saat yang telah dinanti banyak orang itupun telah tiba. Kini Tasya berjalan memasuki podium sambil mengumbar senyum yang dipaksakan terhadap penonton. Sorak sorai penggemarnya telah membuat nyalinya semakin ciut. Akankah penampilannya kali ini memuaskan mereka, sedang jantungnya berdegup kencang karena ia merasa ada yang tidak beres dengan persiapan pihak penyelenggara.
Benar saja firasatnya, di tengah-tengah lagu yang sedang dibawakannya, tiba-tiba mikrofonnya mati. Jantung Tasya berdegup kencang. Keringat dingin bercucuran dari keningnya. Ia pun panik dan bersumpah dalam hati akan menuntut pihak panitia. Saat itu juga nafasnya seolah terhenti. Tak percaya dengan apa yang sedang menimpa dirinya, Tasya pun jatuh pingsan.
Gemerlap dunia
Image via Wikipedia
Segera ia menelpon Bram, teman kencan Intan yang biasa mengantarnya kemana saja ke tempat yang Intan suka. Bram seorang pegawai swasta lumayan tajir, yang baru bekerja selama 1 tahun. Sebenarnya bukan Bram sendiri yang bisa dikatakan tajir, kekayaan orang tua Bram lah yang selama ini digunakan untuk memfasilitasi segala keperluannya, terutama dalam urusan cewek.
“Bram, jemput aku pake mobil ya? Hujan deras nich ,” pinta Intan dengan manja. Sesaat kemudian Intan bergegas mengganti pakaian, dan tak kurang dari 30 menit mobil Bram sudah membunyikan klakson begitu tiba di depan rumahnya.
“Uh… kenapa cepat sekali sich sampainya, aku kan belum siap nich…” keluh Intan seraya mempersilahkan Bram masuk ke dalam rumahnya.
“Tenang sayang, aku tidak terburu-buru kok. Santai saja…” jawab Bram sambil tersenyum genit.
Buru-buru Intan ngeloyor masuk ke dalam kamar membenahi riasannya yang belum kelar. “Braaam…! Aku pake gaun warna hitam pantas tidak ya…?” teriak Intan sambil mendongakkan kepalanya keluar dari pintu kamar.
“Kamu pake warna apa aja pantas kok sayang,” jawab Bram sambil melongok kearah jam tangannya. Sudah setengah jam Intan menghabiskan waktunya di dalam kamar, Bram seolah sudah tidak sabar untuk segera menghadiri pesta ulang tahun Inge, anak seorang pengusaha kaya.
Sesampai di hotel mewah tempat digelarnya pesta Inge, Bram sangat takjub dengan kemewahan pesta yang digelar di sana. “Kenalkan, ini Bram, cowokku,” kata Intan saat mengenalkan Bram pada Inge.
Inge yang saat itu mengenakan gaun purple, tampak sangat cantik dan elegan dengan dekorasi kolam renang yang bernuansa gold.
Dari pandangan pertama, Bram sudah jatuh hati pada Inge. Tidak hanya pada penampilan Inge yang malam itu tampak cantik di mata Bram, namun ia juga jatuh hati terhadap kekayaan yang dimiliki keluarga Inge.
Gayungpun bersambut, Inge menerima Bram menjadi cowoknya. Tampang Bram memang ganteng, hingga mampu melumerkan hati Inge. Namun apalah arti seorang Intan yang hanya seorang gadis yang berasal dari keluarga biasa. Memiliki cewek yang orang tuanya setajir Inge adalah incaran Bram dari dulu.
“Apa kamu benar-benar mencintaiku Bram?” tanya Inge di suatu malam saat mereka berdua asyik dalam suasana sendu, di bawah temaram cahaya bulan purnama.
“Iya sayang, aku sangat mencintaimu,” jawan Bram dengan penuh kemesraan.
“Mengapa kau tidak segera melamarku?” sambung Inge dengan penuh antusias.
Sesaat Bram terdiam, lalu menghembuskan nafas sambil memeluk Inge erat, “Ya sayang… mungkin sudah saatnya.”
Tiga bulan kemudian, pesta pernikahan digelar di kediaman orang tua Inge. Sudah bisa diprediksi, banyak tamu undangan yang hadir. Sebagian dari kerabat dan teman kerja ayah Inge, sebagian lagi berasal dari kerabat dan teman kerja ayah Bram. Tamu undangan yang hadir tumpah ruah dalam pesta mewah yang menghabiskan biaya sangat besar.
