Friday, 7 June 2013
Rumah Pohon untuk John
“Dora, kenapa tidak kamu buatkan saja rumah pohon untuk monyet itu. mama tidak suka ia tinggal di rumah ini,” tegur sang mama suatu hari. Dora tersenyum, ia maklum dengan ucapan mama. Usul mama bagus juga, pikir Dora. Untuk sementara John lebih baik tinggal di rumah pohon daripada membuat penghuni rumah yang lain merasa tidak nyaman. “Baik Ma, akan kucoba membuat rumah pohon,” jawab Dora.
Hari itu juga Dora pergi menemui Diego, teman sepermainan Dora yang pandai membuat rumah pohon. Ia meminta tolong Diego untuk mengajarkan bagaimana cara membuat rumah pohon. Lalu mereka berdua pergi ke halaman rumah Dora yang luas. Merekapun mengumpulkan kayu-kayu yang sudah tidak terpakai dari dalam gudang untuk dijadikan rumah pohon. Sementara John bebas berkeliaran di sana sini sambil memakan pisang.
Beberapa jam kemudian rumah pohon sudah selesai. Dora dan Diego senang, hasil kerja mereka kelihatan bagus. John kelihatan sangat menyukai rumah pohonnya yang baru, ia melompat ke sana ke mari sambil bertepuk tangan lalu masuk ke dalamnya.
(Rd)
Monday, 7 January 2013
Biarkan Mengalir Bagai Air
Seperti kematian, sejauh apapun kau berusaha melupakan dan mengalihkan perhatian agar tak merasakan pedih perihnya kematian, tetap saja hal itu akan menghantuimu. Maka jalan yang lebih tepat mungkin dengan menghadapinya. Menghadapi kematian dengan mempersiapkan datangnya kematian itu sendiri mungkin akan meminimalisir rasa takut. Mengatasi rasa takut adalah dengan menghadapi apa yang ditakutkan itu sendiri. Biarkan saja semua megalir bagai air, biarkan… biarkan… biarkan. Relakan semuanya terjadi tentang segala hal yang tak mampu kau mengendalikannya lagi.
(Rd)
Sunday, 23 December 2012
Ganti Suasana
![]() |
| Frames (Photo credit: The Loopweaver) |
Berharap dengan hal yang baru ini, hidup saya berubah menjadi lebih mudah, lebih bersemangat dalam meraih cita-cita dan selalu bahagia di setiap jejak tapak kaki melangkah.Ganti suasana, lebih singkatnya.
(Rd)
Saturday, 22 December 2012
Bacalah
![]() |
| Recent reading material (Photo credit: Roo Reynolds) |
Maka saya mencoba untuk membaca apapun yang ada di dekat saya. Acara televisi yang sedang ditonton anak-anak kebetulan dalam bahasa inggris yang dilengkapi dengan teks terjemahan. Maka kesempatan itu saya gunakan untuk membacanya sembari menemani anak-anak menonton televisi, dan juga untuk memperlancar bahasa inggris.
(Rd)
Friday, 23 November 2012
Aku yang sekarang
![]() |
| 3/365 - Yes, it's that bad. (Photo credit: Phae) |
Aku kini sedang tidak berbaik hati, tak mampu suguhkan senyum di bibir yang terkulum.
(Rd)
Thursday, 23 August 2012
Wanita Tegar
| Melliferous flower (Photo credit: Wikipedia) |
Wednesday, 22 August 2012
Sedikit Flash Back
| English: Photograph of abdomen of a pregnant woman (Photo credit: Wikipedia) |
Badan ini serasa susah untuk digerakkan. Bahkan saat posisi tidurpun selalu merasa tidak nyaman, miring ke kiri miring ke kanan. Saat bangun tidur pinggang ini seperti kaku hingga terasa sakit saat dipaksa untuk bangkit dari tempat tidur. Perut yang semakin membesar apalagi menginjak usia kehamilan 8 bulan ini menjadi alasan utama untuk lebih berhati-hati dalam bersikap. Terkadang saat mengawasi putri pertama yang saat ini menginjak usia hampir 1,5 tahun, dan sedang lucu-lucunya apalagi banyak tingkahnya, aku langsung menyerah sambil mengibarkan bendera putih pada utinya. Itu tandanya aku ingin istirahat sejenak alias menyerahkan sejenak keberadaan si kecil pada ibuku…
Tuesday, 21 August 2012
Bocah di Atas Trotoar
![]() |
| Bungaku Bunga Liar, Bunga Trotoar... (Photo credit: Ikhlasul Amal) |
Bocah di Atas Trotoar
“Bau badanmu menyengat sekali, berapa hari kau tidak mandi?” tanya Pinki pada teman barunya. Beberapa saat yang lalu Pinki berdiri di dekat perempatan lampu merah. Ia merasa terganggu sekali dengan pemandangan di dekatnya, seorang bocah cilik yang sedang melamun di atas trotoar. Kegiatan mengamen Pinki siang itu jadi terganggu dengan rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak tatkala menyaksikan ketenangan dan raut muka membisu sang bocah lelaki yang duduk termangu dengan pandangan kosong. Apalagi bocah itu tidak bergeming sedikitpun dengan panasnya terik mentari yang siang itu benar-benar membakar kulit.“Berhari-hari kak…”jawab bocah lelaki itu dengan tampang cuek dan muka yang cemberut. Pinki semakin tak kuasa untuk pura-pura cuek dan tak mau tahu dengan keprihatinan yang dialaminya. Segera saja Pinki merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan yang baru saja ia dapat dari mengamen siang itu.
