Thursday, 12 June 2014

Si Kecil Suka Pisang

"Indiiii...!!" Mataku melotot saat menemui kulit pisang di lantai dekat tempat tidur. Dengan samar kulihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Perbuatan siapa lagi kalau bukan Indi, si kecil yang gemar makan pisang. Teriakanku tidak bersahut, rupanya ia tidak mendengarku. Maka kedua kakiku berjinjit untuk melihat apa yang sedang ia lakukan. Kulangkahkan kaki menuju dapur, dari jauh kulihat pintu lemari es yang terbuka lebar, sementara sebagian kepalanya menyembul sedikit keluar.

Foto : jangan buang kulit pisang sembarangan (dok.pribadi)

Aku menggeleng dengan perasaan gemas, si Indi, gadis kecilku yang berusia 3 tahun mengulang aksinya dengan berburu pisang. Entah sejak pukul berapa ia bangun pagi lebih dulu, melihat banyak kulit pisang yang berserakan. Tidak hanya di dekat tempat tidur , tapi juga di tiap sudut dapur.

Sesaat setelah aku memerhatikan seluruh isi dapur, tak kusadari bahwa si kecil sudah meringis sambil mendongakkan kepala menatapku, dengan kedua belah tangan memegang pisang beserta kulitnya.

"Indi suka pisang, Bundaaa..." kata Indi dengan ciri khas suaranya yang lembut.

"Boleh, Sayang. Tapi kulitnya jangan lupa dibuang di tempat sampah yaa..." sahutku sambil mengelus-ngelus rambutnya.
(Rd)

Foto : Bundanya cuma disisain 1 pisang aja..*hiks (dok.pribadi)

Dulu dan Sekarang

Dulu, ketika masih remaja, saya mengira bahwa seorang yang keren itu yang berani memberontak dan mendemo guru-guru secara gotong-royong, berteriak lantang di depan wali kelas sebagai dalih menyuarakan hati nurani, lalu merusak fasilitas sekolah dengan membanting meja kursi dan mencorat-coret tembok kelas sebagai bentuk protes.

Dulu, ketika masih SMP-SMA saya mengira bahwa merokok itu keren, ditambah dengan mabuk-mabukan. Cowok dengan rambut gondrong dan nyabu tampak sebagai sesuatu yang wah banget. Walaupun tahu bahwa itu salah, entah mengapa tampak keren di mata saya. Kini, perokok sama sekali tidak keren! Merokok sebagai cerminan bahwa orang tersebut tidak berilmu, karena sudah mengetahui bahaya dari merokok namun tetap tidak bisa mengontrol dirinya. Sebagian berdalih hanya untuk menemani relasi, dalih merasa sungkan karena yang lain merokok sedang dirinya tidak. Menurut saya itu orang tidak keren banget. Justru menunjukkan ciri bahwa dia tidak punya pendirian, ciri bahwa dia pribadi yang tidak tegas.

Dulu, saya anggap keren ketika teman dekat sudah punya gandengan. Cipika-cipiki dengan lawan jenis, boncengan motor dengan sang pacar sambil peluk-pelukan, dan duh malunya pernah mergoki teman sedang kissing di pojok kelas dengan pacarnya setelah kelas sudah kosong. Yang ada sekarang adalah bersyukur, tidak sampai terjerembab dalam gaya hidup yang keliru *jadi khawatir dengan masa depan anak-anak saya.

Dulu, saya mengira orang yang menunjukkan amarahnya itu orang yang keren. Dulu saya mengira bahwa orang yang meledak-ledak itu pemberani, seperti ksatria yang ada di film-film, namun ternyata bukan. Orang yang keren adalah orang yang mampu mengendalikan emosi, mampu menahan kata-kata kotor yang menyeruak dari dalam dirinya.

Menahan diri menunjukkan kedewasaan. Mengendalikan emosi menandakan kemenangan melawan hawa nafsu. Semoga saya bisa menjadi lebih baik. Tulisan ini sekaligus sebagai reminder untuk diri sendiri.
(Rd)

Foto : dokumentasi pribadi
Ngopi dulu aah...

Wednesday, 11 June 2014

Gerah

Gerah, itu yang kurasakan saat duduk di kursi salon ini. Ruangan yang tak begitu besar, namun ongkos service-nya cukup terjangkau dengan isi kantongku. Siang yang terik mungkin membuat orang enggan keluar rumah, hingga membuat salon yang biasanya sesak karena tarifnya yang murah meriah, menjadi sepi.

"Bisa dibantu, Mba?"tanya si pemilik salon

"Mau potong rambut, Mba," jawabku sambil melepas jilbab.

Tak ada cowok memang, namun perasaanku tetap awas mengingat beberapa minggu lalu dengan santainya seorang cowok masuk ke dalam salon tanpa ada aba-aba *memangnya salon babe gue? Ya ga salah juga, memang ini salon nerima customer cowok dan cewek. Tapi jarang banget ada cowok, makanya aku memilih salon ini. Dan memang benar, beberapa saat kemudian nongol sosok lelaki.

