Tuesday, 19 August 2014

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Saya semakin mengerti petuah yang selalu terngiang-ngiang, bahwa semakin banyak memberi semakin banyak menerima dan sebaliknya semakin banyak meminta Allah akan semakin menghinakan nasib kita. Awalnya saya abaikan karena sepertinya kalimat tersebut sudah berulangkali saya dengar atau baca dari berbagai sumber, namun menjadi semakin mengerti setelah berusaha menerapkan dengan sepenuh hati.

Berawal dari fenomena dan ketidakmengertian saya, bahwa masih banyak kemiskinan yang selalu identik dengan kemalasan. Kalau biasanya anak-anak dari keluarga miskin rata-rata berprestasi, hal tersebut sudah menjadi sebuah kewajaran dikarenakan tempaan hidup yang membentuk karakter kuat seorang manusia.

Namun ini sebaliknya, kemiskinan justru dijadikan alasan atas ketidakmauan berusaha. Mereka yang berasal dari golongan ini selalu memiliki alasan bahwa ketidakmampuan orang tua dalam membiayai sekolah adalah faktor utama, orang tua juga tidak mampu membiayai skill yang ingin diraih, dan berprinsip bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan uang. Bukankah Allah akan memberikan ujian pada tiap hambanya entah itu berupa sakit, takut atau miskin. Dan terlebih lagi, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha mengubahnya.

Ada sebuah keluarga miskin yang sepanjang pengamatan saya, waktu kesehariannya dihabiskan hanya dengan melamun, tidur dan bermalas-malasan. Mereka benar-benar nol aktivitas. Secara tidak sengaja saya melihat dan mengamati sendiri bagaimana keseharian mereka, tidak ada aktivitas berarti yang menurut saya bisa mendorong semangat ataupun meningkatan kemampuan dalam hal tertentu. Mereka pasif, dan hampir sebagian besar perbincangan digunakan sebagai sarana untuk mengeluh.

Sepanjang hari yang saya habiskan bersama mereka, yang keluar dari bibir mereka hanyalah keluhan dan keluhan, dan selalu memandang rumput tetangga lebih hijau daripada miliknya. Tidak ada pernyataan optimis maupun hal baik yang bisa ditangkap dari setiap kalimat yang mereka lontarkan. Hidup mereka tidak bersemangat, tidak ada gairah untuk berjuang dan semacamnya. Dalam sekejab saya bisa menangkap bahwa penyebab keterpurukan mereka adalah sikap yang keliru dalam memandang kehidupan.

Namun saya bukan berniat menghakimi, menceramahi atau merasa benar. Saya hanya merasa ada yang mengganjal di hati, sesuatu yang sedikit keliru dalam cara pandang, dan mungkin jika bisa diluruskan insyaAllah bisa memberi sedikit perubahan.

Saya pernah membaca, bahwa jika seseorang kerap kali meminta-minta di usia mudanya maka Allah akan menghinakan dirinya dengan terus meminta-minta sampai di usia tua. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Menunaikan shadaqah tidak perlu menunggu kaya, apapun yang bisa kau berikan lekaslah berikan. Kira-kira seperti itu yang kemaren saya baca.

(Rd)

Friday, 15 August 2014

Masa Lalu

Aku terdiam, hingga lupa untuk mengedipkan bola mata. Kupandangi sosok wanita yang sedang menangis itu beberapa saat setelah terlepas dari dekapan seorang lelaki, di area sebuah stasiun. Mereka sempat berpelukan sesaat lalu sang lelaki membisikkan sesuatu yang membuat si wanita menangis. Adegan dramatis dan romatis itu sempat menarik perhatian beberapa orang yang melintas. Sepertinya mereka tidak lagi memerhatikan orang-orang sekitar, seakan berada dalam dunianya sendiri.

Si wanita berlinang air mata, sedang si lelaki berusaha menenangkannya. Tebakanku mungkin tidak salah, mereka adalah sepasang kekasih yang hendak dipisahkan oleh jarak. Hal yang biasa terjadi namun menjadi tidak biasa ketika adegan sebuah perpisahan yang romantis menjadi pemandangan nyata dan bisa dilihat banyak orang. Aku tertegun.

“Apa yang sedang Anda lihat, Bu?” tanya temanku. Aku hampir lupa bahwa aku sedang bersama rekan kerjaku. Kami sedang menjemput salah seorang rekanan yang datang dari luar kota. Aku masih tertegun dan kelihatan seperti orang melamun walaupun kedua sejoli yang sempat menjadi perhatian tersebut sudah tak nampak lagi. Aku hanya tersenyum. “Saya jadi ingat masa lalu, Bu,” jawabku. Teman kerjaku itu nampak tak paham, namun sepertinya ia tak ingin mempertanyakan lebih jauh lagi karena beberapa saat kemudian kereta yang kami nantikan telah datang.

Kamipun tiba di kantor sedikit terlambat karena harus menjamu tamu Boss untuk makan siang di luar. Baru saja akan melanjutkan pekerjaan di depan laptop, tiba-tiba dari ruang sebelah terdengar suara orang yang sedang berdebat. Pak Boss dan tamu yang baru kami jemput di stasiun tadi sedang berdebat. Mereka membuat kami semua yang berada di ruang kerja sebelah panik. Perseteruan mereka tidak dapat kami dengar jelas. Namun meski samar, kata terakhir yang keras terdengar adalah, “B*ngs*t kau!”

Jantungku berdetak cepat, tak habis pikir mengapa bisa mereka berseteru hebat. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibanting. Tamu rekanan tadi keluar dari ruangan Si Boss sambil setengah berlari menenteng koper yang lumayan berat. Mukanya merah padam, keringatnya bercucuran dan jas yang dipakainya tampak kusut. Tanpa menoleh pada siapapun ia berlalu meninggalkan kantor kami.

Astaghfirullah. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Lemas rasanya raga ini, otakku tak mampu berpikir jernih alias shock. Beberapa teman kerjaku tampak berbisik-bisik tanpa ada yang berani masuk atau menanyakan ke dalam ruangan si Boss, atau sekedar melihat keadaannya saat ini. Sedang aku duduk terpaku di depan laptop yang sedang menyala. Ingatanku mengembara dan berkelana ke beberapa tahun silam. Masa lalu, masa lalu dan masa lalu.