“Nih, buat kamu. Kamu bisa mandi di kamar mandi umum di ujung jalan sana,” kata Pinki sambil menunjuk letak kamar mandi umum itu. Bocah itu menoleh mengikuti arah tangannya lalu kembali menunduk. “Kenapa kamu?”tanya Pinki penasaran. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya sedang berkecamuk dalam pikiran bocah kecil itu.
Mereka berdua terdiam beberapa saat, lalu sang bocah berkata, “Rumahku tak jauh dari sini kak. Seminggu yang lalu aku lari dari rumah.” Pinki melongo mendengar pengakuannya. “Kenapa kamu lari dari rumah? Dan kenapa sekarang kamu tidak pulang saja ke rumah?” tanya Pinki dengan nada kasihan.
“Aku tadi sudah pulang ke rumah, lalu pergi lagi. Aku kaget ternyata orang tuaku tidak senang dengan kedatanganku. Mereka lebih suka aku pergi dari rumah itu,” jawab sang bocah sambil berlinang air mata.
Pinki tercengang mendengarnya.
Wednesday, 15 August 2012
Be be
| BlackBerry closeup (Photo credit: Wikipedia) |
Thursday, 28 June 2012
Kamu adalah kamu
| English: Clouds & Sky. Portland, Oregon. (Photo credit: Wikipedia) |
Sunday, 24 June 2012
Di Suatu Senja
| English: colourful sunset. knysna, south africa. slightly photoshopped to enhance the colours. (Photo credit: Wikipedia) |
Tuesday, 26 July 2011
Ketamakan sang Raja
Pagi itu desa Kayalan sedang dihebohkan dengan berita hangat tentang keputusan raja yang baru naik tahta beberapa hari yang lalu. Tidak tanggung-tanggung, sampai ada yang bercucuran air mata. Pasalnya setiap perempuan yang ada di desanya diharuskan memberi jamuan makan yang digilir setiap harinya, padahal semua orang juga tahu, bahwa rakyat di desanya terkenal dengan kemiskinannya. Untuk makan keluarga sendiri saja susah, apalagi harus memberi jamuan makan pada seorang raja yang nafsu makannya luar biasa. Tubuhnya yang gemuk dan tambun, membuatnya kesusahan saat berjalan. Sebagian besar waktunya dihabiskan hanya di tempat tidur. Nyaris tidak ada aktifitas lain yang dilakukannya selain makan dan tidur. Padahal rakyat sudah cukup menderita, bahkan sebelum ia naik tahta.
Seorang anak yang cukup cerdik, bernama Dahlan sangat geram dengan ulah sang raja dan tak bisa tinggal diam begitu saja. Didatanginya sang raja saat itu juga setelah ia menyaksikan sendiri keadaan seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah ibunya sendiri. “Hey raja gendut, tahukan kamu kisah dibalik makanan yang sedang kau nikmati saat ini?” Sang raja tak mengindahkan perkataan Dahlan, ia tetap mengunyah sebatang paha ayam yang cukup besar. Di hadapannya terbentang berbagai macam makanan yang sangat menggiurkan. Ia semakin geram dengan sikap cuek sang raja.
“Tahukah kamu, wanita yang telah memasak semua makanan ini sekarang sedang terbaring lemah akibat kelelahan karena tidak tidur semalaman? Tidakkah kau merasa iba dengannya?” Dahlan menunggu reaksi sang raja, beberapa saat raja melirik ke arah Dahlan dan menghentikan kunyahannya, lalu ia kembali menyantap makanan yang lain. Dahlan semakin geram, namun ia tak dapat berbuat apapun. Lalu ia pulang, dalam perjalanan pulang Dahlan berdoa agar Tuhan segera menyadarkannya.
Beberapa jam kemudian tersiar kabar bahwa sang raja jatuh sakit akibat makan terlalu banyak. Masakan yang ia makan kali ini benar-benar lezat hingga tak bisa membuat sang raja berhenti makan. Beberapa saat setelah makan sang raja jatuh pingsan akibat rasa mulas pada perutnya. Dahlan hanya tersenyum mendengar kabar itu, ia berharap raja segera menyadari kesalahannya.













