Thursday, 23 August 2012

Wanita Tegar

Melliferous flower
Melliferous flower (Photo credit: Wikipedia)

Wanita tegar bukan berarti keras kepala
Ia hanya mencoba untuk melawan keterpurukan dengan gigihnya
Wanita tegar bukan berarti tidak pernah menangis
Ia selalu menangis di setiap sakit hati yang menyayat tajam
Wanita tegar bukan berarti tetap pasrah
Ia selalu bertanya-tanya dan berontak dalam diamnya
Wanita tegar bukan berarti tidak pernah bersedih
Ia hanya tidak mau menjadi cengeng dengan memamerkan air mata
Wanita tegar bukan berarti pembangkang
Ia hanya berusaha menjalani apa yg diyakini benar
Karena tak mau terperosok ke dalam lubang yg sama
Wanita tegar bukan berarti tidak pernah putus asa
Ia tidak mau membebani orang terdekat dengan beban hidupnya
Wanita tegar selalu tersenyum dalam tangis
Dan  tak seorangpun tahu,  ia menangis dalam setiap senyuman

Enhanced by Zemanta

Wednesday, 22 August 2012

Sedikit Flash Back

English: Photograph of abdomen of a pregnant woman
English: Photograph of abdomen of a pregnant woman (Photo credit: Wikipedia)
Catatan ini aku temukan secara tidak sengaja. Tulisan yang kubuat saat diriku hamil besar, kurang lebih 1,5 tahun yang lalu. Sedikit flash back untuk mengenang bagaimana rasanya saat hamil dulu.

Badan ini serasa susah untuk digerakkan. Bahkan saat posisi tidurpun selalu merasa tidak nyaman, miring ke kiri miring ke kanan. Saat bangun tidur pinggang ini seperti kaku hingga terasa sakit saat dipaksa untuk bangkit dari tempat tidur. Perut yang semakin membesar apalagi menginjak usia kehamilan 8 bulan ini menjadi alasan utama untuk lebih berhati-hati dalam bersikap. Terkadang saat mengawasi putri pertama yang saat ini menginjak usia hampir 1,5 tahun, dan sedang lucu-lucunya apalagi banyak tingkahnya, aku langsung menyerah sambil mengibarkan bendera putih pada utinya. Itu tandanya aku ingin istirahat sejenak alias menyerahkan sejenak keberadaan si kecil pada ibuku…
Enhanced by Zemanta

Tuesday, 21 August 2012

Bocah di Atas Trotoar

Bungaku Bunga Liar, Bunga Trotoar...
Bungaku Bunga Liar, Bunga Trotoar... (Photo credit: Ikhlasul Amal)

Bocah di Atas Trotoar

“Bau badanmu menyengat sekali, berapa hari kau tidak mandi?” tanya Pinki pada teman barunya. Beberapa saat yang lalu Pinki berdiri di dekat perempatan lampu merah. Ia merasa terganggu sekali dengan pemandangan di dekatnya, seorang bocah cilik yang sedang melamun di atas trotoar. Kegiatan mengamen Pinki siang itu jadi terganggu dengan rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak tatkala menyaksikan ketenangan dan raut muka membisu sang bocah lelaki yang duduk termangu dengan pandangan kosong. Apalagi bocah itu tidak bergeming sedikitpun dengan panasnya terik mentari yang siang itu benar-benar membakar kulit.

“Berhari-hari kak…”jawab bocah lelaki itu dengan tampang cuek dan muka yang cemberut. Pinki semakin tak kuasa untuk pura-pura cuek dan tak mau tahu dengan keprihatinan yang dialaminya. Segera saja Pinki merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan yang baru saja ia dapat dari mengamen siang itu.

“Nih, buat kamu. Kamu bisa mandi di kamar mandi umum di ujung jalan sana,” kata Pinki sambil menunjuk letak kamar mandi umum itu. Bocah itu menoleh mengikuti arah tangannya lalu kembali menunduk. “Kenapa kamu?”tanya Pinki penasaran. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya sedang berkecamuk dalam pikiran bocah kecil itu.

Mereka berdua terdiam beberapa saat, lalu sang bocah berkata, “Rumahku tak jauh dari sini kak. Seminggu yang lalu aku lari dari rumah.” Pinki melongo mendengar pengakuannya. “Kenapa kamu lari dari rumah? Dan kenapa sekarang kamu tidak pulang saja ke rumah?” tanya Pinki dengan nada kasihan.

“Aku tadi sudah pulang ke rumah, lalu pergi lagi. Aku kaget ternyata orang tuaku tidak senang dengan kedatanganku. Mereka lebih suka aku pergi dari rumah itu,” jawab sang bocah sambil berlinang air mata.
Pinki tercengang mendengarnya.
Enhanced by Zemanta

Wednesday, 15 August 2012

Be be

BlackBerry closeup
BlackBerry closeup (Photo credit: Wikipedia)

BB itu selalu ada dalam genggamannya, bahkan pada saat duduk santai di depan televisi bersama istri dan kedua putrinya. Ia masih bercengkerama dengan BB itu, seolah telah terhipnotis oleh isi percakapan di dalamnya. Raganya duduk berdampingan dengan istri dan anak-anaknya, namun pikiran dan hatinya terbang mengelana jauh mengenang masa-masa sekolahnya dulu saat di bangku SMA. 

Sang istri menghela nafas, menatap wajah suami tercinta yang sedang tersenyum, namun bukan untuk dirinya. Lelaki itu tampak terhibur dengan menatap layar mungil dalam genggamannya. Entah apa yang tengah ia perbincangkan dalam BBM itu. 