Dulu, aku juga begitu, sosok wanita yang tak mampu mengendalikan emosi, selalu berteriak lantang dengan kata-kata kotor di kala murka. Astaghfirullah, sangat merasa berdosa dengan masa lalu walaupun itu sudah bertahun-tahun yang lalu.

Semoga saja aku bisa terus berbenah, bisa terus memperbaiki segala sikap dan lisanku, terutama dalam menghadapi situasi yang menyulut emosi. Amin.

(Rd)
*seperti yang pernah dituturkan oleh salah seorang sahabat

Wednesday, 13 August 2014

Manusia Ajaib

Terkadang memilih diam itu lebih baik, saat kita tahu sedang berhadapan dengan "manusia ajaib". Apalagi yang dijadikan bahan perdebatan masih seputar urusan dapur, dan manusia ajaib tersebut adalah makhluk yang bernama lelaki hehehe...

Kebanyakan wanita tidak mau dipersalahkan dalam urusan yang masih bernaung di sekitar dapur. Urusan kadar bumbu masak, api kompor yang kebesaran atau kekecilan, dan cara memasak yang benar adalah sepenuhnya urusan wanita sebagai koki rumah, walaupun tidak semua perempuan bisa memasak, dan tidak semua lelaki gemar memasak... *nah loh. Yang saya maksud di sini jika si perempuan yang biasanya memasak di rumah dan memegang kendali dalam urusan kunci pintu dapur. Lelaki boleh ikut campur sebatas menyumbangkan tenaga, di luar itu haram hukumnya, hehehe galak banget...*pintu dapurnya selalu dikunci

Mama sedang mengiris buah pepaya, lalu papa mencomot salah satu irisan pepaya sambil nyeletuk, "Ada pepaya yang lebih enak, namanya pepaya thailand."

Mama tersenyum mendengarnya, "Ini yang dimakan papa ya pepaya thailand."

"Bukaaaan, thailand bukan model begini," timpal papa sambil mengernyitkan dahi, masih sambil menyunyah potongan pepaya dan mengamati teksturnya di hadapanku.

"Ini jenis thailand papaa... yg lokal sudah jarang ada di pasar," Mama menahan emosi.
"Bukaaaaan... kamu belum tahu sich, Ma," Papa berlalu masih sambil menyunyah pepaya. Mama terdiam sambil menahan air mata yang hendak menyembul keluar.
"Huuuaaaaaaa Papaaa....!!!"

(Rd)

Tuesday, 12 August 2014

Suroboyo Carnival Night Market (SCNM)

Dari awal persiapan menuju ke wahana mainan baru di Surabaya ini hati sudah setengah, maksudnya setengah hati :-) Rencana berangkat pukul 4 sore jadi molor sehabis magrib. Maklum, moment tersebut bertepatan dengan libur hari raya idul fitri, jadi walaupun libur tapi jadwal masih padat.

Suroboyo Carnival Night Market (SCNM) ini soft opening pada tanggal 28 Juli 2014 bertepatan dengan Idul Fitri, mulai pukul 16.00 sampai 24.00 setiap harinya. Jadi masih ada waktu untuk istirahat sejenak di rumah setelah seharian berkeliling ke rumah saudara. Tidak seperti waktu mau berangkat ke mall yang rata-rata tutup pada pukul 21.00, harus setengah tergesa-gesa agar bisa sampai lebih awal, kalau di Suroboyo Carnival waktunya lebih panjang :-)

Badan yang lagi tidak bersahabat membuat semangat semakin redup. Ditambah anak-anak yang masih pulas tidur siang, membuat emaknya jadi tak tega membangunkan. Ayahnya juga masih terlelap. Cukup alasan sebenarnya untuk membatalkan rencana sore ini. Jam dinding yang berdetak, "tik tok tik tok" tak memberi kesempatan raga ini untuk sedikit bermalas-malasan lebih lama lagi.

Sehabis sholat magrib kami semua sudah siap. Jadi terbayang-bayang bagaimana ramainya suasana di sana, karena sehari sebelumnya sempat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana antrian kendaraan mobil dan sepeda motor menuju tempat parkir, padahal kemaren itu langit masih terang, masih pukul 4 sore. Apalagi sekarang, selepas maghrib antrian pasti sudah lebih panjang.



Beberapa meter sebelum menuju lokasi, sudah tepat sesuai prediksi. Antri bok.. tempat parkir sudah full. Kami dialihkan menuju tempat parkir alternatif yang letaknya lebih jauh, harus putar balik menuju ke seberang jalan. Lahan di samping Stie Mahardhika menjadi tempat parkir kedua. Saya tidak tahu apakah itu hanya sementara atau seterusnya, karena saya perhatikan proses pengerjaan SCNM ada yang belum selesai, sepertinya sedang membangun trotoar dan tempat parkir lagi di sekitar lokasi.

Setelah memarkir mobil, kami masih harus berjalan menuju ke pinggir jalan tepatnya di depan Stie Mahardhika untuk menunggu bus, karena di sana disediakan bus penjemput menuju ke tempat carnival. Akses jalan di tempat parkir samping kampus masih gelap jadi kami harus lebih berhati-hati menuntun para krucil menuju ke tempat pemberhentian bus. Di dalam bus, semua berdesakan banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Tapi tak mengapa toh hanya jarak dekat. Saya perhatikan anak-anak cukup menikmati suasana, jadi saya tidak resah.


Turun dari bus perjuangan masih panjang. Untuk membeli tiket masuk saja harus berdesakan. Wow, fantastis memang. Besar sekali antusiasme masyarakat untuk mengunjugi tempat ini. Tidak hanya masyarakat Surabaya, namun juga yang berasal dari luar kota, ini jika diamati dari banyaknya plat kendaraan selain L (Surabaya).

