| Melliferous flower (Photo credit: Wikipedia) |
Thursday, 23 August 2012
Wanita Tegar
Wednesday, 22 August 2012
Sedikit Flash Back
| English: Photograph of abdomen of a pregnant woman (Photo credit: Wikipedia) |
Badan ini serasa susah untuk digerakkan. Bahkan saat posisi tidurpun selalu merasa tidak nyaman, miring ke kiri miring ke kanan. Saat bangun tidur pinggang ini seperti kaku hingga terasa sakit saat dipaksa untuk bangkit dari tempat tidur. Perut yang semakin membesar apalagi menginjak usia kehamilan 8 bulan ini menjadi alasan utama untuk lebih berhati-hati dalam bersikap. Terkadang saat mengawasi putri pertama yang saat ini menginjak usia hampir 1,5 tahun, dan sedang lucu-lucunya apalagi banyak tingkahnya, aku langsung menyerah sambil mengibarkan bendera putih pada utinya. Itu tandanya aku ingin istirahat sejenak alias menyerahkan sejenak keberadaan si kecil pada ibuku…
Tuesday, 21 August 2012
Bocah di Atas Trotoar
| Bungaku Bunga Liar, Bunga Trotoar... (Photo credit: Ikhlasul Amal) |
Bocah di Atas Trotoar
“Bau badanmu menyengat sekali, berapa hari kau tidak mandi?” tanya Pinki pada teman barunya. Beberapa saat yang lalu Pinki berdiri di dekat perempatan lampu merah. Ia merasa terganggu sekali dengan pemandangan di dekatnya, seorang bocah cilik yang sedang melamun di atas trotoar. Kegiatan mengamen Pinki siang itu jadi terganggu dengan rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak tatkala menyaksikan ketenangan dan raut muka membisu sang bocah lelaki yang duduk termangu dengan pandangan kosong. Apalagi bocah itu tidak bergeming sedikitpun dengan panasnya terik mentari yang siang itu benar-benar membakar kulit.“Berhari-hari kak…”jawab bocah lelaki itu dengan tampang cuek dan muka yang cemberut. Pinki semakin tak kuasa untuk pura-pura cuek dan tak mau tahu dengan keprihatinan yang dialaminya. Segera saja Pinki merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan yang baru saja ia dapat dari mengamen siang itu.
“Nih, buat kamu. Kamu bisa mandi di kamar mandi umum di ujung jalan sana,” kata Pinki sambil menunjuk letak kamar mandi umum itu. Bocah itu menoleh mengikuti arah tangannya lalu kembali menunduk. “Kenapa kamu?”tanya Pinki penasaran. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya sedang berkecamuk dalam pikiran bocah kecil itu.
Mereka berdua terdiam beberapa saat, lalu sang bocah berkata, “Rumahku tak jauh dari sini kak. Seminggu yang lalu aku lari dari rumah.” Pinki melongo mendengar pengakuannya. “Kenapa kamu lari dari rumah? Dan kenapa sekarang kamu tidak pulang saja ke rumah?” tanya Pinki dengan nada kasihan.
“Aku tadi sudah pulang ke rumah, lalu pergi lagi. Aku kaget ternyata orang tuaku tidak senang dengan kedatanganku. Mereka lebih suka aku pergi dari rumah itu,” jawab sang bocah sambil berlinang air mata.
Pinki tercengang mendengarnya.
Wednesday, 15 August 2012
Be be
| BlackBerry closeup (Photo credit: Wikipedia) |
Thursday, 28 June 2012
Kamu adalah kamu
| English: Clouds & Sky. Portland, Oregon. (Photo credit: Wikipedia) |
Sunday, 24 June 2012
Di Suatu Senja
| English: colourful sunset. knysna, south africa. slightly photoshopped to enhance the colours. (Photo credit: Wikipedia) |
Tuesday, 26 July 2011
Ketamakan sang Raja
Pagi itu desa Kayalan sedang dihebohkan dengan berita hangat tentang keputusan raja yang baru naik tahta beberapa hari yang lalu. Tidak tanggung-tanggung, sampai ada yang bercucuran air mata. Pasalnya setiap perempuan yang ada di desanya diharuskan memberi jamuan makan yang digilir setiap harinya, padahal semua orang juga tahu, bahwa rakyat di desanya terkenal dengan kemiskinannya. Untuk makan keluarga sendiri saja susah, apalagi harus memberi jamuan makan pada seorang raja yang nafsu makannya luar biasa. Tubuhnya yang gemuk dan tambun, membuatnya kesusahan saat berjalan. Sebagian besar waktunya dihabiskan hanya di tempat tidur. Nyaris tidak ada aktifitas lain yang dilakukannya selain makan dan tidur. Padahal rakyat sudah cukup menderita, bahkan sebelum ia naik tahta.