"Permisi, minta tanda tangan," teriaknya beberapa langkah dari pintu. Memangnya ada artis di sini? Aku celingak-celinguk. Untung tuh orang cuma di luar, dengan sigap asisten salon keluar menanganinya. Ternyata itu si tukang laundry lagi ngantar barang.

Sudah mulai bisa tenang sekarang, rambutku sudah mulai disemprot pakai air, dijepit sana sini biar gampang motongnya, dan.. mak jleb dengan cepatnya rambutku jatuh di sela-sela kakiku. Wih, ngebut amat motongnya si mba ini. Padahal ga ada antrian panjang di tempat ini, dan akulah satu-satunya customer saat ini.

"Dok! Dok! Dok!" Suara pintu digedok mengagetkanku. Tampak bayangan besar dari balik pintu kaca, pasti orangnya juga besar. Lagian ngapain juga pintunya digedok, semua orang bebas keluar masuk salon ini. Di pintu kan sudah terpampang tulisan "push" dan "pull", kenapa ga langsung dibuka aja.

"Ya bentar, mba!" tiba-tiba si mba asisten lari tergesa-gesa untuk membukakan pintu. "Loh kenapa dikunci mba?" tanyaku. Ternyata pintunya sengaja dikunci dari dalam.

"Iya mba, kalau ga gitu pintunya terbuka sendiri kalau kena angin," jawabnya

Oh gitu toh, belum selesai mataku puas memerhatikan pintu yang rusak tuh orang sudah main seruduk aja. Perempuan berperawakan tambun dan gendut mendorong pintu dengan kasar. Langkahnya mengguncangkan jiwaku. Ia mendaratkan pantatnya persis di kursi sebelahku, hingga aku bisa merasakan angin yang timbul saat ia mendaratkan tubuhnya.

Orang itu melihat ke arahku sejenak, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Suara berisik saat tas plastik dibuka sedikit menggangguku. Beberapa saat kemudia ia mengeluarkan sebatang paha ayam goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya. Aku tak menoleh sedikitpun, hanya memerhatikan dari cermin di depanku.

"Kriuk, kriuk, krikuk," suaranya sukses menarik perhatianku, dan hebatnya ia tak memerhatikan sekitar, kedua bola matanya fokus pada paha di hadapannya.

"Mba, mau potong rambut juga?" tanya perempuan yang sedang memotong rambutku, padanya.

Ia berhenti mengunyah sejenak, lalu mengangguk tanpa mengeluarkan suara, untuk kemudian menyantap kembali sebatang paha ayam berikutnya. Kali ini aromanya sampai ke dalam lubang hidungku. Amis banget.

Hah, aku langsung lemas, bertambah gerah. Berharap segera bisa meninggalkan tempat ini.
(Rd)


Foto: dokumentasi pribadi. Kalau lagi gerah trus lihat foto ini, rasanya adem kembali. Air dari sumber mata air

Tuesday, 10 June 2014

Mengendap-endap

Ia mengendap keluar, takut ada yang mendengar. Pintu itu berhasil dibuka setelah lebih dari 5 menit ia mencoba. Si gadis kecil berjalan dengan kaki menjinjit, mulutnya meringis.

Wanti, gadis kecil berusia 5 tahun sedang dihukum Bunda karena terlalu banyak menonton televisi. Ia tidak boleh keluar dari kamar sampai film kartun kesayangannya berakhir. Sore itu pukul 5, televisi yang biasanya menyala di ruang keluarga tampak mati. Suasana rumah begitu sunyi. Rumah yang biasanya hingar bingar oleh suara televisi mendadak sepi. Hanya ada Ayah yang baru pulang dari kantor sedang duduk di atas sofa sambil menikmati secangkir teh hangat. Sementara koran sore ada di pangkuannya.

Wanti bersembunyi di balik almari besar, sehingga dari sana ia bisa melihat ayahnya. Ingin rasanya Wanti berlari dan mendarat di pangkuan sang Ayah, namun ia segera ingat bahwa dirinya sedang dihukum. Nyalinya langsung menciut dan tubuhnya kian mengerucut ketika duduk dengan posisi jongkok, tanpa suara.

Beberapa saat kemudian Ayah terlihat mengendus sesuatu, seolah-olah mencium bau tidak sedap. Hidung Ayah bergerak-gerak sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, lalu berjalan mondar-mandir. Ia berbalik lagi dan akhirnya membungkuk di dekat meja seolah-olah sedang tercium bau tidak sedap di bawah meja. Wanti memerhatikan dari balik almari. Kedua bola matanya ikut mencari sesuatu yang kira-kira sedang dicari ayahnya. Beberapa saat kemudian Ayah berjalan menuju ke almari besar, Wanti terperanjat takut akan ketahuan. Hidung Ayah semakin cepat bergerak seperti gerakan hidung seekor marmut. Apa mungkin bau yang tidak sedap itu ada di dekat almari ini, pikir Wanti.

