Friday 2 April 2010

Tanaman dalam sangkar

Lady Herbert's Homes and GardenImage by Wolfiewolf via Flickr

"Bunda, aku ingin melihat benih ini tumbuh," kata sikecil tatkala menyaksikan sang bunda sedang menutup sebutir benih di atas sebongkah tanah dalam pot kecil dengan sebuah sangkar burung di atasnya.

"Iya nak, kau akan menyaksikan benih ini tumbuh sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya usia kamu," jawab sang bunda sambil tersenyum dan membelai halus kening sikecil.

Seminggu kemudian benih mulai menampakkan daunnya. Sikecil selalu memantau perkembangan benih itu. Disiramnya setiap hari, diamatinya bentuknya dan dijaga dengan penuh kasih sayang. Dua minggu kemudian benih mulai memamerkan kuncup bunganya. Tiga minggu kemudian benih mulai menyebarkan wangi dari mekar bunganya yang cantik. Semakin lama tanaman itu tumbuh semakin besar dan lebat daunnya.

Hingga suatu ketika sikecil bertanya pada bundanya,"Bunda, mengapa tanaman ini selalu dikurung dalam sangkar?" Sang bunda tidak menjawab dan hanya tersenyum pada sikecil.

Beberapa hari kemudian, sikecil mendapati tanaman kesayangannya melilit pada setiap ruas jeruji sangkar. Tanaman itu ternyata tumbuh merambat, meliuk mengikuti bentuk sangkar dan tak sedikitpun tangkainya tumbuh keluar dari jeruji sangkar yang telah mengurungnya.

Setahun kemudian tanaman itu mirip seperti bonsai. Ia tumbuh menyesuaikan keadaan. Seperti ada batasan-batasan yang tidak pernah dilanggar. Rupanya hal tersirat ini tersampaikan dalam benak sikecil. Ia tumbuh dengan tingkat adaptasi yang cukup baik, selalu mengikuti aturan dan patuh pada kedua orang tuanya. Anak itu berusaha melakukan hal yang tidak melenceng dari aturan.

Ia telah belajar dari tanaman itu, bagaimana caranya tumbuh dan beradaptasi. Sikecil menerima apa adanya kebersahajaan orangtuanya. Ia telah belajar bagaimana bertahan hidup di dunia yang penuh dengan tantangan dan cobaan.

Lebih baik mengubah cara pandang kita terhadap lingkungan, daripada memaksa lingkungan di luar kita agar mau mengerti apa yang kita pikirkan atau rasakan.






Reblog this post [with Zemanta]

5 comments:

  1. memang benar sekali... kita harus bisa menyelaraskan diri dengan lingkungan kita... setidaknya itu (mungkin) pesan yang ingin disampaikan dalam cerita itu... tapi menurutku ada satu pandangan lagi yang perlu dicermati... tanaman dalam sangkar tersebut seolah ingin membebaskan diri dari jeratan sangkarnya, meskipun pada akhirnya harus tetap terjerat dan tumbuh sesuai dengan alurnya. hal ini seolah membawa pesan, ketika lingkungan tempat kita tumbuh tidak sesuai dengan yang semestinya (maksudnya lingkungan tidak sehat, baik secara jasmani maupun rohani) maka kita perlu berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, bahkan merubah lingkungan tersebut menjadi lebih baik.. jadi mungkin seharusnya tanaman tersebut tumbuh melilit jeruji sangkar dan membuat jeruji tersebut ikut meliuk bersama tubuhnya... heheheheh (maaf kalo sok tahu)

    ReplyDelete
  2. @loopdreamer: iya, ada 2 kemungkinan dalam menghadapi realita. Dalam hal mengubah cara pandang, sebaiknya mengubah cara pandang kita sendiri terhadap dunia di luar sana, tapi jika ingin mengubah cara pandang orang lain apalagi masyarakat luas, jangan tanggung2. Istilahnya apa ya, bikin trend atau trade mark gitu. Harus dengan usaha sekuat tenaga dan terus-menerus agar orang2 menerima cara pandang kita yang baru.

    ReplyDelete
  3. benar sekali ,bagaimana seseorang memandang /cara pandang seseorang terhadap hidup begitulah diri seseorang(karacter) cara hidup akan hidup ,kata lain pengaruh utama diri seseorang adalah bagaiman cara pandang dalam hidup .
    Itulah sebabnya secara fitrah manusia terarah oleh figur/Idola/percontohan dalam hidup ,,"ngemeng2 saya sendiri bingung dengan kata2ku ini he heh pandangan hidup , hidup meter muter"

    ReplyDelete
  4. @mundo: kenapa hidup muter2. Hidup yg lurus2 aja biar cepet nyampe ke tujuan, ok friend.

    ReplyDelete
  5. Ya, alangkah baiknya dunia ini kalau semua orang mau mengubah cara pandangnya terhadap dunia.... :(

    ReplyDelete

Senang sekali Anda sudah mau berkunjung. Jika berkenan meninggalkan komentar di sini tempatnya... terima kasih.