Seorang anak yang cukup cerdik, bernama Dahlan sangat geram dengan ulah sang raja dan tak bisa tinggal diam begitu saja. Didatanginya sang raja saat itu juga setelah ia menyaksikan sendiri keadaan seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah ibunya sendiri. “Hey raja gendut, tahukan kamu kisah dibalik makanan yang sedang kau nikmati saat ini?” Sang raja tak mengindahkan perkataan Dahlan, ia tetap mengunyah sebatang paha ayam yang cukup besar. Di hadapannya terbentang berbagai macam makanan yang sangat menggiurkan. Ia semakin geram dengan sikap cuek sang raja.
“Tahukah kamu, wanita yang telah memasak semua makanan ini sekarang sedang terbaring lemah akibat kelelahan karena tidak tidur semalaman? Tidakkah kau merasa iba dengannya?” Dahlan menunggu reaksi sang raja, beberapa saat raja melirik ke arah Dahlan dan menghentikan kunyahannya, lalu ia kembali menyantap makanan yang lain. Dahlan semakin geram, namun ia tak dapat berbuat apapun. Lalu ia pulang, dalam perjalanan pulang Dahlan berdoa agar Tuhan segera menyadarkannya.
Beberapa jam kemudian tersiar kabar bahwa sang raja jatuh sakit akibat makan terlalu banyak. Masakan yang ia makan kali ini benar-benar lezat hingga tak bisa membuat sang raja berhenti makan. Beberapa saat setelah makan sang raja jatuh pingsan akibat rasa mulas pada perutnya. Dahlan hanya tersenyum mendengar kabar itu, ia berharap raja segera menyadari kesalahannya.
Sunday, 3 July 2011
Wednesday, 29 June 2011
kafein
Sunday, 30 January 2011
Jangan Biarkan Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga
Dengan segenap rasa takjub, Mita menikmati alunan merdu suara Rina, kakak sepupunya. Tak henti-hentinya Mita mengamati setiap gerakan gemulai tubuh dan kedua tangan Rina saat memamerkan kemampuan olah vokalnya di hadapan undangan yang hadir. Dalam acara ulang tahun Rina yang diadakan di rumahnya itu, tak ada yang lebih menarik perhatian Mita selain suara merdu kakak sepupunya.
Setelah acara selesai digelar, Mita mencari celah waktu untuk dapat berbincang sejenak dengan Rina. Bukan perbincangan biasa seperti yang kerap mereka lakukan, karena topik yang ingin Mita bicarakan ini tak boleh ada orang lain yang tahu. Mita anaknya pemalu dan tertutup sekali.
“Kak Rina, boleh aku tanya sesuatu?” Mita mendekati kakaknya saat tak ada orang di sekeliling mereka. Anggota keluarga yang lain sedang berkumpul di teras rumah, jadi hanya ada mereka berdua saat ini di kamar Rina.
“Tanya apa Mit? Tumben pake suara pelan,” jawab Rina dengan senyum menggoda. Mita pun mendekat dan duduk di samping Rina di atas pembaringan. Ada rasa malu dan ragu-ragu saat hendak menanyakan sesuatu, seolah niat itu timbul tenggelam setelah berhadapan dengan kakak sepupunya itu. Mita tak ingin ditertawakan setelah menyampaikan apa yang ada di benaknya, karena selama ini Rina sering menggoda dirinya dan masih menganggapnya sebagai anak ingusan.
“Mmm…begini Kan Rin, gimana sih caranya biar bisa punya suara merdu seperti kakak?” akhirnya Mita memberanikan diri mengungkapkan tanya yang selama ini membelenggu dirinya.