Tiba-tiba kedua anak mereka rewel setelah berebut mainan, sang istri kewalahan melerai mereka. Sambil menatap wajah suami yang masih dengan asyiknya menatap layar BB, ia berkata, “Mas.. anak-anak.” Perkataan yang singkat namun penuh harap agar suami berhenti sejenak dari kegiatan chattingnya. Lelaki itu menoleh pada ketiganya, lalu menaruh BB itu di atas kasur dan mendekati kedua buah hati mereka. Ia pun menggendong salah satu di antaranya. Perempuan itu tersenyum lega karena suaminya mau meluangkan waktu. Mereka duduk kembali di depan televisi. Tak mengapa walau perhatian lelakinya tak mengarah padanya untuk saat itu, ia berusaha sabar… kedua bocah itupun bertengkar lagi. Kali ini mereka menangis hebat sambil berteriak. Seperti biasanya perempuan itu langsung menghampiri anak-anak dan melerainya. Sambil menoleh ke arah suami yang masih tengah berkutat dengan BB nya, sang istri terperangah, berharap suaminya meletakkan benda mungil itu dan melerai anak-anak kembali. Namun jemari lelaki itu masih lincah bermain di atas keypad. Perempuan itu tak kuasa lagi menahan tangis dan berlari meninggalkan ruangan untuk menumpahkan kesediahan. Sementara kedua anak mereka semakin berteriak kencang karena kedua orang tuanya tak ada yang mempedulikan.
Enhanced by Zemanta

Thursday, 28 June 2012

Kamu adalah kamu

English: Clouds & Sky. Portland, Oregon.
English: Clouds & Sky. Portland, Oregon. (Photo credit: Wikipedia)

Jangan takut terpengaruh olehku, karena aku tak akan mengubahmu
Jangan takut menjadi sepertiku, karena aku tak akan memaksamu
Jangan takut masuk ke dalam duniaku, karena tidak seburuk seperti yg engkau kira
Aku hanya menunjukan caraku
Aku hanya memberi pilihan baru untukmu
Aku hanya ingin membebaskanmu dari keterpurukanmu

Tolong singkirkan obat pembasmi itu
Aku bukan virus
Tolong buka pikiranmu
Aku bukan pencuci otak
Tolong singkirkan senjata itu
Aku bisa teraniaya

Kau bebas memilih
Tetap seperti dulu,
Atau menjadi manusia baru
Yg lebih bermutu
Kamu adalah kamu


Enhanced by Zemanta

Sunday, 24 June 2012

Di Suatu Senja

English: colourful sunset. knysna, south afric...
English: colourful sunset. knysna, south africa. slightly photoshopped to enhance the colours. (Photo credit: Wikipedia)


Di suatu senja yg sejuk, angin semilir mengibaskan rambut Ratih yg masih basah. Ia sedang merenung di atas atap rumahnya. Ritual yg selalu dilakukan gadis berusia 16 tahun itu, tatkala hatinya sedang gundah gulana. Sementara itu asap mengepul dari secangkir kopi panas tepat di samping gadis itu menyelonjorkan kakinya. Kehangatan masih tersisa di permukaan genting hingga terasa di permukaan tapak kaki Ratih, karena sejak siang tadi terik mentari tak berkesudahan menerpa bumi.

“Ah, apa lagi yang bisa kuperbuat untuk bisa menyelesaikan masalah ini,” ucapan lirih terlontas dari bibir Ratih. Perlahan ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia sadar telah terlalu lama membiarkan minumannya dingin hingga ia tak bergairah untuk menikmatinya lagi. Segera Ratih memaksakan diri untuk meneguk kopinya walau telah dingin. Pemandangan langit berangsur gelap, senja telah berganti. Ratih masih terpana menatap awan putih, perlahan kemilau bintang mulai muncul satu persatu. Seolah tersihir dengan keindahan langit ciptaan Tuhan, hati Ratih berbunga. Ciptaan Tuhan begitu indah, sejenak ia lupa akan permasalahan yg sedang menimpa dirinya. 
Enhanced by Zemanta

Tuesday, 26 July 2011

Ketamakan sang Raja

Castle Neuschwanstein at Schwangau, Bavaria, G...Image via Wikipedia

Pagi itu desa Kayalan sedang dihebohkan dengan berita hangat tentang keputusan raja yang baru naik tahta beberapa hari yang lalu. Tidak tanggung-tanggung, sampai ada yang bercucuran air mata. Pasalnya setiap perempuan yang ada di desanya diharuskan memberi jamuan makan yang digilir setiap harinya, padahal semua orang juga tahu, bahwa rakyat di desanya terkenal dengan kemiskinannya. Untuk makan keluarga sendiri saja susah, apalagi harus memberi jamuan makan pada seorang raja yang nafsu makannya luar biasa. Tubuhnya yang gemuk dan tambun, membuatnya kesusahan saat berjalan. Sebagian besar waktunya dihabiskan hanya di tempat tidur. Nyaris tidak ada aktifitas lain yang dilakukannya selain makan dan tidur. Padahal rakyat sudah cukup menderita, bahkan sebelum ia naik tahta.

Seorang anak yang cukup cerdik, bernama Dahlan sangat geram dengan ulah sang raja dan tak bisa tinggal diam begitu saja. Didatanginya sang raja saat itu juga setelah ia menyaksikan sendiri keadaan seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah ibunya sendiri. “Hey raja gendut, tahukan kamu kisah dibalik makanan yang sedang kau nikmati saat ini?” Sang raja tak mengindahkan perkataan Dahlan, ia tetap mengunyah sebatang paha ayam yang cukup besar. Di hadapannya terbentang berbagai macam makanan yang sangat menggiurkan. Ia semakin geram dengan sikap cuek sang raja.

“Tahukah kamu, wanita yang telah memasak semua makanan ini sekarang sedang terbaring lemah akibat kelelahan karena tidak tidur semalaman? Tidakkah kau merasa iba dengannya?” Dahlan menunggu reaksi sang raja, beberapa saat raja melirik ke arah Dahlan dan menghentikan kunyahannya, lalu ia kembali menyantap makanan yang lain. Dahlan semakin geram, namun ia tak dapat berbuat apapun. Lalu ia pulang, dalam perjalanan pulang Dahlan berdoa agar Tuhan segera menyadarkannya.

Beberapa jam kemudian tersiar kabar bahwa sang raja jatuh sakit akibat makan terlalu banyak. Masakan yang ia makan kali ini benar-benar lezat hingga tak bisa membuat sang raja berhenti makan. Beberapa saat setelah makan sang raja jatuh pingsan akibat rasa mulas pada perutnya. Dahlan hanya tersenyum mendengar kabar itu, ia berharap raja segera menyadari kesalahannya.