"Waaaa...!!" Teriak Ayah hingga mengagetkan Wanti. Kedua tangannya bersiap-siap seolah akan menangkapnya. Gadis kecil itu berlari dan keduanya tampak berkejar-kejaran.Suasana rumah mendadak menjadi gaduh.

"Ayaaah..!! Kenapa Ayah?" Wanti berteriak geli, sekaligus malu karena tempat persembunyiannya telah ditemukan.

Belum sempat rasa kagetnya hilang, tubuh gadis kecil itu lalu diiangkat ayahnya ke atas, lalu ditimang-timang dengan gemas. "Ternyata bau asemnya dari sini," kata Ayah sambil memeluk Wanti gemas. Sekonyong-konyong Wanti tertawa menyadari dirinya belum mandi.

Beberapa saat kemudian Bunda keluar dari dapur dengan membawa sepiring pisang goreng yang masih hangat, ia tertawa geli melihat tingkah laku keduanya.

"Ayo sini Wanti, Ayah, kita makan pisang goreng dulu. Sore itu mereka habiskan dengan bersenda gurau. Tanpa televisi yang menyala, kebersamaan mereka lebih terasa.
(Rd)

Foto : dokumentasi pribadi

Monday, 9 June 2014

Sebuah Ketulusan

Kejadian tempo hari masih belum bisa kulupakan. Bagaimana tidak, ketegaran hati seorang gadis cilik mampu membuatku tersadar. Betapa berharganya arti sebuah ketulusan.

Kulihat ia sedang mengamen di dekat lampu merah. Usianya mungkin 6 atau 7 tahun. Berbalut baju lusuh berwarna putih pudar ia berdiri di bawah terik mentari. Setelah lampu merah menyala ia turun ke jalan dengan berbekal alat musik sederhana. Koin-koin dironce sedemikian rupa hingga menimbulkan suara cukup berisik, menurutku. Didekatinya sebuah sedan hitam, lalu kaca mobilnya terbuka perlahan. Aku memperhatikan dari dalam taxi. Tidak terlalu dekat, jadi tak cukup jelas wajah pengamen maupun pengemudi itu. Dalam sekejab tangan gadis cilik itu menyodorkan sebuah kaleng bekas untuk menadah receh yang ia kira akan meluncur dari tapak tangan si pengemudi.

"Plookkk!!" Suara yang timbul akibat sebuah botol plastik bekas air minum mineral mendarat di jidatnya. Cukup keras hingga setelah mengenai kepala bocah itu, benda itu terpelanting cukup jauh ke atas. Aku tertegun, kaget bukan kepalang namun tak mampu berkata-kata. Dalam sekejab sedan itu berlalu meninggalkannya. Bunyi klakson bersahutan sebagai isyarat bahwa jalanan harus segera dikosongkan dari pejalan kaki termasuk pengamen cilik itu.

Aku yang mengamati dari dalam taxi, ingin rasanya mengumpat. Apalah maksudnya menghantamkan sebuah botol plastik pada kepala seorang bocah kecil. Taxi yang kutumpangi turut berlalu. Aku masih memandang sosok gadis yang semakin menjauh. Masih bisa kutangkap geraknya saat ia berlari turun kembali ke jalan untuk mengambil botol plastik itu dan segera membuangnya ke dalam tong sampah. Mungkin ia tidak mau jalanan tempat ia mengais rejeki menjadi kotor.

Pikiranku masih terpatri di sana. Begitu aku takjub melihat kesabaran hati seorang bocah cilik, dan sebuah ketulusan untuk melakukan kebaikan walaupun ia sendiri telah teraniaya. Subhanallah.(Rd)

Saturday, 7 June 2014

Renungan

Ada siang dan malam. Ada matahari dan bulan. Ada suka dan duka. Bukankah semua serba berkebalikan. Bisakah saya lari dari salah satunya. Bisakah saya memilih untuk menghindari sedikit atau semuanya. Sekali-kali adalah tidak. Takdir Allah yang berbicara. Roda dunia berputar, sekarang di atas suatu saat akan di bawah. Sekarang berteriak bangga besok bisa menangis sedih. Hari ini bisa berkata kasar, esok hari sudah tak mampu berkata-kata lagi.

Maka, masihkah ada hati untuk melukai dan meneriaki. Sekarang masih bisa menulis status di facebook, esok sudah ada foto kuburan kita diupload.

Astaghfirullah.

Monday, 2 June 2014

Kelinci Putih

Kelinci itu berwarna putih bersih, tergambar rapi di atas cover sebuah majalah anak-anak. Di dekat salah satu telingannya yang tegak berdiri, terselip sebuah pita merah berbentuk kupu-kupu. Mulutnya tersenyum dan kedua matanya berbentuk seperti bulan sabit melengkung ke atas, simbol bahwa mata tersebut sedang memancarkan keceriaan. Semuanya serba menyenangkan.