Rina tak segera merespon, ia hanya diam saja seolah tak percaya dengan apa yang ditanyakan adik sepupunya baru saja. Mita semakin heran dengan sikap mematung yang dibuatnya. Tiba-tiba tawa Rina meledak dengan suara keras, hingga mengagetkan siapa saja yang mendengarnya. Sontak Mita merasa seperti terpental beberapa meter ke belakang saat suara menggelegar itu membuat jantungnya hampir saja copot.
Mita pun tak angkat bicara, ia masih tercengang dengan sikap kakanya. Apa yang salah dengan pertanyaannya. Apa ada yang lucu dalam kalimatnya.
Menyadari bahwa adiknya kebingungan dengan tawanya, Rina pun segera mengakhiri rasa senangnya. Melihat muka Mita yang culun dan tak mengerti dengan apa yang membuat dirinya tertawa semakin membuatnya gemas, namun Rina tak ingin membuat adik sepupunya menangis.
“Mita…Mita…itu sudah bakat sejak lahir,” jelas Rina dengan intonasi suara yang dibuat setenang mungkin. Mendengar itu muka Mita kelihatan kaget dan kecewa. Seolah tak puas dengan jawaban Rina, Mita terdiam sambil mengernyitkan dahi seolah masih tak mengerti dengan jawaban Rina bahwa itu sudah bakat sejak lahir.
“Jadi tidak bisa dipelajari tuh Kak Rin? Bakat turunan maksudnya?” tanya Mita masih tak mengerti.
“Yaa… kira-kira seperti itulah. Kenapa Mit?”
“Mita ingin jadi penyanyi kak,” jawab Mita datar dan dengan suara pelan.
Mendengar itu spontan tawa Rina menggelegar untuk kedua kalinya. Mita semakin putus asa dibuatnya. Ia segera berlalu meninggalkan Rina yang masih terpingkal-pingkal dengan pernyataannya baru saja. Pernyataan yang paling jujur yang pernah ia akui di hadapan orang lain selain dirinya sendiri. Kini, Mita merasa sangat malu dan menyesal telah menceritakan obsesi terpendam itu pada orang lain.
Hari demi hari Mita lalui dengan tanpa ada semangat. Keceriaan yang selalu ia rasakan saat mendengarkan dan melantunkan lagu-lagu favoritnya kini tak lagi ada. Rasa putus asa telah mematahkan semangatnya. Seolah dunia berhenti berputar.
Saat Mita duduk lemah terkulai di pojok kamarnya, air matanya meleleh. Ia menangis sesenggukan. Tak ada suara yang keluar, hanya isak tangis yang membuat dadanya terasa sesak. Tiba-tiba seperti ada suara entah darimana datangnya, yang mengatakan bahwa itu semua tidak benar. Semua masalah pasti ada jalan keluar. Mendadak Mita merasa yakin bahwa semua itu bisa diusahakan dan dipelajari. Seperti ada bisikan dalam benaknya bahwa apa yang dikatakan kakak sepupunya itu bohong belaka. Mita merasa ada spirit yang kembali mengalir dalam aliran darahnya. Tangisnya pun berhenti. Hatinya menjadi tenang kembali, lalu segera ia mengusap air mata dari kedua mata dan pipinya.
Hari-hari berikutnya Mita lalui dengan perjuangan keras. Setiap hari ia berlatih menyanyi dan menyanyi. Hingga suatu ketika Mita memberanikan diri mengikuti lomba menyanyi di sekolahnya. Tak disangka, lomba pertama yang ia ikuti dapat memberikan keyakinan pada diri Mita, bahwa segala sesuatu pasti bisa diusahakan. Mita berhasil mendapatkan juara kedua.
Hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik adalah, dalam berkarya jangan biarkan sekelumit cercaan atau kata-kata menyakitkan menghalangi kita untuk terus berkarya. Sebaliknya, jadikan cambuk agar kita dapat membuktikan kualitas dan kesungguhan kita. Orang yang sukses selalu harus menapaki tangga dari bawah sebelumnya. Tidak mengapa rasa sakit itu ada, namun tetap harus fokus untuk terus berkarya. Jangan biarkan nila setitik, rusak susu sebelanga. Viva forever…
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp
Sunday, 16 January 2011
Manis Gulaku
Sudah berapa banyak butir-butir gula melewati kerongkonganku. Telah berapa kwintal gula berkontribusi dalam proses penggemukan tubuhku. Sudah semanis apa ia menyemarakkan hari-hariku kala pahit getir melintas dalam batinku.