Enhanced by Zemanta

Sunday, 3 July 2011

Berharap

Spring Means Green and HOPE has Arrived!Image by cobalt123 via Flickr

Langkah kaki merayap

Tapak kaki meraba dalam gelap

Galau hati semakin mengendap

Akankah kepalsuan terungkap


Berharap tabir dapat tersingkap

Hingga kebahagiaan semakin mendekat

Getir pahit yg sempat terkecap

Biarlah pudar dalam sekejab

Enhanced by Zemanta

Wednesday, 29 June 2011

kafein

This photo shows the place where the rainbow r...Image via WikipediaApa ini yg sedang melompat-lompat. Membuyarkan tatanan rapi setiap lapisan bentuk yg kubangun. Membangunkan mata hati yg lelap tertidur. Menghentakkan lamunan-lamunan tak bermutu. Kafein…! Mengapa kaugodaiku lagi? Lihat efek hebat yg kau ciptakan dalam duniaku. Carut marut susunan warnaku menyemburat dalam lapisan sembur.
Enhanced by Zemanta

Sunday, 30 January 2011

Jangan Biarkan Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga

Dengan segenap rasa takjub, Mita menikmati alunan merdu suara Rina, kakak sepupunya. Tak henti-hentinya Mita mengamati setiap gerakan gemulai tubuh dan kedua tangan Rina saat memamerkan kemampuan olah vokalnya di hadapan undangan yang hadir. Dalam acara ulang tahun Rina yang diadakan di rumahnya itu, tak ada yang lebih menarik perhatian Mita selain suara merdu kakak sepupunya.

Setelah acara selesai digelar, Mita mencari celah waktu untuk dapat berbincang sejenak dengan Rina. Bukan perbincangan biasa seperti yang kerap mereka lakukan, karena topik yang ingin Mita bicarakan ini tak boleh ada orang lain yang tahu. Mita anaknya pemalu dan tertutup sekali.

“Kak Rina, boleh aku tanya sesuatu?” Mita mendekati kakaknya saat tak ada orang di sekeliling mereka. Anggota keluarga yang lain sedang berkumpul di teras rumah, jadi hanya ada mereka berdua saat ini di kamar Rina.

“Tanya apa Mit? Tumben pake suara pelan,” jawab Rina dengan senyum menggoda. Mita pun mendekat dan duduk di samping Rina di atas pembaringan. Ada rasa malu dan ragu-ragu saat hendak menanyakan sesuatu, seolah niat itu timbul tenggelam setelah berhadapan dengan kakak sepupunya itu. Mita tak ingin ditertawakan setelah menyampaikan apa yang ada di benaknya, karena selama ini Rina sering menggoda dirinya dan masih menganggapnya sebagai anak ingusan.

“Mmm…begini Kan Rin, gimana sih caranya biar bisa punya suara merdu seperti kakak?” akhirnya Mita memberanikan diri mengungkapkan tanya yang selama ini membelenggu dirinya.

Rina tak segera merespon, ia hanya diam saja seolah tak percaya dengan apa yang ditanyakan adik sepupunya baru saja. Mita semakin heran dengan sikap mematung yang dibuatnya. Tiba-tiba tawa Rina meledak dengan suara keras, hingga mengagetkan siapa saja yang mendengarnya. Sontak Mita merasa seperti terpental beberapa meter ke belakang saat suara menggelegar itu membuat jantungnya hampir saja copot.

Mita pun tak angkat bicara, ia masih tercengang dengan sikap kakanya. Apa yang salah dengan pertanyaannya. Apa ada yang lucu dalam kalimatnya.

Menyadari bahwa adiknya kebingungan dengan tawanya, Rina pun segera mengakhiri rasa senangnya. Melihat muka Mita yang culun dan tak mengerti dengan apa yang membuat dirinya tertawa semakin membuatnya gemas, namun Rina tak ingin membuat adik sepupunya menangis.

“Mita…Mita…itu sudah bakat sejak lahir,” jelas Rina dengan intonasi suara yang dibuat setenang mungkin. Mendengar itu muka Mita kelihatan kaget dan kecewa. Seolah tak puas dengan jawaban Rina, Mita terdiam sambil mengernyitkan dahi seolah masih tak mengerti dengan jawaban Rina bahwa itu sudah bakat sejak lahir.

“Jadi tidak bisa dipelajari tuh Kak Rin? Bakat turunan maksudnya?” tanya Mita masih tak mengerti.

“Yaa… kira-kira seperti itulah. Kenapa Mit?”

“Mita ingin jadi penyanyi kak,” jawab Mita datar dan dengan suara pelan.

Mendengar itu spontan tawa Rina menggelegar untuk kedua kalinya. Mita semakin putus asa dibuatnya. Ia segera berlalu meninggalkan Rina yang masih terpingkal-pingkal dengan pernyataannya baru saja. Pernyataan yang paling jujur yang pernah ia akui di hadapan orang lain selain dirinya sendiri. Kini, Mita merasa sangat malu dan menyesal telah menceritakan obsesi terpendam itu pada orang lain.

Hari demi hari Mita lalui dengan tanpa ada semangat. Keceriaan yang selalu ia rasakan saat mendengarkan dan melantunkan lagu-lagu favoritnya kini tak lagi ada. Rasa putus asa telah mematahkan semangatnya. Seolah dunia berhenti berputar.

Saat Mita duduk lemah terkulai di pojok kamarnya, air matanya meleleh. Ia menangis sesenggukan. Tak ada suara yang keluar, hanya isak tangis yang membuat dadanya terasa sesak. Tiba-tiba seperti ada suara entah darimana datangnya, yang mengatakan bahwa itu semua tidak benar. Semua masalah pasti ada jalan keluar. Mendadak Mita merasa yakin bahwa semua itu bisa diusahakan dan dipelajari. Seperti ada bisikan dalam benaknya bahwa apa yang dikatakan kakak sepupunya itu bohong belaka. Mita merasa ada spirit yang kembali mengalir dalam aliran darahnya. Tangisnya pun berhenti. Hatinya menjadi tenang kembali, lalu segera ia mengusap air mata dari kedua mata dan pipinya.