Namun di sana, di sudut sebuah halaman rumah, seekor kelinci putih dengan bulu yang kotor sedang tergeletak lemah. Ia terkurung dalam sebuah kandang kecil yang terbuat dari kawat. Tak ada yang peduli padanya, hingga tubuhnya terkulai lemah. Panas yang terik dan dingin malam yang menghujam, ditambah hujan deras yang mencekam, semakin menyudutkan keberadaannya.

Tak tama lagi, tinggal menunggu waktu. Tak lama lagi malaikat maut akan segera menghampirinya. Sakaratul maut.
(Rd)

Friday, 23 May 2014

Saling Berbagi Ilmu dan Informasi

Pembodohan manusia bisa dengan cara membuat jawaban yang tidak semestinya pada sebuah pertanyaan. Alasannya bisa berbagai faktor : untuk mengelabui, khawatir diungguli atau malas bicara. Kalau perlakuan seperti ini diterapkan pada seorang anak, bisa jadi di kemudian hari timbul rasa tidak percaya pada pembuat statement palsu, dan tentu saja berkurangnya rasa hormat pada sosok yang dulu selalu dipercayai dan ditiru tingkah lakunya. Jika diterapkan pada pasangan tentu saja akan berkurang rasa percaya satu sama lain, yang berujung pada beralihnya kepercayaan pada orang lain.

Kejujuran dalam memberikan jawaban atas pertanyaan berbobot maupun tidak berbobot, apalagi disertai kesabaran dan rasa maklum atas ketidaktahuan lawan bicara, akan menimbulkan apresiasi sehingga berpengaruh pada hubungan satu sama lain, entah itu dalam lingkungan keluarga maupun instansi.

Seseorang yang merasa memiliki derajat lebih tinggi sehingga meremehkan orang lain dengan cara memberikan jawaban yang tidak mengena, malas bicara dan enggan menjelaskan hingga berlarut-larut akan membuat kerdil orang lain. Orang yang bertanya sedang berada dalam kondisi haus akan informasi. Jika orang yang ditanya memiliki informasi yang dibutuhkan namun pada saat ditanya enggan menjelaskan, sama saja dengan pelit ilmu. Jangan sampai kita menjadi pelit informasi dengan orang-orang yang kita sayangi. Dalam sebuah keluarga sang anak haus informasi pada orang tuanya, istri yang stay at home mendapatkan informasi di luar melalui suami, suami yang bekerja di luar membutuhkan informasi melalui istri tentang perkembangan si anak, dll. Semua saling bergantung, tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi dan sok pintar satu sama lain. Roda dunia berputar, suatu saat kelak ayah bunda akan berusia lanjut dan stay at home, si anak akan menjadi dewasa dan lebih banyak di luar rumah untuk sekolah atau bekerja. Kalau ada yang menyembunyikan ilmu saat ditanya, sungguh telah melewatkan satu perbuatan baik.
(Rd)

Wednesday, 21 May 2014

Butuh Proses

Butuh waktu, butuh proses, kesan itulah yang saya tangkap dari hasil sekejab saja menikmati hasil goresan tangan anak saya. Sebuah gambar apik yang terlahir dari jemari mungil seorang anak berusia 5 tahun.
Awalnya saya menggerutu melihat beberapa lembar kertas gambar yang berserakan. Seperti biasa saya bertanya, "Icha, kenapa buku gambarnya disobek-sobek gitu..?" Sambil memperhatikan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba ditekuk, saya membereskan dan menata kertas-kertas itu. Ada rasa kesal melihat kamar yang awalnya tertata rapi mendadak dipenuhi kertas-kertas berserakan. Saya pun berlalu keluar kamar meninggalkan putri saya yang kembali asyik dengan buku gambarnya.


Beberapa saat kemudian setelah pekerjaan di dapur selesai, kembali saya menengok Icha yang ternyata telah terlelap di samping buku gambarnya. Crayon dan pensil warna ada di mana-mana tak beraturan. Setelah membetulkan posisi tidur Icha di atas bantal, lalu saya bereskan semuanya. Terlihat sebuah gambar yang baru saja diselesaikannya, cantik sekali. Saya tersenyum dan kagum melihatnya. Ada sebuah mobil merah yang sedang berhenti di dekat lampu merah. Sempurna sekali hasil gambarnya bagi anak seusianya. Imajinasi yang luar biasa. Tanpa mencontoh gambar manapun ia berhasil menuangkan obyek yang pernah dilihatnya di dunia nyata menjadi obyek di atas kertas gambar. Ada beberapa kertas yang berisi sketsa gambar yang tak jadi, lalu saya perhatikan. Ternyata ia berusaha menggambar mobil itu dengan sekuat tenaga... ada proses dan tahapan hingga ia berhasil menggambarnya...tanpa bantuan siapapun, tanpa ada contoh objek yang ada di hadapannya. Dengan hanya berbekal imajinasi dalam otaknya dan walau telah beberapa kali gagal, lahirlah sebuah mahakarya tak ternilai bagi bundanya.