Lalu kutuang kau dalam larutan teh kesukaanku. Menghangatkan lambungku, dan membuatku lupa sejenak akan penatku. Manismu semanis rasa yang selalu ingin kurasa. Semakin manis semakin hilanglah gelisah di diriku.
Saat kuseduh dirimu bertemankan secawan teh, sudah tak sabar ingin menuangmu merasuk sampai tulang rusukku.
Saturday, 8 January 2011
Tebing Terjal
Kulayangkan pandang saat tubuh ini terbaring. Masih dengan kantuk yang samarkan penglihatanku. Kufokuskan bayangan yang belum jelas itu. Ada sebentuk wajah mungil di hadapanku. Perlahan mendekat kemudian menjauh. Seperti sebuah senyuman tersungging dari bibirnya. Kabut kembali menyelimuti pandanganku. Kekedipkan berkali-kali mata ini lalu kufokuskan kembali pandanganku. Wajah itu telah berubah menjadi sekepal tangan yang siap menonjok mukaku. Tangan siapa ini. Akupun tak sadarkan diri.
Aku merayap di atas tanah yang penuh dengan bongkahan batu. Lalu pandanganku tertuju pada sebongkah batu besar berwarna coklat. Samar-samar terlihat dari jauh batu itu diselimuti kabut dingin. Aku mendekat. Ternyata sebuah tebing terjal berdiri dengan gagahnya di hadapanku. Tak ada jalan lain, aku harus mendaki. Kutapakkan satu demi satu kakiku dengan susah payah. Semakin lama aku semakin tinggi dan hampir mencapai puncak. Tebing itu terasa semakin terjal. Semakin berat kaki ini menapak. Ngeri membayangkan diri ini terjatuh.
Hawa terasa semakin dingin menusuk tulang. Aku tak tahan lagi. Ingin segera mengakhiri petualangan ini. Tebing yang sedang kudaki membalikkan tubuhku hingga aku terjungkal. Tebing itu berubah menjadi ombak besar, yang mendorong tubuhku melayang di udara. Saat aku berada di puncak ketinggian, ombak itu berubah menjadi air bah. Aku terbenam di dalam arusnya.
Friday, 7 January 2011
Dampak Sinetron
Sinetron berdurasi 5 jam telah mematikan sendi2 kehidupan. Sinetron yang telah mengubah segalanya termasuk tingkah laku ibu2 rumah tangga. Kebiasaan yang saat ini telah menjadi trend yang ditiru oleh ibu2 lainnya. Setiap jam 7 malam tepat para ibu telah bertengger di sofa masing2 untuk dapat menikmati acara hiburan ini tanpa beranjak sedikitpun dari layar kaca televisi sampai dengan pukul 12 tengah malam, bahkan hanya untuk kepentingan ke kamar kecilpun harus dengan terburu2 karena tak ingin tertinggal sedikitpun setiap tayangannya. Apalagi acara ini telah dikurangi jeda iklannya agar penontonnya lebih betah dan tak perlu menunggu lama untuk dapat menyaksikan kelanjutannya.
Betapa sinetron telah menjadi candu yang kurang positif bagi setiap anggota keluarga, apalagi anak2. Para ibu yang setia di depan televisi selama berjam2 menjadi lalai akan kewajibannya untuk menemani anak2nya belajar di rumah. Bahkan si anak terbawa dengan kebiasaan ibunya, sama2 asyik menonton sinetron dan melupakan kewajiban belajar. Yang lebih tragis lagi, si bapak juga ikut tertular virus sinetron ini.
Menonton acara hiburan sebenarnya diperlukan untuk mengurangi kepenatan akibat aktifitas sehari2 yang monoton, namun tentu ada batasnya. Acara sinetron berdurasi 5 jam ini benar2 telah mematikan aktifitas lainnya yang jauh lebih penting.
