Tuesday, 3 August 2010

Rindu

rinduImage by unsunghero via Flickr

Sangat terasa rindu ini bergetar di dada
Menggelora bak air meluap dari wadah
Kini kau tak ada di samping peraduan
Ada rasa sedih dan sesal membayang

Maaf kala perhatianku tak tercurah sepenuhnya
Maaf kala aku begitu sibuk dalam keseharian
Kau begitu ikhlas dan menerima
Walau pandanganmu sayu dan tak bahagia

Kini bayangmu meremuk redamkan rasa
Ingin berlari ke arahmu dan berkata
Aku ingin kau berada di pelukku selamanya
Sampai akhir hayat tak kan terpisahkan

Enhanced by Zemanta

Sabar

Big Heart of Art - 1000 Visual MashupsImage by qthomasbower via Flickr

Saat aku baru selesai mandi dan berganti pakaian, tiba-tiba anakku mengompol di atas pangkuanku. Saat aku baru selesai mengepel lantai, anakku menumpahkan semangkuk makanan dalam piring hingga mengotori lantai. Selesai aku memandikan anakku, ia lantas bermain pasir di halaman rumah. Sia-siakah usahaku?


Jawabnya tidak… Berkali-kali kau mengganti popok anakmu yang kotor, berkali-kali pula tumbuh benih-benih kasih sayang dalam dirinya terhadapmu, yang semakin lama semakin bertumbuh. Kesabaran membuahkan kasih sayang. Kau tak menyadari hal itu, sampai anakmu cukup besar untuk mengatakan, “I love you, mom…”

Enhanced by Zemanta

Terpedaya

Bermain futsalImage by ivanlanin via Flickr

Ada seorang anak kecil kira-kira berumur 2 tahun tengah asyik bermain dengan ibunya. Sang ibu memanggil tukang bakso yang melintas, dan tak lama kemudian tersajilah semangkuk bakso untuk dinikmati sang ibu. Saat tengah menikmati sebutir bakso, tiba-tiba sang anak merengek minta apa yang dimakan ibunya. Sang ibu marah-marah sambil menjauhkan tangan sang anak dari mangkok bakso tersebut. Namun tangisan sang anak semakin menjadi-jadi, terdengar jelas sampai ke tempat di mana aku duduk ini. Lalu sang ibu mencari cara agar sang anak bisa mereda tangisnya. Diambilnya sendok bekas kuah bakso tadi lalu disodorkan pada tangan anaknya. Tak lama kemudian sang anak menjilati sendok itu dengan lahapnya. Seolah-olah sendok itu adalah sebutir bakso seperti yang dimakan ibunya. Sungguh kasihan… Sang anak tidak tahu apa yang sebenarnya ia jilat tidak sama dengan yang dimakan ibunya, namun sang anak merasa cukup puas hingga reda tangisnya.


Dalam kehidupan sehari-hari kadang nasib kita seperti anak kecil itu. Kita diberi sesuatu yang cukup bisa membuat kita terpedaya dan merasa puas, padahal bukan itu sebenarnya yang benar-benar kita inginkan. Hanya karena rekayasa orang lain, kita jadi terpedaya.

Enhanced by Zemanta

Monday, 2 August 2010

Siapa itu?

Door numbered 52Image via Wikipedia

Aku mendengar suara pintu depan berderit, pelan sekali. Aku lupa saat masuk ke dalam rumah, pintu itu belum kututup dan kubiarkan setengah terbuka. Kupingku yang tajam ditambah suasana yang saat itu sunyi senyap di siang bolong, membuatku semakin waspada. Siapa yang sedang berusaha masuk ke dalam rumah. Seseorang ataukah hanya angin yang mendorong pintu itu.

Aku yang saat itu berada di dapur segera bersembunyi di balik lemari makan. Semakin lama bulu kudukku berdiri. Takut akan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi akupun mengambil barang yang terdekat denganku, martil di atas lemari. Mungkin saat orang itu semakin dekat ke arahku, segera saja kulemparkan martil ke arah mukanya.

Bagaimana mungkin seseorang yang berniat bertamu tidak mengeluarkan sepatah kata salam sedikitpun. Pasti orang itu bermaksud jahat. Atau mungkin hanya angin lalu yang berhasil memukul mundur pintu yang sudah tua renta itu, hingga suaranya semakin keras berderit dan akhirnya terpental karena mengenai tembok di belakangnya.