Saya terhenyak, tersadar walaupun sebenarnya sudah tahu bahwa semua butuh proses dan waktu. Sebagai seorang anak kecil, tentu hal tersebut menjadi perjuangan besar dan tak akan menambah rasa percaya diri jika sebagai orang tua saya tak memberi apresiasi. Sebagai seorang dewasa yang tidak sepenuhnya memahami isi hati si kecil, hanya kesabaran yang perlu diperjuangkan dalam menghadapi tingkah lakunya. Ah, saya tertampar dengan kalimat sendiri. Tidak mengapa, tulisan ini menjadi semacam media introspeksi bagi diri sendiri. Pasti ada tujuan yang tak pernah kita tahu dari seorang anak berkaitan dengan sikapnya yang tidak kita mengerti.


Sekian dulu saya akhiri. Tidak usah terlalu banyak saya menuliskan ini karena khawatir berkesan menggurui, saya masih belajar menjadi orang tua. Teruskan semangatmu anakku. Tetap berjuang.

Wednesday, 12 February 2014

Shirley Temple

Shirley_Temple
Shirley_Temple (Photo credit: hto2008)




Innalillahiwainnailaihirojiun

Baru tadi pagi saya mendengar berita kematiannya, yang ternyata telah berpulang sejak dua hari yang lalu. Shirley Temple, idolaku semasa kecil telah meninggal dunia karena faktor usia. Ia menutup mata selama-lamanya pada umur 85 tahun. 

Beberapa hari yang lalu, adik saya menunjukkan foto wanita tua yang sedang berdiri di atas panggung pada saat menerima penghargaan. “Tebak siapa ini?” tanya adik saya. Saya dengan mudah menebak bahwa dia adalah Shirley Temple, karena memang ada caption di bagian atas foto tersebut yang bertuliskan namanya. Seketika memory ini kembali ke beberapa puluh tahun silam, dimana saya masih bocah dan mengidolakannya habis-habisan. Mungkin karena faktor kelangkaan. Ya, anak sekecil itu sudah tenar dan pandai bernyanyi maupun berakting, dan itu merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Setidaknya hanya segelintir anak yang mampu terekspos media masa kala itu.  Semua orang mengaguminya.
 
Sempat terbersit keinginan untuk menjadi seperti dirinya suatu saat kelak, menjadi tenar dan multi talenta. Setiap kali filmnya tayang, terutama di hari Minggu, dimana jumlah film anak-anak yang masih sangat jarang ditemui di stasiun televisi waktu itu, saya selalu bersorak girang. Seakan tiada hal yang lebih menyenangkan ketimbang menonton film Shirley Temple. Hanya TVRI yang waktu itu menjadi satu-satunya channel televisi, walaupun demikian saya sudah cukup senang. 

Timbul keinginan untuk mengorek kembali kabar tentang dirinya, apa aktivitasnya saat ini dan bagaimana kesehariannya setelah menginjak usia renta. Apakah dia masih hidup? Begitu batin saya. Mengingat film-film yang saya tonton dulu sudah sangat lama dan hampir rusak kualitasnya. Rencananya akan hunting berita-berita tentang dia di internet. Namun belum sempat itu saya lakukan, keburu tersiar berita kematiannya.

Anak ajaib, begitu sebutan saya untuknya. Walaupun usianya sudah tua, saya tetap menyebutnya demikian. Semoga ia diterima di sisiNya. 

(Rd)

Enhanced by Zemanta

Friday, 7 February 2014

Coklat Manis

Kadang kala yang kita butuhkan hanyalah segelas coklat, yang kental dan manis. Perubah suasana hati yang tadinya bete dan memuat emosi yang luar biasa menjadi semanis dan se-cool coklat. Kadangkala hanya dengan mensugesti diri sendiri suatu masalah dapat dengan lebih mudah dihadapi. Akan dibiarkan saja sesuatu hal itu karena ia berjalan di luar kendali kita, ataukah akan kita ubah dan pecahkan problematika di depan kita… semuanya tergantung dari seperti apa suasana hati kita.

Sejak detik-detik menjelang kita tidur malam, kita sudah membentuk sketsa bagaimana suasana hati kita setelah bangun pagi keesokan harinya. Bahkan setelah bangun pagi pun jika kita tidak pandai menjaga suasana hati karena mengijinkan hal buruk menyulut emosi dan pikiran, maka bad mood itu biasanya akan terbawa sampai sepanjang hari yang kita miliki.

Oleh karena itu, biar bisa fokus beraktivitas hari ini... yuk diseruput coklat manisnya mak… :)
(Rd)

Sunday, 2 February 2014

Kopi di Pagi Hari


Bahagia itu, jika bisa bangun pagi lalu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan cekatan dan selesai tepat waktu. Disambung dengan secangkir kopi susu panas hingga asapnya mengepul dari cangkirmu, dan aromanya menyebar ke seluruh ruangan.

Ketika akan meminumnya, kopinya terlalu panas jadi kau membiarkannya sejenak di atas meja. Sementara menunggu menjadi hangat, kau sibuk berkutat dengan buku-buku bacaan yang disusun rapi vertikal ke atas seolah-olah kau sanggup menghabiskan semua bacaan itu.