Monday, 3 January 2011
Belajar Disiplin
Membiasakan diri untuk disiplin dalam segala hal memang berat, apalagi jika kebiasaan menunda2 pekerjaan telah mendarah daging. Tunggu apa lagi sekarang? Segera lakukan saja. Semakin menunda maka semakin merugilah kamu, karena waktu yang kau miliki semakin menipis hingga kau akan kekurangan waktu. Saat kau merasa waktumu semakin sempit, pikiranmu semakin kalut. Hingga kau berubah menjadi seorang yang sensitif. Secepat kilat kau berusaha mengejar ketertinggalan waktu, hingga kau ledakkan emosi pada setiap apa dan siapa yang melintas.
Tengok saja apa yang tengah dialami si Buyung. Ia terbiasa menunda2 tugas dari dosen, hingga menjelang dead line ia harus lembur semalaman. Kamar ditutup rapat, tak boleh ada yang berisik. Bahkan saat bik iyem mengetuk pintu kamar untuk menawarkan makan malam pun dihardiknya.
Wednesday, 29 December 2010
Angin Malam
Dalam hembusan angin malam yang mencekam, ia terbaring tak berdaya. Tubuhnya terbalut selimut kusam yang semakin hari makin menipis. Seolah selimut itu ikut terpuruk, tak kuat lagi menahan dinginnya terpaan angin kencang.
Lalu kuputuskan untuk membuka mantel tebal kebesaranku. Kulucuti satu persatu tiap lapis kain kebesaranku dan kubalutkan di atas tubuhnya yang semakin melemah. Ia pun tampak sedikit nyaman walau masih dengan mata terpejam.
Aku tak peduli tubuhku semakin membeku. Walau kebekuan itu menjalar sampai ke dalam kulit ini, lalu merasuk dalam relung kalbu. Karena sejak lama hatiku telah membeku.
Titik-titik salju itu pun turun. Satu persatu menutup tiap jengkal permukaan tubuhku, hingga tak terlihat lagi. Tugasku telah selesai. Ragaku sudah tak kuat lagi bertahan. Aku pun dengan tenang menghembuskan nafas terakhir. Selamat tinggal semua jiwa raga…
Wednesday, 22 December 2010
Kabut Malam
Tiba-tiba keharusan menuntunku tuk tidak berhenti. Peluang ini mesti dicoba sampai raga tak kuat lagi. Meski tulang punggung sudah tak mampu memapah raga yang rapuh ini. Tak ada jalan lain selain mengikuti. Apa-apa yang sudah dicoba sebelum ini. Jadikan bunga kehidupan dan pengalaman diri.
Friday, 19 November 2010
Akankah
Terurai satu persatu dari seonggok benang kusut
Peluang tuk ciptakan sesuatu yag baru
Akankah tercipta sulaman yang indah
ataukah bernasib sama menjadi benang kusut kembali
Friday, 5 November 2010
Penggunaan Internet Tepat Guna
Sebaliknya, internet bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk tujuan edukasi. Pihak yang selalu haus akan informasi pasti sangat membutuhkan teknologi ini. Selain biaya yang sangat murah, hemat waktu, juga praktis dapat digunakan dimana saja. Bahkan dengan adanya kemudahan ini, banyak sekali orang-orang yang memanfaatkannya untuk bekerja dari rumah. Ibu rumah tangga banyak yang memanfaatkan peluang ini agar dapat menghasilkan uang sambil mengawasi anak-anak mereka di rumah. Pekerjaan seperti pembuatan laporan keuangan, jualan online dan menulis serabutan bisa dikerjakan di rumah.
Saat inipun tengah marak diadakan sekolah atau pelatihan online, sehingga hal ini memberi peluang bagi mereka yang membutuhkan pelatihan maupun pendidikan namun terkendala jarak yang jauh. Kuliah jarak jauh yang dilakukan secara berkala tanpa melalui tatap muka sangat fleksibel digunakan bagi mereka yang sangat sibuk dan terpisah oleh jarak. Dengan demikian proses belajar mengajar tidak perlu lagi menggunakan buku atau kertas sebagai media, cukup dengan mengakses secara online materi yang didapat, sehingga penghematan kertas yang berdampak pada penghematan penggunaan kayu berdampak positif pada pelestarian hutan.
Saturday, 16 October 2010
O la la...