Aku berusaha membungkuk sambil berusaha mengintip. Kutonjolkan kepalaku dan berusaha melihat sesuatu yang tengah bergerak, tapi tidak ada apa-apa. Mungkin orang itu mengendap-endap di lantai. Lalu kucoba merangkak sambil bergeser sedikit berharap melihat sesuatu bayangan di sana. Saat kutonjolkan lagi mukaku ke balik pintu, tiba-tiba sepasang mata tajam dengan pipi dipenuhi kumis panjang menyorot tajam ke arahku. Ya Tuhan, ternyata seekor kucing !
Enhanced by Zemanta

Sunday, 1 August 2010

Noda kotor di baju

my crochetImage by noRm@9 via Flickr

Mengapa pakaian anak kecil identik dengan noda kotor? Ini sebuah pertanyaan yang tidak perlu untuk dipertanyakan. Semua orang juga tahu jawabannya. Hanya saja tiap kali aku menemukan pakaian kotor anakku dalam keadaan penuh noda, aku selalu bertanya dalam hati. Mengapa masih kecolongan juga, padahal sudah kujauhkan anakku dari benda-benda yang bisa menyebabkan kotor baju anakku. Mungkin lebih tepatnya tidak terima kalau baju anakku kotor kena noda, apalagi noda yang sukar dibersihkan.


Alhasil sudah dikucek berkali-kali belum hilang juga nodanya, terpaksa memakai pemutih yang bisa menyebabkan pudar warna bajunya. Apalagi warna baju anakku cenderung lebih banyak warna putih, hingga gampang terlihat noda sekecil apapun. Akupun tak lega jika belum berhasil menghilangkan noda-noda itu. Pokoknya dalam keadaan kering setelah dijemur harus kelihatan putih bersih. Jika kecil saja noda masih terlihat, akan kucuci kembali walau untuk yang kesekian kali. Perfeksionis abis…

Enhanced by Zemanta

Saturday, 31 July 2010

Tidurlah Sayang

Ikut tidur aja ahImage by deasdira via Flickr

Kujaga kau anakku sayang

Kujaga kau dari ganasnya gigitan serangga malam

Kujaga kau dari rasa haus yang datang di tengah malam

Kujaga kau dari hawa dingin yang menusuk tulang

Kujaga kau dari hawa panas saat keringatmu bercucuran


Tidurlah sayang buah hatiku

Tidur dalam dekapan bunda disampingmu

Tidur dengan mimpi indah tanpa terganggu

Tidur dengan senyuman tanda nyenyak tidurmu

Enhanced by Zemanta

Karakter

Deziple CharacterImage via Wikipedia

Menangkap maksud seseorang memang gampang-gampang susah, apalagi orang yang baru kita kenal. Sedangkan untuk mengenal seseorang, kita butuh waktu. Kadang ada karakter yang mudah ditebak, ada pula yang sulit ditebak. Apalagi orang yang kurang ekspresif sehingga membutuhkan pemikiran ekstra untuk menangkap maksud orang tersebut.

Kalau kita tahu watak seseorang tersebut labil, perubahan sikap maupun ucapan membuat kita dapat memahami bahwa saat itu ia sedang tidak mood, atau biasanya ada yang berucap “memang begitulah wataknya, nanti toh akan kembali seperti semula.” Namun seseorang yang sulit ditebak, tidak bisa dibedakan apakah ia sedang marah atau senang. Oleh karena itu orang lebih berhati-hati atau menjaga jarak saat berhadapan dengan orang semacam ini.


Enhanced by Zemanta

Mood mempengaruhi hasil suatu pekerjaan

Aku pernah membuat beberapa lukisan, walaupun aku bukan seorang pelukis. Diantara lukisan itu ada satu lukisan yang hasilnya benar-benar memuaskan diriku karena mirip dengan aslinya. Objek gambar yang kujadikan model lukisan adalah gambar pemandangan di kalender. Masih dalam tahap belajar, namun saat itu aku bertekad untuk mengahsilkan lukisan yang paling bagus dari yang sudah-sudah, karena lukisan sebelumnya selalu mengecewakan. Mungkin karena terlalu semangat dan memberi dead line bagi diri sendiri untuk segera menyelesaikannya saat itu juga, maka hasilnya malah tidak karuan.