Tiket masuk per orang Rp.20.000 untuk yang biasa, tiket yang terusan Rp.150.000 per orang. Malam itu tiap-tiap wahana punya antrian panjang seperti ular. Bisa-bisa waktu habis hanya untuk antri di satu wahana saja hehehe. Maklum, wahana permainan ini masih baru, soft openingnya bertepatan dengan libur hari raya jadi langsung diserbu masyarakat. Oh ya, harga tiket masuk tiap-tiap wahana permainan berkisar Rp.15.000-25.000. Sedangkan total keseluruhan ada 50 wahana permainan. Ada juga tiket khusus Kids Kingdom bandrolnya 75rb.



Untuk berjalanpun harus melalui perjuangan. Berdesak-desakan membuat atasan yang saya pakai jadi basah oleh keringat. Ditambah dengan kaki lecet karena sepatu. Padahal sepatu yang saya pakai flat banget, nyesel juga kenapa tidak memakai sandal santai saja.

Tempatnya bagus, sangat menarik. Sayang sekali tidak semuanya bisa saya abadikan karena untuk berjalan saja masih berdesakan hehehe. Maybe next time :-)
(Rd)






Thursday, 7 August 2014

Tahun Ajaran Baru

Takut, nangis dan berteriak histeris, pemandangan yang kerap kali ditemui di masa-masa tahun ajaran baru, khususnya dalam tingkatan PAUD. Hal wajar dan tak perlu diperparah dengan paksaan orang tua agar anaknya mau masuk kelas bersama dengan teman-teman dan guru baru. Bagi beberapa anak hal tersebut merupakan momok, karena ia diharuskan tunduk dalam peraturan dan lingkungan baru nan asing.


Kemampuan beradaptasi tiap anak berbeda, bagi anak yang terbiasa tinggal dalam lingkungan keluarga yang friendly, humoris dan meminimalisir unsur pemaksaan dalam pola asuh, akan lebih mudah beradaptasi. Adanya pemaksaan dan kekerasan dalam mendidik anak berdampak pada pengendapan emosi dalam jiwa anak yang tidak terluapkan. Anak-anak usia dini cenderung mengendapkan rasa takut akibat pemaksaan yg dilakukan orang dewasa, hingga kapasitasnya semakin bertambah tanpa disadari para orang tua. Pengedapan emosi yang tidak terluapkan dari diri si anak akan meledak pada saat mencapai titik tertentu, karena dalam kondisi tersebut si anak sudah tidak mampu membendungnya.


Anak-anak yang terbiasa bebas berekspresi dan bebas menentukan sikap dalam lingkungan keluarganya, biasanya cenderung survive. Bahkan mereka bisa menikmati masa-masa peralihan tersebut. Bertemu dengan teman-teman baru, guru baru maupun kelas baru bisa menjadi kesenangan tersendiri.


Perhatian saya tertuju pada seorang anak yang menangis karena tidak mau masuk kelas. Awalnya sang bunda hanya menghela nafas sambil sesekali membujuknya. Beberapa saat kemudian si anak tetap tidak mau masuk kelas dan memilih bergelanyut di pundak sang bunda. Namun sang bunda sudah habis kesabaran dan memaksa si anak dengan mendorongnya masuk ke dalam kelas. Spontan si anak kembali menangis, kali ini dengan tangisan yang lebih keras disertai amukan. Sang bunda tidak mau kalah, ia membentak anaknya sambil sesekali mencubit kakinya.


Pemandangan yang menyesakkan, memilukan dan menimbulkan rasa iba. Rasa iba terhadap si anak yang tidak mendapatkan arahan dan bantuan dari orang dewasa dalam menghadapi dunia baru, sebaliknya rasa takutnya bertambah dengan hadirnya pemaksaan dari orang tua.


Ironis, keesokan harinya kejadian yang sama kembali terulang. Kali ini si anak sudah kehabisan tenaga. Ia memilih pasrah dengan kemauan orang-orang dewasa untuk masuk kelas, namun memilih duduk sendirian di pojok kelas tepat di balik pintu. Ia berada dalam dunianya sendiri karena tak mengerti untuk apa ia berada dalam kelas tersebut.


Sudahlah bunda, biarlah ia beradaptasi dengan caranya sendiri. Atau jika ada yg berbaik hati untuk menunjukkan bagaimana caranya, mungkin ia akan lebih rileks. Tidak ada yang menuntun bagaimana cara bersikap, yang saya perhatikan ia harus begini dan begitu tanpa tahu untuk apa ia melakukannya.


Anak membutuhkan komunikasi yang tak terputus dari orang tuanya. Anak membutuhkan pengetahuan dan pembelajaran yang tidak memaksa namun mengena. Anak membutuhkan rasa ikhlas agar ia mau belajar, untuk itu orang tua perlu menuntun dan menjelaskan untuk apa kita perlu begini dan begitu. Anak bukan robot yang bisa diperlakukan semau kita, ia punya perasaan dan ingin disayang. Mungkin ia belum siap, atau membutuhkan waktu untuk beradaptasi lebih lama dibanding yang lain. Jangan samakan mereka.
(Rd)

Thursday, 12 June 2014

Si Kecil Suka Pisang

"Indiiii...!!" Mataku melotot saat menemui kulit pisang di lantai dekat tempat tidur. Dengan samar kulihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Perbuatan siapa lagi kalau bukan Indi, si kecil yang gemar makan pisang. Teriakanku tidak bersahut, rupanya ia tidak mendengarku. Maka kedua kakiku berjinjit untuk melihat apa yang sedang ia lakukan. Kulangkahkan kaki menuju dapur, dari jauh kulihat pintu lemari es yang terbuka lebar, sementara sebagian kepalanya menyembul sedikit keluar.

Foto : jangan buang kulit pisang sembarangan (dok.pribadi)

Aku menggeleng dengan perasaan gemas, si Indi, gadis kecilku yang berusia 3 tahun mengulang aksinya dengan berburu pisang. Entah sejak pukul berapa ia bangun pagi lebih dulu, melihat banyak kulit pisang yang berserakan. Tidak hanya di dekat tempat tidur , tapi juga di tiap sudut dapur.