Terlalu asyiknya larut dalam alur novel hingga berjam-jam, kau lupa ada secangkir kafein yang sudah dingin sejak beberapa jam yang lalu. Ketika kau mengangkat cangkir itu, berpuluh-puluh pasukan semut hitam telah meluber di permukaan cairan hitam itu.

#Gagal minum kopi
(Rd)

Friday, 31 January 2014

Tidak Sekedar Copy Paste

Salah satu hal yang saya suka setelah menulis adalah kepuasan batin. Kupu-kupu yang beterbangan dalam dada ini serasa bebas lepas terbang liar ke alam terbuka. Sketsa benang yang masih menjadi simpul dalam otak seakan terurai panjang dan menemukan tempatnya di luar sana. Sungguh, balasan setimpal atas usaha untuk merajut kata dalam kalimat, dan merajut kalimat dalam sebuah cerita.

Lalu apa yang dirasakan oleh mereka yang kerap kali melakukan copy paste hasil karya orang lain dan menyajikannya kembali ke hadapan publik tanpa mencantumkan dari mana sumbernya, atau bahkan menyatakan bahwa tulisan tersebut adalah hasil karyanya. Apakah ada kepuasan batin yang didapat, yang ada malah rasa horor yang terus meneror selagi tulisan hasil jiplakannya menyebar luas.
(Rd)

Foto : seharusnya yang menyalin menyertakan sumbernya

Wednesday, 29 January 2014

Tidak Sekedar Ikut-ikutan


Memiliki pendirian itu penting. Berlatih agar tidak tertular sifat latah, akan berpengaruh pada pembentukan pribadi seseorang. Sejak masih kecil perlu dibiasakan untuk berekspresi sesuai jalur kesopanan dan agama, tidak terlalu mengekang kebebasan anak dalam berpendapat dan berperilaku. Dengan demikian si anak akan memiliki rasa percaya diri yang tumbuh alami seiring bertambahnya usia. Tidak tergerus oleh pengaruh luar yang menyesatkan. Awalnya mungkin hanya ikut-ikutan, namun hal seperti itu akan menjadi kebiasaan. Apabila tidak sama dan menjadi berbeda dengan teman sebaya, akan turun rasa percaya dirinya. Hal itu akan mendorong sifat meniru dan mematikan kreativitas, malas berpikir, dan malu menjadi berbeda dibanding teman-temannya, walaupun berbeda itu artinya menjadi lebih baik di mata orang-orang bijak dan menjadi ketinggalan jaman dari kacamata teman sebaya.

Ada kekhawatiran dalam diri ini sebagai orang tua memperhatikan perkembangan remaja jaman sekarang, walaupun remaja yang jauh lebih baik lebih banyak jumlahnya. Namun yang tampak heboh di mata saya karena selalu terekspos oleh media televisi, yaitu remaja-remaja yang kerap kali menjadi penonton bayaran acara live beberapa acara di stasiun televisi. Mereka bersorak-sorai meramaikan suasana, menari, menyanyi dan menirukan gaya sesuai arahan sutradara. Demi menaikkan rating, pihak stasiun tv memberdayakan sejumlah remaja untuk diposisikan sebagai penonton yang selalu ramai dengan tepuk tangannya, teriakan-teriakan histeris saat sang idola naik di atas panggung, dan sesekali ikut menari bersama sang artist sebagai penari latar.

Dari sisi mana sikap mereka yang layak dikatakan sebagai calon pemimpin bangsa, jika disuruh kesana kemari mereka ikut, disuruh begitu begini mereka menurut. Apakah sebagian dari generasi muda sudah terkena wabah membeo? Semoga saja tidak, semoga saja hanya sebagian kecil dari mereka yang seperti itu. Saya yakin di luar sana masih banyak pemuda pemudi yang tidak sekedar ikut-ikutan, bertahan dengan hasil karya mereka sendiri, bertumbuh dengan pemikiran-pemikiran inovatif dan tak lepas dari benteng iman.
(Rd)

Tuesday, 28 January 2014

Masa Lalu


Wanita itu terdiam, kedua bola matanya tak berkedip. Ia memandang sosok gadis yang sedang menangis setelah terlepas dari dekapan seorang lelaki di dekat area sebuah stasiun. Mereka sempat berpelukan dan sang lelaki membisikkan kata-kata yang membuat sang gadis menangis. Adegan dramatis itu sempat menarik perhatian beberapa orang yang melintas. Rupanya mereka sepasang kekasih yang hendak dipisahkan oleh jarak. “Apa yang sedang Anda lihat, Bu?” tanya rekan sejawatnya, karena kedua sosok yang sempat menjadi perhatian tersebut sudah tak nampak lagi. Wanita itu tersenyum. “Sebuah masa lalu,” jawabnya.

Rekan sejawat itu sedikit tak paham, namun tak ingin mempertanyakan lebih dalam lagi. Ia memilih untuk diam dan membiarkannya hanyut dalam sebuah pemikiran. Keduanya berjalan beriringan memasuki sebuah kantor yang tak jauh dari stasiun, tempat dimana mereka bekerja.