Untuk kali itu dalam setengah hari aku baru menyelesaikan sepertiga bagian lukisan, tiba-tiba mataku sudah lelah. Ragaku sudah tak kuat lagi untuk memberikan konsentrasi penuh pada pencampuran warna. Padahal semangatku masih membaja dan tergoda untuk menyelesaikannya hari itu juga. Namun sesuai pengalaman, akhirnya mengurungkan niat untuk meneruskan melukis dan memilih untuk mengistirahatkan raga dan pikiran. Mungkin jika diteruskan esok hari dalam keadaan fresh hasilnya akan lebih bagus, pikirku.

Keesokan harinya aku meneruskan melukis dalam keadaan segar bugar karena baru bangun dari tidur. Dalam hari kedua aku telah menyelesaikan dua pertiga bagian lukisan. Lalu seperti sebelumnya aku menahan keinginan untuk melanjutkan sampai selesai setelah rasa lelah terasa. Baru di hari ketiga aku berhasil menyelesaikan seluruh bagian lukisan. Hasilnya? Alhamdulillah sangat memuaskan setidaknya bagi diriku sendiri.

Kesimpulan yang bisa kudapat adalah, lebih sabar dalam mengerjakan setiap pekerjaan. Jika rasa lelah atau mood yang tidak berpihak pada pekerjaan itu, saatnya untuk beristirahat, karena mengerjakan sesuatu dalam keadaan segar bugar hasilnya pasti lebih baik.

Tentang Waktu

Aku memandangi putriku yang masih berusia 1 tahun. Kupandangi erat-erat wajah ayunya yang cantik dan mungil. Kuperhatikan caranya bernyanyi, bergoyang dan mengucapkan kata-kata dengan terbata-bata. Lucu sekali mendengar setiap kata yang meluncur dari bibir manisnya. Apalagi saat ia mengucapkan beberapa kalimat yang tidak jelas pengejaannya. Begitu riangnya ia, seolah membuat sebuah komunikasi denganku dan aku berusaha menjawabnya walau tak mengerti benar apa sebenarnya yang ia maksud.

Kutertawa kecil dan geli, mungkin seperti ini juga diriku saat aku masih kecil. Berusaha belajar dan memahami apa isi dunia. Berusaha paham apa yang dilakukan orang-orang dewasa. Dan saat ini, 30 tahun sudah aku menghirup udara segar dunia. Tak terasa sudah sebanyak itu waktu yang kugunakan untuk mempelajari segalanya. Rasanya baru kemaren aku menjadi seorang remaja yang beranjak dewasa. Saat ini sudah menjadi seorang ibu, dan sebentar lagi akan menjadi tua seperti orang-orang kebanyakan.

Apa seperti ini yang juga dirasakan oleh para orang tua, terutama para manula yang kulitnya sudah keriput dan rambut sudah beruban. Mungkin persis seperti apa yang kurasakan saat ini, merasa waktu terlalu cepat berlalu. Mungkin mereka juga merasa baru kemaren menjadi remaja, lalu menikah dan punya anak. Sekarang harus merelakan generasi muda menggantikan posisi mereka. Mereka pasti sedih, karena menjadi tua berarti umur bertambah, dan peran mereka di dunia harus tergantikan oleh yang lebih muda.

Waktu memang saungguh berharga. Semahal-mahalnya sesuatu, itu adalah waktu.

Adakah hari libur bagi seorang ibu rumah tangga

Adakah hari libur bagi seorang ibu rumah tangga? Kalau saya jawab sendiri sepertinya tidak ada. Namanya juga ibu rumah tangga, pekerjaan sehari-hari mengurus rumah tangga yang di dalamnya ada rumah berserta perabotan yang harus dijaga kebersihannya, jadi setiap hari harus membersihkan rumah. Lalu di dalam rumah juga ada anak dan suami, yang berarti harus melayani anak-anak dan suami yang setiap hari selalu ada di rumah. Lalu apa lagi? Masih banyak… segala keruwetan dalam mengatur keuangan terutama tagihan-tagihan. Belum lagi memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, dsb.