Sesaat setelah aku memerhatikan seluruh isi dapur, tak kusadari bahwa si kecil sudah meringis sambil mendongakkan kepala menatapku, dengan kedua belah tangan memegang pisang beserta kulitnya.

"Indi suka pisang, Bundaaa..." kata Indi dengan ciri khas suaranya yang lembut.

"Boleh, Sayang. Tapi kulitnya jangan lupa dibuang di tempat sampah yaa..." sahutku sambil mengelus-ngelus rambutnya.
(Rd)

Foto : Bundanya cuma disisain 1 pisang aja..*hiks (dok.pribadi)

Dulu dan Sekarang

Dulu, ketika masih remaja, saya mengira bahwa seorang yang keren itu yang berani memberontak dan mendemo guru-guru secara gotong-royong, berteriak lantang di depan wali kelas sebagai dalih menyuarakan hati nurani, lalu merusak fasilitas sekolah dengan membanting meja kursi dan mencorat-coret tembok kelas sebagai bentuk protes.

Dulu, ketika masih SMP-SMA saya mengira bahwa merokok itu keren, ditambah dengan mabuk-mabukan. Cowok dengan rambut gondrong dan nyabu tampak sebagai sesuatu yang wah banget. Walaupun tahu bahwa itu salah, entah mengapa tampak keren di mata saya. Kini, perokok sama sekali tidak keren! Merokok sebagai cerminan bahwa orang tersebut tidak berilmu, karena sudah mengetahui bahaya dari merokok namun tetap tidak bisa mengontrol dirinya. Sebagian berdalih hanya untuk menemani relasi, dalih merasa sungkan karena yang lain merokok sedang dirinya tidak. Menurut saya itu orang tidak keren banget. Justru menunjukkan ciri bahwa dia tidak punya pendirian, ciri bahwa dia pribadi yang tidak tegas.

Dulu, saya anggap keren ketika teman dekat sudah punya gandengan. Cipika-cipiki dengan lawan jenis, boncengan motor dengan sang pacar sambil peluk-pelukan, dan duh malunya pernah mergoki teman sedang kissing di pojok kelas dengan pacarnya setelah kelas sudah kosong. Yang ada sekarang adalah bersyukur, tidak sampai terjerembab dalam gaya hidup yang keliru *jadi khawatir dengan masa depan anak-anak saya.

Dulu, saya mengira orang yang menunjukkan amarahnya itu orang yang keren. Dulu saya mengira bahwa orang yang meledak-ledak itu pemberani, seperti ksatria yang ada di film-film, namun ternyata bukan. Orang yang keren adalah orang yang mampu mengendalikan emosi, mampu menahan kata-kata kotor yang menyeruak dari dalam dirinya.

Menahan diri menunjukkan kedewasaan. Mengendalikan emosi menandakan kemenangan melawan hawa nafsu. Semoga saya bisa menjadi lebih baik. Tulisan ini sekaligus sebagai reminder untuk diri sendiri.
(Rd)

Foto : dokumentasi pribadi
Ngopi dulu aah...

Wednesday, 11 June 2014

Gerah

Gerah, itu yang kurasakan saat duduk di kursi salon ini. Ruangan yang tak begitu besar, namun ongkos service-nya cukup terjangkau dengan isi kantongku. Siang yang terik mungkin membuat orang enggan keluar rumah, hingga membuat salon yang biasanya sesak karena tarifnya yang murah meriah, menjadi sepi.

"Bisa dibantu, Mba?"tanya si pemilik salon

"Mau potong rambut, Mba," jawabku sambil melepas jilbab.

Tak ada cowok memang, namun perasaanku tetap awas mengingat beberapa minggu lalu dengan santainya seorang cowok masuk ke dalam salon tanpa ada aba-aba *memangnya salon babe gue? Ya ga salah juga, memang ini salon nerima customer cowok dan cewek. Tapi jarang banget ada cowok, makanya aku memilih salon ini. Dan memang benar, beberapa saat kemudian nongol sosok lelaki.

"Permisi, minta tanda tangan," teriaknya beberapa langkah dari pintu. Memangnya ada artis di sini? Aku celingak-celinguk. Untung tuh orang cuma di luar, dengan sigap asisten salon keluar menanganinya. Ternyata itu si tukang laundry lagi ngantar barang.

Sudah mulai bisa tenang sekarang, rambutku sudah mulai disemprot pakai air, dijepit sana sini biar gampang motongnya, dan.. mak jleb dengan cepatnya rambutku jatuh di sela-sela kakiku. Wih, ngebut amat motongnya si mba ini. Padahal ga ada antrian panjang di tempat ini, dan akulah satu-satunya customer saat ini.

"Dok! Dok! Dok!" Suara pintu digedok mengagetkanku. Tampak bayangan besar dari balik pintu kaca, pasti orangnya juga besar. Lagian ngapain juga pintunya digedok, semua orang bebas keluar masuk salon ini. Di pintu kan sudah terpampang tulisan "push" dan "pull", kenapa ga langsung dibuka aja.

"Ya bentar, mba!" tiba-tiba si mba asisten lari tergesa-gesa untuk membukakan pintu. "Loh kenapa dikunci mba?" tanyaku. Ternyata pintunya sengaja dikunci dari dalam.

"Iya mba, kalau ga gitu pintunya terbuka sendiri kalau kena angin," jawabnya

Oh gitu toh, belum selesai mataku puas memerhatikan pintu yang rusak tuh orang sudah main seruduk aja. Perempuan berperawakan tambun dan gendut mendorong pintu dengan kasar. Langkahnya mengguncangkan jiwaku. Ia mendaratkan pantatnya persis di kursi sebelahku, hingga aku bisa merasakan angin yang timbul saat ia mendaratkan tubuhnya.

Orang itu melihat ke arahku sejenak, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Suara berisik saat tas plastik dibuka sedikit menggangguku. Beberapa saat kemudia ia mengeluarkan sebatang paha ayam goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya. Aku tak menoleh sedikitpun, hanya memerhatikan dari cermin di depanku.