Hari-hari berikutnya Mita lalui dengan perjuangan keras. Setiap hari ia berlatih menyanyi dan menyanyi. Hingga suatu ketika Mita memberanikan diri mengikuti lomba menyanyi di sekolahnya. Tak disangka, lomba pertama yang ia ikuti dapat memberikan keyakinan pada diri Mita, bahwa segala sesuatu pasti bisa diusahakan. Mita berhasil mendapatkan juara kedua.

Hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik adalah, dalam berkarya jangan biarkan sekelumit cercaan atau kata-kata menyakitkan menghalangi kita untuk terus berkarya. Sebaliknya, jadikan cambuk agar kita dapat membuktikan kualitas dan kesungguhan kita. Orang yang sukses selalu harus menapaki tangga dari bawah sebelumnya. Tidak mengapa rasa sakit itu ada, namun tetap harus fokus untuk terus berkarya. Jangan biarkan nila setitik, rusak susu sebelanga. Viva forever…

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Sunday, 16 January 2011

Manis Gulaku

cangkir kopiImage by dump9x via Flickr

Sudah berapa banyak butir-butir gula melewati kerongkonganku. Telah berapa kwintal gula berkontribusi dalam proses penggemukan tubuhku. Sudah semanis apa ia menyemarakkan hari-hariku kala pahit getir melintas dalam batinku.

Lalu kutuang kau dalam larutan teh kesukaanku. Menghangatkan lambungku, dan membuatku lupa sejenak akan penatku. Manismu semanis rasa yang selalu ingin kurasa. Semakin manis semakin hilanglah gelisah di diriku.

Saat kuseduh dirimu bertemankan secawan teh, sudah tak sabar ingin menuangmu merasuk sampai tulang rusukku.

Enhanced by Zemanta

Saturday, 8 January 2011

Tebing Terjal

Kulayangkan pandang saat tubuh ini terbaring. Masih dengan kantuk yang samarkan penglihatanku. Kufokuskan bayangan yang belum jelas itu. Ada sebentuk wajah mungil di hadapanku. Perlahan mendekat kemudian menjauh. Seperti sebuah senyuman tersungging dari bibirnya. Kabut kembali menyelimuti pandanganku. Kekedipkan berkali-kali mata ini lalu kufokuskan kembali pandanganku. Wajah itu telah berubah menjadi sekepal tangan yang siap menonjok mukaku. Tangan siapa ini. Akupun tak sadarkan diri.

Aku merayap di atas tanah yang penuh dengan bongkahan batu. Lalu pandanganku tertuju pada sebongkah batu besar berwarna coklat. Samar-samar terlihat dari jauh batu itu diselimuti kabut dingin. Aku mendekat. Ternyata sebuah tebing terjal berdiri dengan gagahnya di hadapanku. Tak ada jalan lain, aku harus mendaki. Kutapakkan satu demi satu kakiku dengan susah payah. Semakin lama aku semakin tinggi dan hampir mencapai puncak. Tebing itu terasa semakin terjal. Semakin berat kaki ini menapak. Ngeri membayangkan diri ini terjatuh.

Hawa terasa semakin dingin menusuk tulang. Aku tak tahan lagi. Ingin segera mengakhiri petualangan ini. Tebing yang sedang kudaki membalikkan tubuhku hingga aku terjungkal. Tebing itu berubah menjadi ombak besar, yang mendorong tubuhku melayang di udara. Saat aku berada di puncak ketinggian, ombak itu berubah menjadi air bah. Aku terbenam di dalam arusnya.

Enhanced by Zemanta

Friday, 7 January 2011

Dampak Sinetron

Sinetron berdurasi 5 jam telah mematikan sendi2 kehidupan. Sinetron yang telah mengubah segalanya termasuk tingkah laku ibu2 rumah tangga. Kebiasaan yang saat ini telah menjadi trend yang ditiru oleh ibu2 lainnya. Setiap jam 7 malam tepat para ibu telah bertengger di sofa masing2 untuk dapat menikmati acara hiburan ini tanpa beranjak sedikitpun dari layar kaca televisi sampai dengan pukul 12 tengah malam, bahkan hanya untuk kepentingan ke kamar kecilpun harus dengan terburu2 karena tak ingin tertinggal sedikitpun setiap tayangannya. Apalagi acara ini telah dikurangi jeda iklannya agar penontonnya lebih betah dan tak perlu menunggu lama untuk dapat menyaksikan kelanjutannya.

Betapa sinetron telah menjadi candu yang kurang positif bagi setiap anggota keluarga, apalagi anak2. Para ibu yang setia di depan televisi selama berjam2 menjadi lalai akan kewajibannya untuk menemani anak2nya belajar di rumah. Bahkan si anak terbawa dengan kebiasaan ibunya, sama2 asyik menonton sinetron dan melupakan kewajiban belajar. Yang lebih tragis lagi, si bapak juga ikut tertular virus sinetron ini.

Menonton acara hiburan sebenarnya diperlukan untuk mengurangi kepenatan akibat aktifitas sehari2 yang monoton, namun tentu ada batasnya. Acara sinetron berdurasi 5 jam ini benar2 telah mematikan aktifitas lainnya yang jauh lebih penting.

Monday, 3 January 2011

Belajar Disiplin

Membiasakan diri untuk disiplin dalam segala hal memang berat, apalagi jika kebiasaan menunda2 pekerjaan telah mendarah daging. Tunggu apa lagi sekarang? Segera lakukan saja. Semakin menunda maka semakin merugilah kamu, karena waktu yang kau miliki semakin menipis hingga kau akan kekurangan waktu. Saat kau merasa waktumu semakin sempit, pikiranmu semakin kalut. Hingga kau berubah menjadi seorang yang sensitif. Secepat kilat kau berusaha mengejar ketertinggalan waktu, hingga kau ledakkan emosi pada setiap apa dan siapa yang melintas.

Tengok saja apa yang tengah dialami si Buyung. Ia terbiasa menunda2 tugas dari dosen, hingga menjelang dead line ia harus lembur semalaman. Kamar ditutup rapat, tak boleh ada yang berisik. Bahkan saat bik iyem mengetuk pintu kamar untuk menawarkan makan malam pun dihardiknya.

Wednesday, 29 December 2010

Angin Malam

Dalam hembusan angin malam yang mencekam, ia terbaring tak berdaya. Tubuhnya terbalut selimut kusam yang semakin hari makin menipis. Seolah selimut itu ikut terpuruk, tak kuat lagi menahan dinginnya terpaan angin kencang.