Tak kuasa menahan terpaan angin kencang
Mencari inspirasi sambil berdendang
Yang didapat hanyalah kebingungan
Menatap layar komputer dengan mata telanjang
Terasa silau bagai ditusuk tombak tajam
Hidup merantau di negeri orang
Terasa asing hingga ingin cepat pulang
Tuesday, 12 October 2010
Kenanglah
Maukah kau mendengar sayap-sayap rindu yg terus terbang mencari tempat peraduan ini
Apa yg bisa kutunjukkan padamu
Apakah guratan-guratan di dahiku belum cukup menjadi bukti bahwa aku telah berpikir keras demi kelangsungan hidup kita selama ini
Apa yg dapat kusombongkan padamu
Apakah sayatan-sayatan pisau di pergelangan tanganku dapat menjadi saksi bahwa aku telah menghukum diriku sendiri atas kesalahan yg pernah kubuat padamu
Apa yg bisa kupersembahkan padamu
Apakah wajahku tak cukup cantik untuk kaunikmati dan kaucumbui dalam mimpi indahmu
Apa yg dapat kuwariskan untukmu
Selain memori indah masa-masa kejayaan kita dulu kala kau masih menyanjungku di atas segala-galanya
Kenang...
Kenanglah aku dalam ingatanmu
Agar hidup selamanya jiwaku dalam sanubarimu
Monday, 11 October 2010
Melarikan Diri
Thursday, 7 October 2010
Diapers
Beberapa minggu kemudian Nini kembali ke baby shop pertama. Kali ini ia memborong beberapa pak besar diapers sekaligus. Pengalaman sebelumnya yaitu kehabisan stock tidak ingin terulang lagi. Namun beberapa hari kemudian Nini bingung karena budget untuk kebutuhan lain sudah terpakai untuk membeli diapers. Nah loh...gimana solusinya...
Wednesday, 6 October 2010
Tanggung Jawab
Komitmen dengan Waktu
Dapatkah aku berkomitmen dengan waktu, agar tak terlalu cepat berlari meninggalkanku. Dapatkah aku meringkas pekerjaanku, agar tak berbelit seperti benang kusut tak berujung. Dapatkah aku bermusuhan dengan rasa kantuk yg selalu mendera di saat suasana sedang mendukung.
Jikalau aku melewatkan waktu sepanjang malam ini hanya untuk memuaskan rasa kantuk, tentu esok pagi rasa penyesalan itu menghampiri sekali lagi, seperti saat2 sebelumnya. Kebiasaan yg berulang tanpa mengerjakan sesuatu yg berharga hanya kan menghabiskan sisa waktuku yg semakin menipis. Begitu setiap hari dan seterusnya. Lalu apa maknanya hidup jika selalu merasakan ketidakpuasan dan ketertinggalan. Selalu merasa tertinggal oleh waktu, di sisi lain pekerjaan itu semakin menumpuk dan bertambah volumenya.
Ayo, segera bangkit dari rasa kantuk. Bangun dan belalakkan matamu hingga kau tak mampu lagi tuk berpikir dan merasa jenuh. Inilah saatnya tuk beraksi!
Friday, 17 September 2010
Tak Gentar Sedikitpun
Suatu ketika ada seorang ibu muda tengah berjalan sendirian sambil menggendong anak semata wayangnya yang masih berusia satu tahun. Ia sedang berusaha mencari makan untuk anaknya yang sedang kelaparan, sedang rasa lapar yang ia rasakan sendiri tak begitu dihiraukannya. Baginya, kelangsungan hidup anaknya adalah di atas segala-galanya. Saat tengah melintas di jalan yang sepi di malam yang pekat dan dingin, tiba-tiba datang sekelompok orang berusaha merampoknya. Begitu menyadari ibu muda itu tak memiliki harta sedikitpun, tiba-tiba mereka marah dan langsung memukulnya. Spontan ibu muda itu menjerit kesakitan saat mereka menendang, memukul dan mengayunkan sebilah kayu berkali-kali ke arahnya. Bayi yang ada di gendongannyapun ia lindungi sekuat tenaga dengan tubuhnya yang lemah dan kurus itu, hingga tubuhnya penuh dengan memar dan bersimbah darah. Sedang bayi itupun menangis meraung-raung di bawah lindungan tubuh ibunya.