"Kriuk, kriuk, krikuk," suaranya sukses menarik perhatianku, dan hebatnya ia tak memerhatikan sekitar, kedua bola matanya fokus pada paha di hadapannya.

"Mba, mau potong rambut juga?" tanya perempuan yang sedang memotong rambutku, padanya.

Ia berhenti mengunyah sejenak, lalu mengangguk tanpa mengeluarkan suara, untuk kemudian menyantap kembali sebatang paha ayam berikutnya. Kali ini aromanya sampai ke dalam lubang hidungku. Amis banget.

Hah, aku langsung lemas, bertambah gerah. Berharap segera bisa meninggalkan tempat ini.
(Rd)


Foto: dokumentasi pribadi. Kalau lagi gerah trus lihat foto ini, rasanya adem kembali. Air dari sumber mata air

Tuesday, 10 June 2014

Mengendap-endap

Ia mengendap keluar, takut ada yang mendengar. Pintu itu berhasil dibuka setelah lebih dari 5 menit ia mencoba. Si gadis kecil berjalan dengan kaki menjinjit, mulutnya meringis.

Wanti, gadis kecil berusia 5 tahun sedang dihukum Bunda karena terlalu banyak menonton televisi. Ia tidak boleh keluar dari kamar sampai film kartun kesayangannya berakhir. Sore itu pukul 5, televisi yang biasanya menyala di ruang keluarga tampak mati. Suasana rumah begitu sunyi. Rumah yang biasanya hingar bingar oleh suara televisi mendadak sepi. Hanya ada Ayah yang baru pulang dari kantor sedang duduk di atas sofa sambil menikmati secangkir teh hangat. Sementara koran sore ada di pangkuannya.

Wanti bersembunyi di balik almari besar, sehingga dari sana ia bisa melihat ayahnya. Ingin rasanya Wanti berlari dan mendarat di pangkuan sang Ayah, namun ia segera ingat bahwa dirinya sedang dihukum. Nyalinya langsung menciut dan tubuhnya kian mengerucut ketika duduk dengan posisi jongkok, tanpa suara.

Beberapa saat kemudian Ayah terlihat mengendus sesuatu, seolah-olah mencium bau tidak sedap. Hidung Ayah bergerak-gerak sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, lalu berjalan mondar-mandir. Ia berbalik lagi dan akhirnya membungkuk di dekat meja seolah-olah sedang tercium bau tidak sedap di bawah meja. Wanti memerhatikan dari balik almari. Kedua bola matanya ikut mencari sesuatu yang kira-kira sedang dicari ayahnya. Beberapa saat kemudian Ayah berjalan menuju ke almari besar, Wanti terperanjat takut akan ketahuan. Hidung Ayah semakin cepat bergerak seperti gerakan hidung seekor marmut. Apa mungkin bau yang tidak sedap itu ada di dekat almari ini, pikir Wanti.

"Waaaa...!!" Teriak Ayah hingga mengagetkan Wanti. Kedua tangannya bersiap-siap seolah akan menangkapnya. Gadis kecil itu berlari dan keduanya tampak berkejar-kejaran.Suasana rumah mendadak menjadi gaduh.

"Ayaaah..!! Kenapa Ayah?" Wanti berteriak geli, sekaligus malu karena tempat persembunyiannya telah ditemukan.

Belum sempat rasa kagetnya hilang, tubuh gadis kecil itu lalu diiangkat ayahnya ke atas, lalu ditimang-timang dengan gemas. "Ternyata bau asemnya dari sini," kata Ayah sambil memeluk Wanti gemas. Sekonyong-konyong Wanti tertawa menyadari dirinya belum mandi.

Beberapa saat kemudian Bunda keluar dari dapur dengan membawa sepiring pisang goreng yang masih hangat, ia tertawa geli melihat tingkah laku keduanya.

"Ayo sini Wanti, Ayah, kita makan pisang goreng dulu. Sore itu mereka habiskan dengan bersenda gurau. Tanpa televisi yang menyala, kebersamaan mereka lebih terasa.
(Rd)

Foto : dokumentasi pribadi

Monday, 9 June 2014

Sebuah Ketulusan

Kejadian tempo hari masih belum bisa kulupakan. Bagaimana tidak, ketegaran hati seorang gadis cilik mampu membuatku tersadar. Betapa berharganya arti sebuah ketulusan.

Kulihat ia sedang mengamen di dekat lampu merah. Usianya mungkin 6 atau 7 tahun. Berbalut baju lusuh berwarna putih pudar ia berdiri di bawah terik mentari. Setelah lampu merah menyala ia turun ke jalan dengan berbekal alat musik sederhana. Koin-koin dironce sedemikian rupa hingga menimbulkan suara cukup berisik, menurutku. Didekatinya sebuah sedan hitam, lalu kaca mobilnya terbuka perlahan. Aku memperhatikan dari dalam taxi. Tidak terlalu dekat, jadi tak cukup jelas wajah pengamen maupun pengemudi itu. Dalam sekejab tangan gadis cilik itu menyodorkan sebuah kaleng bekas untuk menadah receh yang ia kira akan meluncur dari tapak tangan si pengemudi.

"Plookkk!!" Suara yang timbul akibat sebuah botol plastik bekas air minum mineral mendarat di jidatnya. Cukup keras hingga setelah mengenai kepala bocah itu, benda itu terpelanting cukup jauh ke atas. Aku tertegun, kaget bukan kepalang namun tak mampu berkata-kata. Dalam sekejab sedan itu berlalu meninggalkannya. Bunyi klakson bersahutan sebagai isyarat bahwa jalanan harus segera dikosongkan dari pejalan kaki termasuk pengamen cilik itu.

Aku yang mengamati dari dalam taxi, ingin rasanya mengumpat. Apalah maksudnya menghantamkan sebuah botol plastik pada kepala seorang bocah kecil. Taxi yang kutumpangi turut berlalu. Aku masih memandang sosok gadis yang semakin menjauh. Masih bisa kutangkap geraknya saat ia berlari turun kembali ke jalan untuk mengambil botol plastik itu dan segera membuangnya ke dalam tong sampah. Mungkin ia tidak mau jalanan tempat ia mengais rejeki menjadi kotor.