Lalu kuputuskan untuk membuka mantel tebal kebesaranku. Kulucuti satu persatu tiap lapis kain kebesaranku dan kubalutkan di atas tubuhnya yang semakin melemah. Ia pun tampak sedikit nyaman walau masih dengan mata terpejam.

Aku tak peduli tubuhku semakin membeku. Walau kebekuan itu menjalar sampai ke dalam kulit ini, lalu merasuk dalam relung kalbu. Karena sejak lama hatiku telah membeku.

Titik-titik salju itu pun turun. Satu persatu menutup tiap jengkal permukaan tubuhku, hingga tak terlihat lagi. Tugasku telah selesai. Ragaku sudah tak kuat lagi bertahan. Aku pun dengan tenang menghembuskan nafas terakhir. Selamat tinggal semua jiwa raga…

Wednesday, 22 December 2010

Kabut Malam

Rasa kantuk menghampiri, namun hasrat tak jua berhenti. Bertanya dalam hati. Takdirku ada dimana kini. Mencari celah dimana ada petunjuk illahi. Kemana langkah harus berhenti. Dalam balutan alas kaki. Agar tiada kerikil tajam menyakiti.

Tiba-tiba keharusan menuntunku tuk tidak berhenti. Peluang ini mesti dicoba sampai raga tak kuat lagi. Meski tulang punggung sudah tak mampu memapah raga yang rapuh ini. Tak ada jalan lain selain mengikuti. Apa-apa yang sudah dicoba sebelum ini. Jadikan bunga kehidupan dan pengalaman diri.

Friday, 19 November 2010

Akankah

kusutImage by unsunghero via FlickrSimpul-simpul perlahan mulai tampak jelas
Terurai satu persatu dari seonggok benang kusut
Peluang tuk ciptakan sesuatu yag baru
Akankah tercipta sulaman yang indah
ataukah bernasib sama menjadi benang kusut kembali


Enhanced by Zemanta

Friday, 5 November 2010

Penggunaan Internet Tepat Guna

Pemanfaatan teknologi internet dapat memberi dampak positif maupun negatif. Betapa tidak, segala informasi dari seluruh penjuru dunia bisa diakses dengan mudah kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Tergantung dari niat pengguna internet itu sendiri, pemanfaatannya untuk tujuan kebaikan atau sebaliknya. Mengingat begitu mudahnya kita dapat mengakses informasi yang diinginkan serta minimnya pengawasan dari pihak terkait maka timbulnya penyalahgunaan internet juga berpeluang tinggi.

Sebaliknya, internet bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk tujuan edukasi. Pihak yang selalu haus akan informasi pasti sangat membutuhkan teknologi ini. Selain biaya yang sangat murah, hemat waktu, juga praktis dapat digunakan dimana saja. Bahkan dengan adanya kemudahan ini, banyak sekali orang-orang yang memanfaatkannya untuk bekerja dari rumah. Ibu rumah tangga banyak yang memanfaatkan peluang ini agar dapat menghasilkan uang sambil mengawasi anak-anak mereka di rumah. Pekerjaan seperti pembuatan laporan keuangan, jualan online dan menulis serabutan bisa dikerjakan di rumah.

Saat inipun tengah marak diadakan sekolah atau pelatihan online, sehingga hal ini memberi peluang bagi mereka yang membutuhkan pelatihan maupun pendidikan namun terkendala jarak yang jauh. Kuliah jarak jauh yang dilakukan secara berkala tanpa melalui tatap muka sangat fleksibel digunakan bagi mereka yang sangat sibuk dan terpisah oleh jarak. Dengan demikian proses belajar mengajar tidak perlu lagi menggunakan buku atau kertas sebagai media, cukup dengan mengakses secara online materi yang didapat, sehingga penghematan kertas yang berdampak pada penghematan penggunaan kayu berdampak positif pada pelestarian hutan.


Enhanced by Zemanta

Saturday, 16 October 2010

O la la...

Aku ingin pulang...Image by nunnui ™ via FlickrRumput ilalang kembali bergoyang
Tak kuasa menahan terpaan angin kencang
Mencari inspirasi sambil berdendang
Yang didapat hanyalah kebingungan

Menatap layar komputer dengan mata telanjang
Terasa silau bagai ditusuk tombak tajam
Hidup merantau di negeri orang
Terasa asing hingga ingin cepat pulang
Enhanced by Zemanta

Tuesday, 12 October 2010

Kenanglah

Bunga tulip pinkImage via WikipediaApa yg bisa kuceritakan padamu
Maukah kau mendengar sayap-sayap rindu yg terus terbang mencari tempat peraduan ini

Apa yg bisa kutunjukkan padamu
Apakah guratan-guratan di dahiku belum cukup menjadi bukti bahwa aku telah berpikir keras demi kelangsungan hidup kita selama ini

Apa yg dapat kusombongkan padamu
Apakah sayatan-sayatan pisau di pergelangan tanganku dapat menjadi saksi bahwa aku telah menghukum diriku sendiri atas kesalahan yg pernah kubuat padamu

Apa yg bisa kupersembahkan padamu
Apakah wajahku tak cukup cantik untuk kaunikmati dan kaucumbui dalam mimpi indahmu

Apa yg dapat kuwariskan untukmu
Selain memori indah masa-masa kejayaan kita dulu kala kau masih menyanjungku di atas segala-galanya

Kenang...
Kenanglah aku dalam ingatanmu
Agar hidup selamanya jiwaku dalam sanubarimu
Enhanced by Zemanta

