Kemarin kulihat kau duduk sendiri, termenung di atas bangku panjang yg sudah usang Lalu kau panjatkan doa akan cinta sejati, berharap segera datang pangeran pelipur lara
Hari ini kulihat kau sedang berseda gurau, bersama pacar terkasih yang baik hati Bercengkerama seakan tiada lagi galau, Saling melengkapi semua pasti bisa teratasi
Rembulan... Aku rindu cahaya remangmu saat aku terbuai dalam gendongan ibuku di malam hari, sambil mendendangkan lagu yang bisa meninabobokanku. Aku ditimang saat beliau berjalan pelan di teras halaman rumahku. Ditemani suara jangkrik dan kodok yang bersahutan, aku menengadah menatap langit. Begitu syahdunya... begitu hangat dan lembut pancaran sinarmu. Tak pernah kulupakan hingga akhir hayatku moment itu...
Namaku Tina. Aku hanyalah seorang gadis belia berusia 9 tahun. Saat ini duduk di sekolah dasar kelas 3. Teman-temanku banyak, aku tak tahu apa yang membuat mereka suka padaku, padahal aku seorang yang pendiam dan tak suka beramah tamah. Walaupun demikian aku tak ambil pusing ketika setiap pagi mereka selalu berebut menyalin jawaban PR ku sebelum lonceng tanda masuk berbunyi. Begitulah yang mereka lakukan setiap pagi. Tak jarang juga mereka selalu mendatangiku malam sebelum ujian berlangsung, untuk belajar bersama denganku, begitu alasan mereka.
Aku seorang gadis biasa yang tidak begitu cantik dan belum akil baliq, jadi belum mengenal apa arti cinta. Teman-teman selalu menjodohkanku dengan teman lelaki. Hari ini dengan si Bram, besok dengan si Rizki, begitu seterusnya. Apa maksud mereka, ah aku tak begitu peduli. Yang kutahu setiap hari aku harus belajar dan belajar. Membaca memang hobiku, dan belajar adalah kewajibanku. Setiap jam istirahat berlangsung, mereka sering mentraktirku. Makanan apa saja yang aku inginkan, mereka bersedia bayar. Ah, aku yang berasal dari keluarga bersahaja tak menolak jajanan apa yang mereka suguhkan padaku. Maklum, aku jarang makan enak di rumah. Ayah bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu berjualan kue sehari-harinya untuk menyambung hidup.
Suatu ketika, aku kebagian piket pagi membersihkan kelas. Sekolah masih sepi saat aku memasuki kelas. Sebelum mengambil sapu seperti biasa aku meletakkan tas terlebih dulu ke dalam laci di bawah mejaku. Namun saat aku memasukkan tanganku, ada cairan lengket mengotori tas dan jemariku.
“Aaaaaaaaarrrgggg….!!!” Spontan aku berteriak. Rupanya cairan itu berasal dari plastik hitam yang disembunyikan di bawah mejaku. Setelah kurogoh plastik itu dan kubuka, bulu kudukku langsung berdiri. Sekumpulan cacing tanah yang saling melilit satu sama lain berjalan merambat. Kulihat lendir menetes melewati jemariku. Secepat kilat langsung kulempar jauh-jauh bungkusan itu ke halaman sekolah.
Siapa yang tega berbuat ini padaku? adakah seseorang yang membenciku hingga ingin membuatku ketakutan setengah mati. Untung tak ada seorangpun yang mendengar teriakanku, jika tidak aku bisa malu. Kalaupun ada yang tahu pasti orang itulah pelakunya dan secara diam-diam memperhatikanku dari kejauhan.
Bel masuk kelas telah berbunyi. Akupun bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Baru berjalan sekitar 15 menit ketika pak guru menerangkan di kelas, tiba-tiba Rina yang duduk di sebelahku berteriak. Ada seekor cacing tanah mirip seperti yang kutemukan tadi pagi sedang melilit di sepatu Rina, ia pun pingsan. Pak guru langsung menghampiri bangku kami. Semua mata tertuju pada tubuh Rina yang lunglai dan bersandar lemas di pundakku.
“Siapa yang menaruh cacing di sepatu Rina?” Tanya pak guru pada semua murid di kelas ini. Semuanya diam tak ada yang angkat bicara.
“Apa kau tahu darimana binatang ini berasal Tina?” Tanya pak guru sambil memicingkan mata ke arahku. Kacamatanya yang sedikit melorot dan sorot matanya yang tajam membuatku gemetaran.
“Tidak pak… mungkin… mungkin…” tiba-tiba saja kalimatku jadi terbata-bata. Antara takut menghadapi pak guru dan juga takut dengan kemunculan cacing tanah itu, pikiranku jadi tidak karuan.