Pikiranku masih terpatri di sana. Begitu aku takjub melihat kesabaran hati seorang bocah cilik, dan sebuah ketulusan untuk melakukan kebaikan walaupun ia sendiri telah teraniaya. Subhanallah.(Rd)

Saturday, 7 June 2014

Renungan

Ada siang dan malam. Ada matahari dan bulan. Ada suka dan duka. Bukankah semua serba berkebalikan. Bisakah saya lari dari salah satunya. Bisakah saya memilih untuk menghindari sedikit atau semuanya. Sekali-kali adalah tidak. Takdir Allah yang berbicara. Roda dunia berputar, sekarang di atas suatu saat akan di bawah. Sekarang berteriak bangga besok bisa menangis sedih. Hari ini bisa berkata kasar, esok hari sudah tak mampu berkata-kata lagi.

Maka, masihkah ada hati untuk melukai dan meneriaki. Sekarang masih bisa menulis status di facebook, esok sudah ada foto kuburan kita diupload.

Astaghfirullah.

Monday, 2 June 2014

Kelinci Putih

Kelinci itu berwarna putih bersih, tergambar rapi di atas cover sebuah majalah anak-anak. Di dekat salah satu telingannya yang tegak berdiri, terselip sebuah pita merah berbentuk kupu-kupu. Mulutnya tersenyum dan kedua matanya berbentuk seperti bulan sabit melengkung ke atas, simbol bahwa mata tersebut sedang memancarkan keceriaan. Semuanya serba menyenangkan.

Namun di sana, di sudut sebuah halaman rumah, seekor kelinci putih dengan bulu yang kotor sedang tergeletak lemah. Ia terkurung dalam sebuah kandang kecil yang terbuat dari kawat. Tak ada yang peduli padanya, hingga tubuhnya terkulai lemah. Panas yang terik dan dingin malam yang menghujam, ditambah hujan deras yang mencekam, semakin menyudutkan keberadaannya.

Tak tama lagi, tinggal menunggu waktu. Tak lama lagi malaikat maut akan segera menghampirinya. Sakaratul maut.
(Rd)

Friday, 23 May 2014

Saling Berbagi Ilmu dan Informasi

Pembodohan manusia bisa dengan cara membuat jawaban yang tidak semestinya pada sebuah pertanyaan. Alasannya bisa berbagai faktor : untuk mengelabui, khawatir diungguli atau malas bicara. Kalau perlakuan seperti ini diterapkan pada seorang anak, bisa jadi di kemudian hari timbul rasa tidak percaya pada pembuat statement palsu, dan tentu saja berkurangnya rasa hormat pada sosok yang dulu selalu dipercayai dan ditiru tingkah lakunya. Jika diterapkan pada pasangan tentu saja akan berkurang rasa percaya satu sama lain, yang berujung pada beralihnya kepercayaan pada orang lain.

Kejujuran dalam memberikan jawaban atas pertanyaan berbobot maupun tidak berbobot, apalagi disertai kesabaran dan rasa maklum atas ketidaktahuan lawan bicara, akan menimbulkan apresiasi sehingga berpengaruh pada hubungan satu sama lain, entah itu dalam lingkungan keluarga maupun instansi.

Seseorang yang merasa memiliki derajat lebih tinggi sehingga meremehkan orang lain dengan cara memberikan jawaban yang tidak mengena, malas bicara dan enggan menjelaskan hingga berlarut-larut akan membuat kerdil orang lain. Orang yang bertanya sedang berada dalam kondisi haus akan informasi. Jika orang yang ditanya memiliki informasi yang dibutuhkan namun pada saat ditanya enggan menjelaskan, sama saja dengan pelit ilmu. Jangan sampai kita menjadi pelit informasi dengan orang-orang yang kita sayangi. Dalam sebuah keluarga sang anak haus informasi pada orang tuanya, istri yang stay at home mendapatkan informasi di luar melalui suami, suami yang bekerja di luar membutuhkan informasi melalui istri tentang perkembangan si anak, dll. Semua saling bergantung, tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi dan sok pintar satu sama lain. Roda dunia berputar, suatu saat kelak ayah bunda akan berusia lanjut dan stay at home, si anak akan menjadi dewasa dan lebih banyak di luar rumah untuk sekolah atau bekerja. Kalau ada yang menyembunyikan ilmu saat ditanya, sungguh telah melewatkan satu perbuatan baik.
(Rd)

Wednesday, 21 May 2014

Butuh Proses

Butuh waktu, butuh proses, kesan itulah yang saya tangkap dari hasil sekejab saja menikmati hasil goresan tangan anak saya. Sebuah gambar apik yang terlahir dari jemari mungil seorang anak berusia 5 tahun.
Awalnya saya menggerutu melihat beberapa lembar kertas gambar yang berserakan. Seperti biasa saya bertanya, "Icha, kenapa buku gambarnya disobek-sobek gitu..?" Sambil memperhatikan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba ditekuk, saya membereskan dan menata kertas-kertas itu. Ada rasa kesal melihat kamar yang awalnya tertata rapi mendadak dipenuhi kertas-kertas berserakan. Saya pun berlalu keluar kamar meninggalkan putri saya yang kembali asyik dengan buku gambarnya.


Beberapa saat kemudian setelah pekerjaan di dapur selesai, kembali saya menengok Icha yang ternyata telah terlelap di samping buku gambarnya. Crayon dan pensil warna ada di mana-mana tak beraturan. Setelah membetulkan posisi tidur Icha di atas bantal, lalu saya bereskan semuanya. Terlihat sebuah gambar yang baru saja diselesaikannya, cantik sekali. Saya tersenyum dan kagum melihatnya. Ada sebuah mobil merah yang sedang berhenti di dekat lampu merah. Sempurna sekali hasil gambarnya bagi anak seusianya. Imajinasi yang luar biasa. Tanpa mencontoh gambar manapun ia berhasil menuangkan obyek yang pernah dilihatnya di dunia nyata menjadi obyek di atas kertas gambar. Ada beberapa kertas yang berisi sketsa gambar yang tak jadi, lalu saya perhatikan. Ternyata ia berusaha menggambar mobil itu dengan sekuat tenaga... ada proses dan tahapan hingga ia berhasil menggambarnya...tanpa bantuan siapapun, tanpa ada contoh objek yang ada di hadapannya. Dengan hanya berbekal imajinasi dalam otaknya dan walau telah beberapa kali gagal, lahirlah sebuah mahakarya tak ternilai bagi bundanya.