Monday, 11 October 2010

Melarikan Diri

Door Knob with Lock USAImage via WikipediaKedua tapak kakinya berjalan mengendap-endap dalam gelap. Berusaha melangkahkan kaki dengan benar agar tak menginjak sedikitpun barang-barang yang tergeletak berserakan di lantai dalam sebuah kamar yang sempit. Masih beberapa meter lagi untuk sampai pada pintu keluar. Raganya ingin segera membebaskan diri dari sekapan manusia iblis yang tak berperasaan. Jiwanya ingin segera berteriak setelah mencapai ruang di balik pintu itu. Berhasil...! Tangannya meraih gagang pintu itu, namun sayang masih terkunci. Segera diambilnya segebok kunci dari dalam saku kemejanya. Satu persatu ia masukkan anak kunci pada lubang kunci dengan tangan gemetar. Semakin lama semakin bergetar kedua tangannya saat menyadari tak satupun dari anak-anak kunci itu yang belum berhasil membuka daun pintu, kecuali satu kunci yang masih tersisa. Dengan sedikit menghela nafas untuk menenangkan diri, ia mencoba kembali anak kunci terakhir secara perlahan dan penuh pengharapan. Klek...! berhasil terbuka. Tiba-tiba sang penjaga sedikit tersentak. Untunglah penjaga itu kembali tertidur dalam balutan selimut tebal yang hangat. Segera saja tanpa pikir panjang ia mendorong pintu itu kuat-kuat dan mengambil langkah seribu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Enhanced by Zemanta

Thursday, 7 October 2010

Diapers

diapers for my sonImage by x86x86 via FlickrSuatu ketika Nini, seorang ibu rumah tangga hendak membeli satu pak diapers ukuran besar di sebuah baby shop terdekat di rumahnya. Ia bermaksud membeli satu pak ukuran besar langsung karena harganya lebih murah dibanding satu pak yg lebih kecil. Setelah sampai di sana ternyata persediaan diapers satu pak besar telah habis terjual, yg tersisa hanya beberapa pak ukuran kecil yg harganya lebih mahal. Dengan terpaksa Nini membeli beberapa diapers ukuran pak kecil untuk persediaan beberapa hari saja. Nini menyesal kenapa sebelumnya tidak memborong sekaligus persediaan pak besar yg ada di toko itu. Kemudian ia beralih ke baby shop lain yg jaraknya lebih jauh. Walaupun berhasil mendapatkan diapers ukuran pak besar namun tetap saja cost nya lebih mahal , karena ada tambahan biaya transport.

Beberapa minggu kemudian Nini kembali ke baby shop pertama. Kali ini ia memborong beberapa pak besar diapers sekaligus. Pengalaman sebelumnya yaitu kehabisan stock tidak ingin terulang lagi. Namun beberapa hari kemudian Nini bingung karena budget untuk kebutuhan lain sudah terpakai untuk membeli diapers. Nah loh...gimana solusinya...
Enhanced by Zemanta

Wednesday, 6 October 2010

Tanggung Jawab

BEst-FriendImage by Untitled blue via FlickrSelalu saja ada sesuatu untuk dirisaukan. Tak peduli betapa banyak orang yg kan membantumu dalam mengaruhi bahtera hidup, selalu tahap akhir keputusan ada pada dirimu sendiri. Berpulang pada diri sendiri untuk menentukan jalan hidup yg kan berujung pada tanggung jawab masing2 individu. Tak kan mungkin bisa kau menggantungkan sepenuhnya ataupun sebagian saja tanggung jawab yg kau miliki pada orang lain, bahkan pada orang terdekat sekalipun karena masing2 individu punya kapasitasnya masing2 untuk memikul tanggung jawab masing2. Tak kan mungkin mampu seorang individu memanggku tanggung jawab individu lain, karena tiap individu pasti diberi cobaan hidup masing2. Kalaupun bisa hanya dalam taraf tertentu saja, yg selebihnya harus diselesaikan sendiri oleh si empunya masalah.
Enhanced by Zemanta

Komitmen dengan Waktu

Meniti WaktuImage by MyNasir via FlickrSemakin lama semakin menipis persediaan waktuku. Untuk itu kumohon ringankan pekerjaanku, agar cukup waktuku. Andaikan aku tak memiliki rasa lelah, tentu tak kan terbengkalai segala kewajibanku. Andaikan ku tak memiliki rasa malas, tentu telah banyak karya yang telah kuukir. Andaikan aku tak dapat merasakan rasa kantuk, tentu aku mempergunakan sisa waktu sepanjang malam ini tuk mengerjakan apa yang belum tuntas siang tadi.

Dapatkah aku berkomitmen dengan waktu, agar tak terlalu cepat berlari meninggalkanku. Dapatkah aku meringkas pekerjaanku, agar tak berbelit seperti benang kusut tak berujung. Dapatkah aku bermusuhan dengan rasa kantuk yg selalu mendera di saat suasana sedang mendukung.

Jikalau aku melewatkan waktu sepanjang malam ini hanya untuk memuaskan rasa kantuk, tentu esok pagi rasa penyesalan itu menghampiri sekali lagi, seperti saat2 sebelumnya. Kebiasaan yg berulang tanpa mengerjakan sesuatu yg berharga hanya kan menghabiskan sisa waktuku yg semakin menipis. Begitu setiap hari dan seterusnya. Lalu apa maknanya hidup jika selalu merasakan ketidakpuasan dan ketertinggalan. Selalu merasa tertinggal oleh waktu, di sisi lain pekerjaan itu semakin menumpuk dan bertambah volumenya.

Ayo, segera bangkit dari rasa kantuk. Bangun dan belalakkan matamu hingga kau tak mampu lagi tuk berpikir dan merasa jenuh. Inilah saatnya tuk beraksi!
Enhanced by Zemanta

Friday, 17 September 2010

Tak Gentar Sedikitpun

This is a Survive Logo with freak "S"Image via Wikipedia

Suatu ketika ada seorang ibu muda tengah berjalan sendirian sambil menggendong anak semata wayangnya yang masih berusia satu tahun. Ia sedang berusaha mencari makan untuk anaknya yang sedang kelaparan, sedang rasa lapar yang ia rasakan sendiri tak begitu dihiraukannya. Baginya, kelangsungan hidup anaknya adalah di atas segala-galanya. Saat tengah melintas di jalan yang sepi di malam yang pekat dan dingin, tiba-tiba datang sekelompok orang berusaha merampoknya. Begitu menyadari ibu muda itu tak memiliki harta sedikitpun, tiba-tiba mereka marah dan langsung memukulnya. Spontan ibu muda itu menjerit kesakitan saat mereka menendang, memukul dan mengayunkan sebilah kayu berkali-kali ke arahnya. Bayi yang ada di gendongannyapun ia lindungi sekuat tenaga dengan tubuhnya yang lemah dan kurus itu, hingga tubuhnya penuh dengan memar dan bersimbah darah. Sedang bayi itupun menangis meraung-raung di bawah lindungan tubuh ibunya.