“Saya tahu pak! Tina pelakunya!” teriak seseorang dari bangku belakang. Jantungku semakin berdegup kencang. Siapa yang berani menuduhku?! Aku langsung mengangkat muka. Kami semua menoleh ke arahnya. Jasmine , murid tercantik di kelas ini, sedang angkat bicara. Ia telah menuduh akulah pelakunya.
“Tadi pagi saya melihatnya membuang sesuatu keluar kelas. Ketika saya periksa ternyata ia membuang sebuah bungkusan dalam plastik hitam berisi cacing tanah,” sambungnya sambil menuding ke arahku.
“Benar semua itu Tina?” Tanya pak guru sekali lagi sambil memicingkan mata ke arahku. Kacamatanya yang semakin melorot membuatku semakin tidak bisa berucap, cahaya yang memantul dari kacamatanya membuat mataku silau.
“Sa… sa… saya memang membuang bungkusan berisi cacing itu pak, tapi bukan saya yang membawanya masuk ke dalam kelas ini,” jawabku membela diri.
“Bohong! Lalu mengapa kamu datang pagi-pagi sekali hari ini?! Ini semua bagian dari rencanamu kan? Supaya tidak ada yang tahu bahwa kamu pelakunya!” bentak Jasmine di depan teman-teman sekelas.
“Huuuu….!” Teman-teman menyoraki perkataan Jasmine. Sementara itu Rina segera dibawa ke ruang UKS oleh teman-teman, sedangkan aku dihukum berdiri di depan kelas sampai bel pulang sekolah berbunyi. Selama terpaku di depan kelas, aku hanya bisa menangis dan menundukkan kepala.
Keesokan harinya, aku berjalan tertunduk memasuki kelas. Masih teringat dengan kejadian kemarin, ditambah dengan rasa malu akibat tuduhan Jasmine yang dilemparkan padaku. Tanpa sepatah katapun aku berusaha menghadapi hari itu di sekolah dengan penuh ketegaran.
“Anak-anak, teman kalian Jasmine hari ini tidak masuk karena sedang sakit. Siapa yang akan menjenguk sepulang sekolah nanti?” kata pak guru di depan semua murid. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba Jasmine jatuh sakit. Walaupun dalam hati aku menyimpan rasa marah terhadapnya, namun aku juga penasaran dengan sakit yang dideritanya.
“Kau baik-baik saja Tina?” tanya Rina yang sedari tadi memperhatikan sikapku.
“Ah Rin… seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau sudah baikan setelah pingsan kemarin? Percayalah bukan aku pelakunya…” jelasku pada Rina teman sebangkuku, tatkala ia memandangi wajahku.
“Aku percaya bukan kau pelakunya Tin… kau tahu tidak Jasmine sekarang sedang sakit apa?” tanya Rina padaku.
“Tentu saja tidak… bukannya dia kemarin terlihat baik-baik saja?” tanyaku balik padanya.
“Iya… tapi kabar yang kudengar, tadi pagi Jasmine muntah, dan dalam muntahannya ditemukan cacing. Setelah diperiksakan ke dokter rupanya Jasmine terkena cacingan,” jawab Rina dengan muka serius sambil memicingkan matanya padaku.
“Apa?!” tanyaku tidak percaya.
“Jadi semua pasti tahu pelakunya adalah Jasmine sendiri. Mungkin ia iri dengan segala keberhasilanmu di kelas ini Tin, sampai ia tega menuduhmu.”
Aku hanya bisa menarik nafas dan menggeleng-gelengkan kepala mendengar berita itu. Rupanya senjata sudah makan tuan. Siapa menanam, dia pula yang akan menuai hasilnya.
Saat kesempatan emas itu tiba, aku lupa belum mempersiapkan segalanya. Bekalku belum cukup untuk menerobos masuk pintu perbatasan yang menghubungkanku dengan masa depan yang selama ini kuimpikan. Bodoh benar aku, pikirku menyesali diri.
Segera kumembalikkan badan dan lari pulang menuju rumah. Masih cukupkah waktu tersisa untuk memiliki kesempatan yang tak kan datang untuk kedua kali. Segera otakku bekerja secepat yang kumampu, namun sia-sia. Pintu itu sudah tertutup untuk selamanya.
Air mata ini meleleh berjatuhan. Dada ini sesak menahan kesedihan. Lalu aku mencoba berputar haluan. Kujelajahi hutan rimba yang belum pernah kulewati sebelumnya. Dari jauh nampak seberkas sinar terang yang menggoda hatiku untuk mendekatinya.
Perjalanan babak baruku dumulai. Semangatku tumbuh walau dengan arah yang berbeda. Tetap semangat...!