Setahun kemudian, mereka sudah menimang bayi. Kebahagiaan berturut-turut datang pada keluarga mereka. Sampai suatu ketika, ayah Inge harus masuk ke dalam bui karena kasus penggelapan dana.
Seketika itu juga keluarga Inge bangkrut. Tidak lama kemudian keluarga Bram juga terkena imbasnya. Kasus penggelapan dana itu ternyata juga menyeret usaha milik ayah Bram. Perusahaan milik keluarga Bram telah dirugikan berpuluh-puluh milyar.
Kini keluarga Bram maupun keluarga Inge sama-sama jatuh miskin. Mereka tidak punya apa-apa sama sekali. Tiga bulan kemudian, Bram dan Inge memutuskan untuk berpisah dan menjalani hidup mereka masing-masing.
Monday, 5 April 2010
Alam mimpi dan mentari pagi
Image by Photos de Daniel via Flickr
Write text here...
Mereka yang kini sedang bersembunyi di balik selimut, sedang menghangatkan tubuhnya dan memejamkan mata. Mengirimkan rohnya masing-masing untuk memainkan peran di alam yang beda. Meninggalkan jasad yang sedang beku dan berusaha melupakan sejenak dingin yang melilit tubuh. Menikmati sup hangat dan secangkir kopi dalam sandiwara mimpi.Kini derasnya air dari langit ketujuh telah berhenti. Mentari pagi telah menghangatkan tubuh mereka kembali. Kuncup bunga telah merekah memamerkan mahkotanya yang indah berseri.
Friday, 2 April 2010
Tanaman dalam sangkar
Image by Wolfiewolf via Flickr
"Iya nak, kau akan menyaksikan benih ini tumbuh sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya usia kamu," jawab sang bunda sambil tersenyum dan membelai halus kening sikecil.
Seminggu kemudian benih mulai menampakkan daunnya. Sikecil selalu memantau perkembangan benih itu. Disiramnya setiap hari, diamatinya bentuknya dan dijaga dengan penuh kasih sayang. Dua minggu kemudian benih mulai memamerkan kuncup bunganya. Tiga minggu kemudian benih mulai menyebarkan wangi dari mekar bunganya yang cantik. Semakin lama tanaman itu tumbuh semakin besar dan lebat daunnya.
Hingga suatu ketika sikecil bertanya pada bundanya,"Bunda, mengapa tanaman ini selalu dikurung dalam sangkar?" Sang bunda tidak menjawab dan hanya tersenyum pada sikecil.
Beberapa hari kemudian, sikecil mendapati tanaman kesayangannya melilit pada setiap ruas jeruji sangkar. Tanaman itu ternyata tumbuh merambat, meliuk mengikuti bentuk sangkar dan tak sedikitpun tangkainya tumbuh keluar dari jeruji sangkar yang telah mengurungnya.
Setahun kemudian tanaman itu mirip seperti bonsai. Ia tumbuh menyesuaikan keadaan. Seperti ada batasan-batasan yang tidak pernah dilanggar. Rupanya hal tersirat ini tersampaikan dalam benak sikecil. Ia tumbuh dengan tingkat adaptasi yang cukup baik, selalu mengikuti aturan dan patuh pada kedua orang tuanya. Anak itu berusaha melakukan hal yang tidak melenceng dari aturan.
Ia telah belajar dari tanaman itu, bagaimana caranya tumbuh dan beradaptasi. Sikecil menerima apa adanya kebersahajaan orangtuanya. Ia telah belajar bagaimana bertahan hidup di dunia yang penuh dengan tantangan dan cobaan.
Lebih baik mengubah cara pandang kita terhadap lingkungan, daripada memaksa lingkungan di luar kita agar mau mengerti apa yang kita pikirkan atau rasakan.
Thursday, 1 April 2010
Berhenti
Image by Denis Collette...!!! via Flickr
Terbaring dalam diam
Berhenti dan mengelana dalam cakrawala senja
Berusaha memahami apa saja yang telah kulakukan hari ini
Seperti tiada ujung aku berlari
dan kini ingin kuberhenti
Seperti tanya yang tak berujung jawab
Aku menunggu bahagia menyapa
namun sepertinya sia-sia