Bisakah hal-hal rutin seperti itu diistirahatkan? Tidak bisa sobat… semua harus dilakukan terus menerus selama 24 jam berada di rumah. Lain halnya kalau bekerja di kantor. Menurut pengalaman saya yang dulu pernah kerja kantoran, setiap hari ada jam-jam tertentu bagi kita untuk fokus pada kerjaan. Biasanya jam 7 pagi sampai jam 4 sore waktu untuk di kantor. Setelah itu bebas di rumah mau melakukan apa saja, apalagi kalau di rumah ada pembantu. Belum lagi kalau hari minggu dan hari libur, saatnya untuk recharge energy dan bermalas-malasan memanjakan diri.

Namun semua profesi pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Semua sama-sama mulia di mata Tuhan. Dalam hal ini saya hanya fokus membicarakan “Adakah hari libur bagi seorang ibu rumah tangga?” Tidak ada sobat…

Jangan biarkan nila setitik, rusak susu sebelanga

Jangan biarkan nila setitik, rusak susu sebelanga. Ibarat seorang tuan rumah yang air minumnya hanya tinggal satu poci, tiba-tiba kedatangan beberapa tamu, sebaiknya jangan menyuguhkan seluruh air minum langsung dari pocinya. Suguhkan ke dalam beberapa cangkir secukupnya agar si tuan rumah masih dapat menyimpan sisa air minum yang lain untuk persediaan bagi dirinya sendiri. Jadi ketika air tadi diminum oleh para tamu, air dalam poci tidak ikut ternodai dengan air liur tamu-tamu tersebut.

Dalam berkarya juga demikian, jangan biarkan sekelumit cercaan atau kata-kata menyakitkan menghalangi kita untuk terus berkarya. Sebaliknya, jadikan cambuk agar kita dapat membuktikan kualitas dan kesungguhan kita. Orang yang sukses selalu harus menapaki tangga dari bawah sebelumnya. Tidak mengapa rasa sakit itu ada, namun tetap harus fokus untuk terus berkarya. Viva forever…

Thursday, 29 July 2010

Tidak nyenyak tidur

Sleep On ComputersImage via Wikipedia

Akhir-akhir ini aku sering bangun tengah malam dalam keadaan kaget. Seperti ada sesuatu yang membangunkan diriku saat tertidur pulas, lalu bangun dalam keadaan linglung.

Seperti yang terjadi baru saja, saat aku tertidur tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamar keras sekali. Seketika itu juga aku lompat dari tempat tidur dan lari menuju pintu dimana sumber suara berasal. Padahal mataku masih merem melek. Alhasil ngomongku agak ngelantur dan ga nyambung.

Kebiasaan ini aku sadari setelah terjadi berulang-ulang. Secepat kilat aku bisa memejamkan mata, padahal tidak ada niatan untuk tidur sebelumnya. Dalam keadaan tidak sengaja aku tertidur, lalu secepat itu pula aku terbangun oleh suara-suara kecil yang mengganggu. Sepertinya tidurku mulai tidak bisa nyenyak.
Enhanced by Zemanta

Wednesday, 28 July 2010

Jemuran

HS_0461Image by tunachilli via Flickr

Hanya mengandalkan angin saat aku menjemur pakaian yang baru kucuci ini. Dalam keadaan setengah kering dan setengah basah, juga tanpa sinar matahari kuprediksi cucian ini baru bisa kering nanti malam. Namun jika hujan rintik-rintik ini belum reda sepanjang hari ini, mungkin baru besok pagi bisa dipakai kembali.

"Huufff....," kuhembuskan nafas tanda pasrah akan apa yang terjadi. Kuamati keadaan sekitar, jalanan aspal basah kuyup dan tampak genangan air di sana sini. Kulihat langit, rasanya mendung semakin pekat saja. Hujan gerimis juga belum reda sejaktadi malam. Angin juga hanya sesekali berhembus.

Lalu kumasukkan seluruh jemuranku ke dalam ruang tamu. Kuputar kipas angin dengan kecepatan tinggi sambil kuarahkan pada semua pakaian basah itu. Tampak mereka berkibar-kibar terkena terpaan angin yang cukup kencang. Lumayan cepat daripada hanya mengandalkan angin diluar sana, pikirku.