Selesai menjalankan aksinya mereka langsung pergi ngeloyor dan meninggalkan ibu beserta bayinya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Untunglah sang bayi selamat, tidak mengalami luka sedikitpun. Sedangkan sang ibu menangis sesenggukan dan mengucapkan syukur alhamdulillah menyadari sang buah hati dalam keadaan selamat, padahal tubuhnya sendiri penuh darah dan remuk tulangnya.


Menyadari tak ada seorangpun yang melintas apalagi menolongnya, ia pun memaksakan diri dengan sisa tenaga yang dimiliki untuk kembali berdiri melanjutkan perjalanan sambil menggendong sang buah hati. Berharap ada seseorang yang melintas dan menolongnya.

Enhanced by Zemanta

Thursday, 19 August 2010

Kumbang

Kumbang dan BungaImage by Yulian Firdaus via FlickrAda seekor kumbang betina yang bertubuh kecil dan buruk rupa. Ia hidup bersama dengan ke 32 ekor kumbang lainnya sejak kecil. Seiring berjalannya waktu ia semakin kelihatan buruk rupa, hingga ia dikucilkan dari kelompoknya. Pada saat kerabatnya sedang membangun sarang pada sebuah dahan pohon, kumbang kecil itu berusaha memperingatkan mereka bahwa dahan pohon di sana tidaklah aman untuk dijadikan tempat tinggal, namun mereka tidak mempedulikan kumbang kecil itu. Ia jadi sangat sedih. Suatu ketika kumbang kecil membangun sendiri sarang buatannya pada dahan pohon lain yang sangat rindang. Walaupun bekerja sendirian dan tidak mendapat dukungan dari kerabatnya, ia pantang menyerah hingga sarang itupun telah siap untuk dijadikan tempat tinggal.

Suatu ketika turun hujan deras disertai angin kencang. Petir telah menyambar pohon tempat tinggal ke 32 kumbang-kumbang itu hingga sarangnya ikut hangus terbakar. Hanya beberapa ekor kumbang saja yang berhasil menyelamatkan diri. Melihat hal itu, si kumbang kecil jadi semakin sedih dan mengajak mereka untuk berteduh dalam sarang buatannya sendiri. Sejak saat itu si kumbang kecil sangat dihormati kerabat-kerabatnya, dan mereka hidup bahagia selamanya.
Enhanced by Zemanta

Friday, 6 August 2010

A L Y A (Part 3)

Gadis SeluetImage by Roslan Tangah (aka Rasso) via Flickr

Kebetulan ada salah seorang dosen yang sangat baik hati, namanya Pak Rifki. Beliau mengijinkan Alya untuk bertandang ke rumahnya setiap kali ia ingin berkonsultasi mengenai mata kuliah tersebut. Karena seringnya frekuensi Alya bertandang ke rumah, pak Rifki yang masih muda orangnya dan statusnya masih lajang diam-diam menaruh hati terhadap Alya. Awalnya Pak Rifki salut dan mengagumi kegigihan Alya untuk mendalami mata kuliah itu, apalagi ia mengetahui bahwa selama ini Alya menanggung sendiri biaya kuliahnya dan hidup mandiri dari hasil bekerja sebagai penulis.


Pak Rifki mendorong Alya untuk kembali menekuni pekerjaannya sebagai penulis, hingga suatu ketika beliau memperkenalkan Alya pada kerabatnya yang juga seorang penulis. Terbukalah bagi Alya pintu untuk kembali menuju ke sana, namun kali ini peluang terbuka lebar tidak hanya sebagai penulis lepas namun juga sebagai penulis tetap di sebuah surat kabar harian nasional terkemuka. Peluang Alya semakin terbuka lebar sejak Alya dekat dengan Pak Rifki yang selama ini membimbingnya.



Alya pun semakin jatuh hati terhadap dosen pujaannya itu. Kini Alya kembali memperoleh spirit untuk meneruskan kuliah dan job menulis yang sempat terbengkalai. Sebaliknya Alya telah mendapatkan calon teman hidup yang ia anggap sebagai penyelamat hidupnya.


Hubungan merekapun berjalan selam bertahun-tahun sampai suatu saat setelah ia berhasil menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi tersebut, Alya berjanji untuk mengajak kekasihnya itu ke kampung halannya di Madiun untuk diperkenalkan pada kedua orang tuanya. Merekapun akhirnya bertunangan.

Enhanced by Zemanta

A L Y A (Part 2)

Gadis SeluetImage by Roslan Tangah (aka Rasso) via Flickr

Mulailah masa beradaptasi bagi Alya. Kesulitan membagi waktu antara kuliah dan job menulis membuatnya keteteran. Dead line menulis yang diberikan bersamaan waktunya dengan jadwal ujian. Alya merasa stres dan sering uring-uringan. Beberapa kali ia mangkir dari jadwal kuliah hanya untuk menenangkan diri. Ujian di semester pertama harus ia lalui dengan record buruk. Nilai yang didapat sangat tidak memuaskan, dan beberapa mata kuliah harus diulang di semester selanjutnya.


Hal ini tidak menjadikan Alya jera. Pikiran yang kalut menyebabkannya tidak semangat belajar. Skors pun harus diterima Alya karena dead line menulis selalu tidak ditepatinya. Akibatnya penghasilan yang rutin ia terima setiap bulannya sudah tidak ada lagi. Sumber mata pencaharian satu-satunya yang sebelumnya ia banggakan telah raib. Rasa bersalah dan malu terhadap orang tua atas prestasi buruknya di perguruan tinggi membuatnya tak sampai hati untuk meminta bantuan biaya pada mereka. Walaupun sangat ingin pulang ke kampung halaman untuk menceritakan semuanya pada orang tua, niat itu ia urungkan.