Saya terhenyak, tersadar walaupun sebenarnya sudah tahu bahwa semua butuh proses dan waktu. Sebagai seorang anak kecil, tentu hal tersebut menjadi perjuangan besar dan tak akan menambah rasa percaya diri jika sebagai orang tua saya tak memberi apresiasi. Sebagai seorang dewasa yang tidak sepenuhnya memahami isi hati si kecil, hanya kesabaran yang perlu diperjuangkan dalam menghadapi tingkah lakunya. Ah, saya tertampar dengan kalimat sendiri. Tidak mengapa, tulisan ini menjadi semacam media introspeksi bagi diri sendiri. Pasti ada tujuan yang tak pernah kita tahu dari seorang anak berkaitan dengan sikapnya yang tidak kita mengerti.


Sekian dulu saya akhiri. Tidak usah terlalu banyak saya menuliskan ini karena khawatir berkesan menggurui, saya masih belajar menjadi orang tua. Teruskan semangatmu anakku. Tetap berjuang.

Wednesday, 12 February 2014

Shirley Temple

Shirley_Temple
Shirley_Temple (Photo credit: hto2008)




Innalillahiwainnailaihirojiun

Baru tadi pagi saya mendengar berita kematiannya, yang ternyata telah berpulang sejak dua hari yang lalu. Shirley Temple, idolaku semasa kecil telah meninggal dunia karena faktor usia. Ia menutup mata selama-lamanya pada umur 85 tahun. 

Beberapa hari yang lalu, adik saya menunjukkan foto wanita tua yang sedang berdiri di atas panggung pada saat menerima penghargaan. “Tebak siapa ini?” tanya adik saya. Saya dengan mudah menebak bahwa dia adalah Shirley Temple, karena memang ada caption di bagian atas foto tersebut yang bertuliskan namanya. Seketika memory ini kembali ke beberapa puluh tahun silam, dimana saya masih bocah dan mengidolakannya habis-habisan. Mungkin karena faktor kelangkaan. Ya, anak sekecil itu sudah tenar dan pandai bernyanyi maupun berakting, dan itu merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Setidaknya hanya segelintir anak yang mampu terekspos media masa kala itu.  Semua orang mengaguminya.
 
Sempat terbersit keinginan untuk menjadi seperti dirinya suatu saat kelak, menjadi tenar dan multi talenta. Setiap kali filmnya tayang, terutama di hari Minggu, dimana jumlah film anak-anak yang masih sangat jarang ditemui di stasiun televisi waktu itu, saya selalu bersorak girang. Seakan tiada hal yang lebih menyenangkan ketimbang menonton film Shirley Temple. Hanya TVRI yang waktu itu menjadi satu-satunya channel televisi, walaupun demikian saya sudah cukup senang. 

Timbul keinginan untuk mengorek kembali kabar tentang dirinya, apa aktivitasnya saat ini dan bagaimana kesehariannya setelah menginjak usia renta. Apakah dia masih hidup? Begitu batin saya. Mengingat film-film yang saya tonton dulu sudah sangat lama dan hampir rusak kualitasnya. Rencananya akan hunting berita-berita tentang dia di internet. Namun belum sempat itu saya lakukan, keburu tersiar berita kematiannya.

Anak ajaib, begitu sebutan saya untuknya. Walaupun usianya sudah tua, saya tetap menyebutnya demikian. Semoga ia diterima di sisiNya. 

(Rd)

Enhanced by Zemanta

Friday, 7 February 2014

Coklat Manis

Kadang kala yang kita butuhkan hanyalah segelas coklat, yang kental dan manis. Perubah suasana hati yang tadinya bete dan memuat emosi yang luar biasa menjadi semanis dan se-cool coklat. Kadangkala hanya dengan mensugesti diri sendiri suatu masalah dapat dengan lebih mudah dihadapi. Akan dibiarkan saja sesuatu hal itu karena ia berjalan di luar kendali kita, ataukah akan kita ubah dan pecahkan problematika di depan kita… semuanya tergantung dari seperti apa suasana hati kita.

Sejak detik-detik menjelang kita tidur malam, kita sudah membentuk sketsa bagaimana suasana hati kita setelah bangun pagi keesokan harinya. Bahkan setelah bangun pagi pun jika kita tidak pandai menjaga suasana hati karena mengijinkan hal buruk menyulut emosi dan pikiran, maka bad mood itu biasanya akan terbawa sampai sepanjang hari yang kita miliki.

Oleh karena itu, biar bisa fokus beraktivitas hari ini... yuk diseruput coklat manisnya mak… :)
(Rd)

Sunday, 2 February 2014

Kopi di Pagi Hari


Bahagia itu, jika bisa bangun pagi lalu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan cekatan dan selesai tepat waktu. Disambung dengan secangkir kopi susu panas hingga asapnya mengepul dari cangkirmu, dan aromanya menyebar ke seluruh ruangan.

Ketika akan meminumnya, kopinya terlalu panas jadi kau membiarkannya sejenak di atas meja. Sementara menunggu menjadi hangat, kau sibuk berkutat dengan buku-buku bacaan yang disusun rapi vertikal ke atas seolah-olah kau sanggup menghabiskan semua bacaan itu.

Terlalu asyiknya larut dalam alur novel hingga berjam-jam, kau lupa ada secangkir kafein yang sudah dingin sejak beberapa jam yang lalu. Ketika kau mengangkat cangkir itu, berpuluh-puluh pasukan semut hitam telah meluber di permukaan cairan hitam itu.