Baru saja menginjakkan kaki ke dalam ruang kantor, tiba-tiba dari ruang sebelah terdengar suara orang yang sedang berdebat. Meski samar, namun kata terakhir sempat terdengar jelas terbawa angin. “B*ngs*t kau!” Kedua rekan kerja yang sedang berselisih paham dan gagal mengendalikan emosi membuatnya kembali tercengang. “Apa lagi yang sedang Anda pikirkan, Bu?” tanya rekan sejawat yang sedari tadi selalu memperhatikan sikapnya. Lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum sambil menjawab, “Masa lalu.”

Bagi wanita itu, mengumbar emosi di depan banyak orang adalah sebuah masa lalu. Menangis di depan umum dan mengumbar kemesraan bersama kekasih hingga mendramatisir seperti adegan sinetron adalah sebuah sifat kekanak-kanakan. Lalu gagal mengendalikan emosi hingga terlontar kata-kata kotor yang sudah pasti tidak senonoh adalah sebuah sifat kekanak-kanakan pula. Ia bersyukur sudah melewati masa-masa labil yang penuh ketidakdewasaan dan mulai memperbaiki diri.

Begitu berharganya sebuah perjalanan hidup. Bergitu berharga waktu yang sudah dihabiskan menuju sebuah kedewasaan. Pengalaman hidup, telah membuatnya berubah, menjadi lebih bijaksana.
(Rd)

Setengah Hati


Sejak awal Mardi nampak ragu, memasuki gedung perkantoran di mana ia diterima bekerja. Pada hari pertama sejak kemunculannya dan masuk dalam sebuah tim marketing sebuah perusahaan penerbitan, ia sudah menaruh setengah hati saja. Tak ada rasa percaya diri dan kemantapan hati untuk terjun bebas ke dalamnya, ia mencelupkan ujung jari kakinya saja. Alasannya, tempatku bukan di sini, ini bukan jurusanku, aku hanya menjalankan apa yang harus kujalankan, aku hanya ingin bertahan hidup dan mencari uang untuk sesuap nasi. Tak ada passion sama sekali. Raganya bagai robot yang digerakkan dengan paksa oleh sebuah remot.

Hari demi hari ia jalani dengan rasa hambar. Gaji ia terima secara berkala, namun semangat kerjanya semakin luntur. Seperti sebuah tanaman yang tak pernah diberi pupuk, ia biarkan raganya hanya memproduksi bunga dan buah tanpa mencari nutrisi untuk kebutuhannya bertahan hidup. Akarnya berhenti tumbuh, pasif dan pasrah menerima air yang hanya kebetulan melewatinya.

Bagaimana bisa menjadi besar dan tumbuh bersama sebuah profesi yang bahkan dirinya sendiri hanya memberi setengah hati. (Rd)

Monday, 20 January 2014

Aksara dalam Gelap

"Apa yang sedang kau cari di sini" tanya Yen setelah memergoki Na berdiri mematung sambil menatap ke arah langit. Yen pun berusaha mencari objek yang mungkin sedang dicari Na, namun ia hanya menebak-nebak saja. Mungkin itu segumpal awan berbentuk panda seperti yang ia cari tempo hari, atau sekawanan burung pipit yang biasa lewat di daerah ini.

Tak ada suara yang terdengar dari bibir Na. Yen menoleh padanya, namun Na justru memejamkan matanya. "Jangan menggangguku, Yen," ucap Na tanpa membuka mata. Yen mengernyitkan dahi, namun ia tak mau memusingkan diri dengan sikap sahabatnya itu. Ia beranjak pergi dan segera menuju kamarnya.

Dalam kamar kos ryang tidak begitu besar, Yen merebahkan diri dalam gelap. Ia sengaja membiarkan laptop milik Na dan beberapa buku tergeletak begitu saja. "Mungkin otak Na sudah mampet, ia sedang kering inspirasi," begitu pikir Yen. Ia pun bersiap untuk melakukan ritual, yaitu tidur siang.

"Subhanallah," tersengar suara yang sempat mengagetkan Yen, "dari mana kau dapatkan ide ini?" Na hampir seperti setengah memeluk sesuatu. "Apa, Na? Apa yang kau maksud?" Tanya Yen masih setengah mengantuk. "Ini..! Tidakkah kau melihat semua aksara-aksara ini?" Pekik Na tertahan. "Aksara apa, Na?!" Yen semakin tak mengerti.

"Aksara dalam gelap," ujar Na entah dengan ekspresi seperti apa. Yen bahkan tidak bisa melihat apa-apa selain cahaya remang yang berasal dari laptop menyala. Tiba-tiba lampu dinyalakan oleh Yen, ia tidak mau dipusingkan oleh sikap lebay Na. "Sekarang namanya...aksara dalam terang," ujar Yen terkekeh.

Na segera memeluk sahabatnya, "Makasih Yen, berkat ulahmu memadamkan lampu, aku telah menemukan judul yang pas untuk tulisanku. Aksara dalam gelap."