Selesai menjalankan aksinya mereka langsung pergi ngeloyor dan meninggalkan ibu beserta bayinya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Untunglah sang bayi selamat, tidak mengalami luka sedikitpun. Sedangkan sang ibu menangis sesenggukan dan mengucapkan syukur alhamdulillah menyadari sang buah hati dalam keadaan selamat, padahal tubuhnya sendiri penuh darah dan remuk tulangnya.
Menyadari tak ada seorangpun yang melintas apalagi menolongnya, ia pun memaksakan diri dengan sisa tenaga yang dimiliki untuk kembali berdiri melanjutkan perjalanan sambil menggendong sang buah hati. Berharap ada seseorang yang melintas dan menolongnya.
Thursday, 19 August 2010
Kumbang
Suatu ketika turun hujan deras disertai angin kencang. Petir telah menyambar pohon tempat tinggal ke 32 kumbang-kumbang itu hingga sarangnya ikut hangus terbakar. Hanya beberapa ekor kumbang saja yang berhasil menyelamatkan diri. Melihat hal itu, si kumbang kecil jadi semakin sedih dan mengajak mereka untuk berteduh dalam sarang buatannya sendiri. Sejak saat itu si kumbang kecil sangat dihormati kerabat-kerabatnya, dan mereka hidup bahagia selamanya.
Friday, 6 August 2010
A L Y A (Part 3)
Image by Roslan Tangah (aka Rasso) via Flickr
Kebetulan ada salah seorang dosen yang sangat baik hati, namanya Pak Rifki. Beliau mengijinkan Alya untuk bertandang ke rumahnya setiap kali ia ingin berkonsultasi mengenai mata kuliah tersebut. Karena seringnya frekuensi Alya bertandang ke rumah, pak Rifki yang masih muda orangnya dan statusnya masih lajang diam-diam menaruh hati terhadap Alya. Awalnya Pak Rifki salut dan mengagumi kegigihan Alya untuk mendalami mata kuliah itu, apalagi ia mengetahui bahwa selama ini Alya menanggung sendiri biaya kuliahnya dan hidup mandiri dari hasil bekerja sebagai penulis.
Pak Rifki mendorong Alya untuk kembali menekuni pekerjaannya sebagai penulis, hingga suatu ketika beliau memperkenalkan Alya pada kerabatnya yang juga seorang penulis. Terbukalah bagi Alya pintu untuk kembali menuju ke
Alya pun semakin jatuh hati terhadap dosen pujaannya itu. Kini Alya kembali memperoleh spirit untuk meneruskan kuliah dan job menulis yang sempat terbengkalai. Sebaliknya Alya telah mendapatkan calon teman hidup yang ia anggap sebagai penyelamat hidupnya.
Hubungan merekapun berjalan selam bertahun-tahun sampai suatu saat setelah ia berhasil menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi tersebut, Alya berjanji untuk mengajak kekasihnya itu ke kampung halannya di Madiun untuk diperkenalkan pada kedua orang tuanya. Merekapun akhirnya bertunangan.
A L Y A (Part 2)
Image by Roslan Tangah (aka Rasso) via Flickr
Mulailah masa beradaptasi bagi Alya. Kesulitan membagi waktu antara kuliah dan job menulis membuatnya keteteran. Dead line menulis yang diberikan bersamaan waktunya dengan jadwal ujian. Alya merasa stres dan sering uring-uringan. Beberapa kali ia mangkir dari jadwal kuliah hanya untuk menenangkan diri. Ujian di semester pertama harus ia lalui dengan record buruk. Nilai yang didapat sangat tidak memuaskan, dan beberapa mata kuliah harus diulang di semester selanjutnya.
Hal ini tidak menjadikan Alya jera. Pikiran yang kalut menyebabkannya tidak semangat belajar. Skors pun harus diterima Alya karena dead line menulis selalu tidak ditepatinya. Akibatnya penghasilan yang rutin ia terima setiap bulannya sudah tidak ada lagi. Sumber mata pencaharian satu-satunya yang sebelumnya ia banggakan telah raib. Rasa bersalah dan malu terhadap orang tua atas prestasi buruknya di perguruan tinggi membuatnya tak sampai hati untuk meminta bantuan biaya pada mereka. Walaupun sangat ingin pulang ke kampung halaman untuk menceritakan semuanya pada orang tua, niat itu ia urungkan.