Hingga suatu kali Alya terjebak dalam rutinitas kehidupan malam. Pacar baru Alya yang bernama Boby, dan teman-teman satu genknya mempengaruhi cara bersikap dan berpikirnya. Apalagi Boby yang terkenal borju selalu mendorongnya untuk semakin tenggelam dalam kehidupan malam yang sebelumnya belum pernah Alya kenal. Ketergantungan Alya dengan biaya hidup yang kini ditanggung Boby membuatnya semakin tak bisa lepas dari pelukan Boby.


Alya berusaha tersadar dari rusaknya kehidupan yang kini menghantuinya. Masuk di semester kedua ini ada rasa ingin bangkit dari keterpurukan. Perlahan namun pasti, ia berusaha menjauh dari Boby dan teman-teman kehidupan malamnya. Di kelaspun, Alya berusaha akrab dengan semua dosen, dengan tujuan ingin memfokuskan pikirannya di setiap mata kuliah yang sedang ia tempuh. (Bersambung)

Enhanced by Zemanta

A L Y A (Part 1)

Gadis SeluetImage by Roslan Tangah (aka Rasso) via Flickr

Saat pertama membuka pintu depan rumah di suatu pagi yang terang benderang, Alya menemui bertumpuk-tumpuk dedaunan kering yang berserakan memenuhi halaman depan rumah kontrakannya. Begitu banyaknya hingga ia tak bisa menemukan sandal yang biasa ia gunakan sebagai alas kaki untuk menapaki halaman itu. Kumuh sekali, pikirnya. Seperti rumah yang sudah bertahun-tahun tak berpenghuni. Padahal baru kemarin sore ia membersihkan halaman itu. Pohon mangga yang lebat daunnya tumbuh di halaman pekarangan rumah Alya. Saking lebatnya sampai menutup pancaran sinar matahari, dan bila hujan deras mengguyur, tak sedikitpun tanah di pekarangannya basah oleh tetes air hujan.


Sudah seminggu Alya menempati rumah kontrakan itu. Sudah banyak biaya yang ia habiskan untuk merenovasinya, maklum rumah itu sudah kosong bertahun-tahun hingga bangunannya hampir ambruk. Ada banyak lumut di tiap tembok, dan atapnya banyak yang bocor hingga airnya merembes masuk ke dalam tembok rumah dan membekas membentuk lukisan pulau-pulau tak beraturan. Aliran listriknyapun banyak yang tak berfungsi hingga harus memanggil tukang untuk memperbaiki semuanya, termasuk mencat ulang warna tembok yang awalnya sangat kotor, kini telah berubah menjadi warna putih yang bersih.


Alya terpaksa mengontrak rumah itu karena minimnya dana yang ia miliki, selain itu karena berdekatan dengan kampus yang kini menjadi tempat barunya untuk mengenyam pendidikan. Sejak diterima di Universitas Airlangga jurusan Akuntansi, Alya yang saat ini mulai masuk semester pertama dan tinggal berjauhan dengan orang tuanya yang tinggal di Madiun harus merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa bertahan hidup di kota Surabaya yang penuh dengan persaingan. Impiannya untuk masuk salah satu universitas ternama di jawa timur itu telah terkabul berkat do’a dan kerja kerasnya. Selain itu ia berhasil mendapatkan bea siswa dari perusahaan ayahnya atas keberhasilannya masuk ke universitas negeri, jadi persediaan dana untuk hidup beberapa bulan atas biayanya sendiri sedikit terbantu.


Alya yang ngotot untuk membiayai sendiri hidupnya sejak lulus SMA, telah meluruhkan hati kedua orang tuanya. Walaupun kedua orang tuanya masih mampu untuk membiayai kuliahnya, namun Alya tak ingin merepotkan lagi dan ingin belajar hidup mandiri, mengembara ke kota yang belum pernah sekalipun ia jajaki. Kenekatannya dan keyakinan untuk kuliah dan mencari sendiri penghasilan dari upahnya menulis di beberapa media surat kabar dan majalah remaja terkenal, membuatnya selalu optimis. (Bersambung)

Enhanced by Zemanta

Wednesday, 4 August 2010

Waduh

Spectacular old-fashioned dress shopImage by marcus_jb1973 via Flickr

“Waduh, baju yang kupakai sama warnanya dengan pramuniaga-pramuniaga itu,” Riri terperanjat saat beberapa langkah akan memasuki salah satu counter pakaian di sebuah mall. Sudah kepalang tanggung, dari rumah ia memang berniat untuk mendatangi counter itu untuk membeli beberapa helai pakaian. Sempat terhenti sejenak langkah Riri ketika ia memutuskan untuk menerjang saja masuk ke dalam.


Ada rasa malu dan tidak percaya diri saat melenggang masuk ke sela-sela pakaian yang tergantung dan berbaris rapi di hanger. Sekilas ia memperhatikan baju yang dikenakan salah seorang pramuniaga yang berdiri tidak jauh darinya. Mulai dari warna biru kotak-kotak yang sama persis, walaupun modelnya yang berbeda, sampai celana jins biru yang dikenakan juga sama warnanya.


Belum sampai satu menit ia berada di dalam sana, dalam hitungan detik Riri segera memutuskan untuk keluar saja dari ruangan itu, dan mencari ke counter lain. Saat akan berbalik, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk-nepuk punggungnya dengan halus. “Mbak, ini ada yang size M?” tanya salah seorang gadis cantik dengan dua kepangan rambut dan kaca mata tebal sedang tersenyum manis, sedang kedua tangannya sibuk menyodorkan sehelai gaun panjang berwarna pink kearah Riri.


Menyadari hal itu Riri hanya tersenyum kecut menahan malu. Segera ia mempercepat langkahnya dan meninggalkan gadis yang sedang kebingungan itu. Tiba-tiba saja ia memasuki sebuah counter yang khusus menjual kemeja casual. Tanpa pikir terlalu lama ia memilih sebuah kemeja berwarna pink dan langsung menuju kasir. Setelah membayar, Riri langsung masuk ke fitting room untuk mengganti baju atasan yang dikenakannya. “Siiip…,” pikir Riri.


Beberapa saat kemudian ia kembali memasuki counter tempat khusus menjual gaun yang baru saja ia tinggalkan tadi. Dengan begitu Riri merasa leluasa dan nyaman berlama-lama dalam counter itu untuk mendapatkan gaun yang sesuai dengan seleranya.

Enhanced by Zemanta