#Gagal minum kopi
(Rd)

Friday, 31 January 2014

Tidak Sekedar Copy Paste

Salah satu hal yang saya suka setelah menulis adalah kepuasan batin. Kupu-kupu yang beterbangan dalam dada ini serasa bebas lepas terbang liar ke alam terbuka. Sketsa benang yang masih menjadi simpul dalam otak seakan terurai panjang dan menemukan tempatnya di luar sana. Sungguh, balasan setimpal atas usaha untuk merajut kata dalam kalimat, dan merajut kalimat dalam sebuah cerita.

Lalu apa yang dirasakan oleh mereka yang kerap kali melakukan copy paste hasil karya orang lain dan menyajikannya kembali ke hadapan publik tanpa mencantumkan dari mana sumbernya, atau bahkan menyatakan bahwa tulisan tersebut adalah hasil karyanya. Apakah ada kepuasan batin yang didapat, yang ada malah rasa horor yang terus meneror selagi tulisan hasil jiplakannya menyebar luas.
(Rd)

Foto : seharusnya yang menyalin menyertakan sumbernya

Wednesday, 29 January 2014

Tidak Sekedar Ikut-ikutan


Memiliki pendirian itu penting. Berlatih agar tidak tertular sifat latah, akan berpengaruh pada pembentukan pribadi seseorang. Sejak masih kecil perlu dibiasakan untuk berekspresi sesuai jalur kesopanan dan agama, tidak terlalu mengekang kebebasan anak dalam berpendapat dan berperilaku. Dengan demikian si anak akan memiliki rasa percaya diri yang tumbuh alami seiring bertambahnya usia. Tidak tergerus oleh pengaruh luar yang menyesatkan. Awalnya mungkin hanya ikut-ikutan, namun hal seperti itu akan menjadi kebiasaan. Apabila tidak sama dan menjadi berbeda dengan teman sebaya, akan turun rasa percaya dirinya. Hal itu akan mendorong sifat meniru dan mematikan kreativitas, malas berpikir, dan malu menjadi berbeda dibanding teman-temannya, walaupun berbeda itu artinya menjadi lebih baik di mata orang-orang bijak dan menjadi ketinggalan jaman dari kacamata teman sebaya.

Ada kekhawatiran dalam diri ini sebagai orang tua memperhatikan perkembangan remaja jaman sekarang, walaupun remaja yang jauh lebih baik lebih banyak jumlahnya. Namun yang tampak heboh di mata saya karena selalu terekspos oleh media televisi, yaitu remaja-remaja yang kerap kali menjadi penonton bayaran acara live beberapa acara di stasiun televisi. Mereka bersorak-sorai meramaikan suasana, menari, menyanyi dan menirukan gaya sesuai arahan sutradara. Demi menaikkan rating, pihak stasiun tv memberdayakan sejumlah remaja untuk diposisikan sebagai penonton yang selalu ramai dengan tepuk tangannya, teriakan-teriakan histeris saat sang idola naik di atas panggung, dan sesekali ikut menari bersama sang artist sebagai penari latar.

Dari sisi mana sikap mereka yang layak dikatakan sebagai calon pemimpin bangsa, jika disuruh kesana kemari mereka ikut, disuruh begitu begini mereka menurut. Apakah sebagian dari generasi muda sudah terkena wabah membeo? Semoga saja tidak, semoga saja hanya sebagian kecil dari mereka yang seperti itu. Saya yakin di luar sana masih banyak pemuda pemudi yang tidak sekedar ikut-ikutan, bertahan dengan hasil karya mereka sendiri, bertumbuh dengan pemikiran-pemikiran inovatif dan tak lepas dari benteng iman.
(Rd)

Tuesday, 28 January 2014

Masa Lalu


Wanita itu terdiam, kedua bola matanya tak berkedip. Ia memandang sosok gadis yang sedang menangis setelah terlepas dari dekapan seorang lelaki di dekat area sebuah stasiun. Mereka sempat berpelukan dan sang lelaki membisikkan kata-kata yang membuat sang gadis menangis. Adegan dramatis itu sempat menarik perhatian beberapa orang yang melintas. Rupanya mereka sepasang kekasih yang hendak dipisahkan oleh jarak. “Apa yang sedang Anda lihat, Bu?” tanya rekan sejawatnya, karena kedua sosok yang sempat menjadi perhatian tersebut sudah tak nampak lagi. Wanita itu tersenyum. “Sebuah masa lalu,” jawabnya.

Rekan sejawat itu sedikit tak paham, namun tak ingin mempertanyakan lebih dalam lagi. Ia memilih untuk diam dan membiarkannya hanyut dalam sebuah pemikiran. Keduanya berjalan beriringan memasuki sebuah kantor yang tak jauh dari stasiun, tempat dimana mereka bekerja.

Baru saja menginjakkan kaki ke dalam ruang kantor, tiba-tiba dari ruang sebelah terdengar suara orang yang sedang berdebat. Meski samar, namun kata terakhir sempat terdengar jelas terbawa angin. “B*ngs*t kau!” Kedua rekan kerja yang sedang berselisih paham dan gagal mengendalikan emosi membuatnya kembali tercengang. “Apa lagi yang sedang Anda pikirkan, Bu?” tanya rekan sejawat yang sedari tadi selalu memperhatikan sikapnya. Lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum sambil menjawab, “Masa lalu.”

Bagi wanita itu, mengumbar emosi di depan banyak orang adalah sebuah masa lalu. Menangis di depan umum dan mengumbar kemesraan bersama kekasih hingga mendramatisir seperti adegan sinetron adalah sebuah sifat kekanak-kanakan. Lalu gagal mengendalikan emosi hingga terlontar kata-kata kotor yang sudah pasti tidak senonoh adalah sebuah sifat kekanak-kanakan pula. Ia bersyukur sudah melewati masa-masa labil yang penuh ketidakdewasaan dan mulai memperbaiki diri.

Begitu berharganya sebuah perjalanan hidup. Bergitu berharga waktu yang sudah dihabiskan menuju sebuah kedewasaan. Pengalaman hidup, telah membuatnya berubah, menjadi lebih bijaksana.
(Rd)