Hingga suatu kali Alya terjebak dalam rutinitas kehidupan malam. Pacar baru Alya yang bernama Boby, dan teman-teman satu genknya mempengaruhi cara bersikap dan berpikirnya. Apalagi Boby yang terkenal borju selalu mendorongnya untuk semakin tenggelam dalam kehidupan malam yang sebelumnya belum pernah Alya kenal. Ketergantungan Alya dengan biaya hidup yang kini ditanggung Boby membuatnya semakin tak bisa lepas dari pelukan Boby.
Alya berusaha tersadar dari rusaknya kehidupan yang kini menghantuinya. Masuk di semester kedua ini ada rasa ingin bangkit dari keterpurukan. Perlahan namun pasti, ia berusaha menjauh dari Boby dan teman-teman kehidupan malamnya. Di kelaspun, Alya berusaha akrab dengan semua dosen, dengan tujuan ingin memfokuskan pikirannya di setiap mata kuliah yang sedang ia tempuh. (Bersambung)
A L Y A (Part 1)
Image by Roslan Tangah (aka Rasso) via Flickr
Saat pertama membuka pintu depan rumah di suatu pagi yang terang benderang, Alya menemui bertumpuk-tumpuk dedaunan kering yang berserakan memenuhi halaman depan rumah kontrakannya. Begitu banyaknya hingga ia tak bisa menemukan sandal yang biasa ia gunakan sebagai alas kaki untuk menapaki halaman itu. Kumuh sekali, pikirnya. Seperti rumah yang sudah bertahun-tahun tak berpenghuni. Padahal baru kemarin sore ia membersihkan halaman itu. Pohon mangga yang lebat daunnya tumbuh di halaman pekarangan rumah Alya. Saking lebatnya sampai menutup pancaran sinar matahari, dan bila hujan deras mengguyur, tak sedikitpun tanah di pekarangannya basah oleh tetes air hujan.
Sudah seminggu Alya menempati rumah kontrakan itu. Sudah banyak biaya yang ia habiskan untuk merenovasinya, maklum rumah itu sudah kosong bertahun-tahun hingga bangunannya hampir ambruk.
Alya terpaksa mengontrak rumah itu karena minimnya dana yang ia miliki, selain itu karena berdekatan dengan kampus yang kini menjadi tempat barunya untuk mengenyam pendidikan. Sejak diterima di Universitas Airlangga jurusan Akuntansi, Alya yang saat ini mulai masuk semester pertama dan tinggal berjauhan dengan orang tuanya yang tinggal di Madiun harus merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa bertahan hidup di
Alya yang ngotot untuk membiayai sendiri hidupnya sejak lulus SMA, telah meluruhkan hati kedua orang tuanya. Walaupun kedua orang tuanya masih mampu untuk membiayai kuliahnya, namun Alya tak ingin merepotkan lagi dan ingin belajar hidup mandiri, mengembara ke
Wednesday, 4 August 2010
Waduh
Image by marcus_jb1973 via Flickr
“Waduh, baju yang kupakai sama warnanya dengan pramuniaga-pramuniaga itu,” Riri terperanjat saat beberapa langkah akan memasuki salah satu counter pakaian di sebuah mall. Sudah kepalang tanggung, dari rumah ia memang berniat untuk mendatangi counter itu untuk membeli beberapa helai pakaian. Sempat terhenti sejenak langkah Riri ketika ia memutuskan untuk menerjang saja masuk ke dalam.
Belum sampai satu menit ia berada di dalam
Menyadari hal itu Riri hanya tersenyum kecut menahan malu. Segera ia mempercepat langkahnya dan meninggalkan gadis yang sedang kebingungan itu. Tiba-tiba saja ia memasuki sebuah counter yang khusus menjual kemeja casual. Tanpa pikir terlalu lama ia memilih sebuah kemeja berwarna pink dan langsung menuju kasir. Setelah membayar, Riri langsung masuk ke fitting room untuk mengganti baju atasan yang dikenakannya. “Siiip…,” pikir Riri.
Beberapa saat kemudian ia kembali memasuki counter tempat khusus menjual gaun yang baru saja ia tinggalkan tadi. Dengan begitu Riri merasa leluasa dan nyaman berlama-lama dalam counter itu untuk mendapatkan gaun yang sesuai dengan seleranya.