Enhanced by Zemanta

Berburu di pagi buta

MouseImage via Wikipedia

Kumengendap-endap di pagi buta. Suara berisik dari balik tumpukan kardus yang berserakan di dapur membuatku penasaran. Pelan tanpa suara kumencoba tak mengubah suasana yang sebelumnya sudah sunyi senyap. Berharap pelaku kejahatan yang telah memporak-porandakan isi dapur kutemukan.

Kupersenjatai diri ini dengan gagang sapu yang sengaja kupegang terbalik, agar kayu tumpulnya bisa menciderai sasaran dengan mudah. Baru satu langkah kaki ini hendak berburu, tiba-tiba suara dalam tumpukan kardus itu semakin kencang. Seolah terjadi permainan kejar-kejaran dengan sesamanya, atau mungkin saling berebut makanan sisa tadi malam hingga suara gaduhnya membuat bulu kudukku berdiri.

Segera kuambil langkah seribu. Berbalik arah dan menutup pintu dapur rapat-rapat dari dalam. Ternyata nyaliku tak sebesar yang kuduga. Rasa jijik melintas dalam pikiranku saat membayangkan bentuk tubuh sekawanan itu.




Enhanced by Zemanta

Tuesday, 27 July 2010

Sekuntum mawar

Trandafir roşuImage by cod_gabriel via Flickr

Sekuntum mawar merah yang sedang mekar bertanya pada rumput yang bergoyang, "Mengapa banyak kumbang yang lalu lalang hanya untuk menghisap maduku, lalu meninggalkanku begitu saja?"

Rumput menjawab, "Karena kau begitu cantik menawan, hingga banyak yang tergoda untuk menyentuhmu."

"Lalu apa yang harus kulakukan agar aku tetap cantik menawan sepanjang masa?" tanya mawar.

"Tidak ada yang bisa kaulakukan...karena semua makhluk hidup ada batas usianya. Kau akan segera layu dan mati suatu saat nanti," jawab rumput.

"Aku tak akan mati sampai kapanpun!" hardik si mawar seakan tak menerima kenyataan.

Tiba-tiba ada seorang manusia yang tertarik akan keindahan mawar, seketika itu juga dipetiknya sang mawar dari singgasana yang dipikirnya akan bertahan sepanjang masa. Matilah sang mawar dan tamatlah ceritanya.




Enhanced by Zemanta

Siapa belum sholat

sujudImage by al-jubey via Flickr

Hayo siapa yang belum sholat Isya sampai detik ini... Waktu semakin cepat berlalu. Jangan biarkan ayam berkokok merenggut waktumu. Cepatlah ambil air wudlu. Agar nyenyak nanti tidurmu.

Satu...dua...tiga...jangan keburu menggerutu, sebelum kau laksanakan janjimu. Turunkan kedua tapak kakimu dari kasur empuk itu. Ayo...ayo...belalakkan matamu. Kuatkan niatmu. Teguhkan imanmu. Agar lekas tercapai tujuanmu.




Enhanced by Zemanta

Insomnia

Insomnia smileyImage via Wikipedia

Secangkir teh manis dan hangat telah kuseduh dalam remang suasana dapur di tengah malam buta. Begitu sunyi hingga hanya bisa kudengar suara jangkrik dari balik tembok ini dan sesekali suara cicak yang menyapaku seolah bertanya sedang apa gerangan diriku.

Malam ini sungguh tak bisa kupejamkan mata, walau jarum jam dinding telah melewati pukul 12 malam. Insomnia kah diriku...Berulang-ulang kuterjaga sambil menggaruk beberapa bagian tubuhku. Sungguh gatal sekali. Kuikuti kemana arah setiap nyamuk yang melintas di zona nyamanku, lalu kumatikan. Berhasil...! Namun melintas lagi sekawanan yang lain. Sungguh menyebalkan...
Enhanced by Zemanta

Cicak

Mengkarung / Sesumpah / Cicak Kubing in Malaysia.Image via Wikipedia

Jangan kau injak ekorku. Sebab ia kan patah. Patah dan akan mencari jejakku sepanjang akhir hayatku. Jangan kau kejar aku. Sebab aku kan lari ketakutan mencari tempat persembunyian.
Jangan kau bunuh mangsaku. Sebab aku sudah menantinya seharian ini. Biarkan mereka beterbangan dalam ruangmu barang sejenak hanya tuk malam ini.