(Rd)

Thursday, 16 January 2014

Manusia

Manusia makhluk yang sangat luar biasa. Mengapa? Bandingkan mereka dengan makhluk Tuhan yang lain, tumbuhan dan hewan sungguh sangat tidak mampu melakukan aktivitas seperti yang dilakukan manusia. Dari hal yang sangat besar sampai hal-hal kecil menjadi kewajiban sekaligus kebiasaan manusia. Makan, mandi, mencuci merupakan beberapa kebutuhan. Ia harus makan minimal 3 kali sehari, setelah itu minum lalu mencuci piring kotor. Setelah itu kembali beraktivitas, seperti bekerja di kantor, menjaga anak, menyuapi, memandikan, menyeboki anak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, bergaul, mengantar anak ke sekolah, membacakan dongeng, wow... Kalau melihat lebih detail lagi, manusia juga harus memotong kuku, mengoleskan pelembab kulit, membasuh muka khusus dengan sabun muka, keramas dengan shampo, sikat gigi dengan pasta gigi, mandi dengan sabun, membersihkan kamar mandi dengan karbol, mencuci baju dengan deterjen, memasak dengan beraneka ragam bumbu masak dan rempah-rempah yang bermacam-macam, membuat teh dengan air panas dan gula, membuatkan susu anak, menina bobokkan anak, lalu... Sebentar istirahat dulu (jeda).

Manusia juga melakukan : membersihkan debu yang menempel pada meja, jendela, rak buku. Lalu menonton televisi, menulis, membaca, menggambar, dan masih banyak lagi. Masih banyak yang belum tersebut. Sungguh kompleks aktivitas manusia, bahkan tubuh manusia itu sendiri adalah sebuah keajaiban. Ada berapa macam dan jumlah organ dalam manusia, jumlah pembuluh darah, daging, tulang, kulit, pori-pori, usus, sel darah. Subhanallah.
(Rd)

Wednesday, 15 January 2014

Seberkas Cahaya

Untuk sesaat, tak ada pikiran apa-apa yang melintas saat saya mematikan lampu kamar, karena itu merupakan hal biasa yang selalu kami lakukan menjelang tidur siang atau malam. Bersama kedua putri saya yang masih balita, saya memutar musik penghantar tidur dalam kegelapan. Beberapa saat kemudian mereka sudah terlelap, yang terdengar hanyalah suara nafas yang naik turun.

Tiba-tiba kedua mata terfokus pada seberkas cahaya yang masuk melalui jendela kamar. Hanya dari situlah penerangan satu-satunya berasal. Ingatan saya langsung flash back ke periode beberapa puluh tahun silam, ketika saya masih anak-anak. Hal seperti ini kerap kali terjadi pada saat saya dan kedua adik saya dininabobokkan oleh Mama. Dulu, setelah lampu dimatikan, saya yang paling susah untuk tidur. Mungkin karena pengaruh dongeng atau cerita-cerita misteri, saya jadi takut akan gelap. Mata saya selalu tertuju pada seberkas cahaya yang muncul dari balik jendela. Berharap dengan mengetahui dari mana arah datangnya cahaya, akan lebih mudah menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu ada monster atau makhluk jahat lain menyerang.

Bagi saya, seberkas cahaya sama dengan secercah harapan. Sama seperti orang yang sedang ditimpa masalah atau kesedihan, secercah harapan mampu memberikan kekuatan dan ketenangan batin untuk dapat melanjutkan kehidupan.
(RD)

Monday, 13 January 2014

Mampukah Kita

Sakit, namun tak ada yang mengetahui karena tak terungkapkan. Pernahkah anda merasakan sakit namun tak memberitahukan pada siapapun karena tak ingin membebani yang lain. Pernahkan Anda merasa sakit namun tak mengungkapkan karena merasa tak akan ada yang memedulikan. Pada akhirnya semua dipendam seorang diri, bukan hanya rasa sakit namun juga terhadap setiap gejolak hati yang dirasakan. Semua dilakukan sendiri, Anda bahkan tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukan baik atau buruk karena tak ada yang peduli. Konsekuensi terhadap setiap tindakan juga ditanggung sendiri.

Semua menganggap Anda adalah pribadi yang mandiri karena semua orang tidak mengetahui derita dalam batin, parahnya mereka hanya memerhatikan kegembiraan yang walaupun sedikit, telah membuat orang lain cemburu dan iri. Mereka menganggap Anda selalu diliputi kebahagiaan, nyaris tanpa kekurangan. Yang tampak hanyalah keglamoran dari sisi lain kehidupan Anda, sedangkan kesedihan yang Anda tutup rapat memberi kesan bahwa rumput di halaman Anda selalu tampak lebih hijau.

Mampukah kita menempatkan Allah sebagai penolong, sebagai teman, sebagai satu-satunya yang mampu memberikan ketenangan. Menyerahkan sepenuhnya nasib kita setelah berikhtiar penuh hanya kepada Allah.
(RD)