Jangan kau dekati aku. Aku terlalu malu untuk berdekatan denganmu. Jangan kau bunuh aku. Sebab aku bukanlah seekor tokek yang menggigit, hanya mirip. Juga bukan seekor buaya yang ganas. Aku hanyalah seekor cicak yang menumpang hidup di dinding kamarmu.


Enhanced by Zemanta

Habis gelap terbitlah terang

Morning sun, reflectedImage by schoeband via Flickr

Raja angin berkata pada manusia di bumi, "Hai manusia, aku hembuskan anginku agar kalian tidak merasa panas di bawah terik matahari yang sombong itu."

Tiba-tiba matahari marah mendengarnya, lalu berkata, "Aku menyinari makhluk di bumi ini tidak bermaksud jahat."

"Tapi mereka banyak yg tidak suka dengan kehadiranmu. Mereka menutup tubuh mereka dengan payung dan topi," sahut raja angin.

"Lihatlah ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian. Mereka senang sekali dengan kehadiranku. Lihatlah orang-orang yang sedang berjalan kaki maupun sedang mengendarai motor, mereka lega karena hari ini tidak turun hujan," jawab matahari riang.

Lalu sang raja hujan menghampiri matahari dengan muka masam. "Apa maksudmu manusia tidak suka dengan kehadiranku?" tanya hujan pada matahari. "Mereka justru merasa panas dan gerah dengan sinarmu yang panas itu. Saat ini pasti akulah yang mereka tunggu," sambung raja hujan tak mau kalah.

Mendengar perkataan hujan, raja angin merasa mendapat angin segar dan tertawa lebar penuh kemenangan, lalu ia menghampiri hujan sambil membisikkan sesuatu. Tiba-tiba mereka berdua tertawa terbahak-bahak sambil bergandengan tangan. Melihat hal itu matahari kebingungan, apa yang tengah mereka rencanakan, pikirnya.

Tiba-tiba raja angin dan raja hujan bersatu membentuk hujan angin yang sangat lebat. Raja angin menghembuskan nafasnya kuat-kuat hingga matahari terpelanting jauh ke ujung langit, sedangkan raja hujan melebarkan awan hitam miliknya hingga sinar matahari tak bisa lagi menyinari bumi.

Banjir ada di mana-mana. Hujan turun selama berhari-hari tiada henti. Rumah dan bangunan banyak yang roboh diterpa angin kencang. Untuk kali ini manusia banyak yang merindukan kehadiran matahari untuk menghangatkan tubuh mereka.

Tak lama kemudian, tampaklah seberkas cahaya matahari dari ufuk timur di suatu pagi buta. Matahari berjalan pelan sambil tertatih-tatih. Ia tak mau menyerah begitu saja dan ingin bangkit dari keterpurukannya selama ini. Manusia bersuka cita menyambut kehadirannya. Habis gelap terbitlah terang.

Note: Jangan menyerah




Enhanced by Zemanta

Monday, 26 July 2010

Waktu

Many people, one realityImage by Unitopia via Flickr

Malaikat bersembunyi dalam hiruk pikuknya duniaku. Rasa takut menyelimuti diri karena tak tahu apakah ini dosa, namun setebal apa keyakinanku tentang hadir atau tiadanya mereka, tetap tak menyurutkan asaku untuk berhenti.

Aku menekan tombol waktu, lalu segalanya berhenti. Hingga tak ada lagi penderitaan yang mengiris hati. Hingga aku bisa tidur sejenak tanpa memikirkan apapun, dan berharap semua tetap akan baik-baik saja.

Sementara itu waktu benar-benar berhenti. Menungguku sampai aku siap menghadapi segalanya, namun aku semakin bertambah tua dan kesepian. Seiring dengan waktu yang kunikmati hanya seorang diri, seiring dengan tidur panjang dan kelalaian akan kewajiban, seiring dengan ketidakmampuan untuk menghadapi kenyataan dan kepahitan, akupun harus merelakan waktuku terbuang dan semakin menipis.

Segera kutekan kembali tombol waktu, lalu segalanya berjalan seperti sedia kala. Kumemohon ampun pada Tuhan atas kelancanganku, dan bersedia mengahadapi kenyataan yang memang sudah digariskan untukku.


Enhanced by Zemanta