Kukira raga ini cukup kuat Kukira tubuh ini cukup mampu Walau tekad dan semangatku membaja Tetap tak sepadan dengan kemampuan fisikku Raga ini roboh saat tekad bajaku bersikeras menerjang Ternyata hanya sampai di sini Cukup sampai di sini
Sebuah pelepasan dari lilitan panjang dan membuatmu kaku Sebuah pelepasan dari permainan tarik ulur yang diciptakan olehku Sebuah pelepasan dari penutup mata yang hitam pekat dan wajib kau pakaikan pada kedua matamu Sebuah pelepasan dari tuntunan dan tuntutan olehku Sebuah pelepasan dari larangan dan perintah untukmu Sebuah pelepasan dari carut marutnya pikiranku dan campur tanganku Sebuah pelepasan dari kode etik yang kuciptakan untukmu Sebuah pelepasan dari rantai berat di kedua kakimu, yang selalu kusimpan mata kuncinya di bawah bantalku Sebuah pelepasan dari mata-mata hati dan pikiranku Sebuah pelepasan dari bendungan yang kuciptakan untuk derasnya mata airmu Sebuah pelepasan dari mimpi buruk yang selalu bergentayangan di alam sadarku Sebuah pelepasan dari perkataan jangan dan tidak untukmu
Ia berdiri dengan sangat angkuh. Dalam balutan busana kebanggaannya, ia mondar mandir di atas karpet merah yang tengah jadi sorotan. Penyanyi yang baru naik daun itu sedang cemas menanti proses check sound yang dilaksanakan mendekati saat pementasan. Karena keteledoran pihak penyelenggara, terpaksa check sound itu dilaksanakan beberapa menit sebelum acara dimulai. Sang artis yang sangat perfeksionis mengkutuk keteledoran pihak panitia, namun tak ada waktu lagi untuk berdebat.
“Apa sudah jadi gaun saya?!” tanya Tasya dengan ketus saat baru saja tiba di butik yang dipercaya olehnya untuk membuat kostum panggung.
“Sudah non, ini silahkan dicoba,” jawab ibu pemilik butik sambil menyodorkan gaun merah menyala dengan bagian atasan berwarna hitam.
Tampak Tasya membolak balik gaun itu lalu cemberut, “Kok begini jadinya? Warnanya ga senada banget!
Ibu itu tampak terkejut dengan respon Tasya, “Bukannya nona sendiri yang minta saya menambahkan kain warna hitam di atasnya?”
“Iya, tapi seharusnya kalau jadinya begini ibu telepon saya dulu ngasih tahu kalau ternyata warnanya ga senada! Masak nurut aja apa yang saya omong tanpa ngasih pendapat sedikitpun!” Tasya tidak terima dengan pembelaan diri si ibu.
Ibu itu diam saja, melihat respon yang diam saja amarah Tasya semakin menjadi-jadi. Sambil menunjuk-nunjuk muka si ibu, Tasya berteriak menggurui, “Sebagai pemilik butik seharusnya punya jiwa seni, pakai dong bu kemampuan ibu!”
Ibu itupun tak tahan dengan perlakuan Tasya dan melelehlah air mata dari kedua matanya yang sudah sedikit keriput.
Malam sebelum pertunjukan, Tasya tidak dapat tidur nyenyak, gaun yang akan ia pakai besok malam tidak sesuai dengan harapannya. Mau tidak mau ia harus memakainya, mengingat sudah banyak biaya yang ia keluarkan untuk membuat kostum itu.
Saat yang telah dinanti banyak orang itupun telah tiba. Kini Tasya berjalan memasuki podium sambil mengumbar senyum yang dipaksakan terhadap penonton. Sorak sorai penggemarnya telah membuat nyalinya semakin ciut. Akankah penampilannya kali ini memuaskan mereka, sedang jantungnya berdegup kencang karena ia merasa ada yang tidak beres dengan persiapan pihak penyelenggara.
Benar saja firasatnya, di tengah-tengah lagu yang sedang dibawakannya, tiba-tiba mikrofonnya mati. Jantung Tasya berdegup kencang. Keringat dingin bercucuran dari keningnya. Ia pun panik dan bersumpah dalam hati akan menuntut pihak panitia. Saat itu juga nafasnya seolah terhenti. Tak percaya dengan apa yang sedang menimpa dirinya, Tasya pun jatuh pingsan.
Aku bernafas tenang, dan berusaha tetap terjaga. Mataku sayu dan rasa kantuk ini begitu berat untuk kulawan, walau berkali-kali kubelalakkan kelopak mata ini sampai bola mataku hampir saja keluar.
Secepatnya kutepis semua kekhawatiran ini dengan mengambil sikap duduk tenang di atas sajadah, dan kubersujud...
Ia berdiri dengan sangat angkuh. Dalam balutan busana kebanggaannya, ia mondar mandir di atas karpet merah yang tengah jadi sorotan. Penyanyi yang baru naik daun itu sedang cemas menanti proses check sound yang dilaksanakan mendekati saat pementasan. Karena keteledoran pihak penyelenggara, terpaksa check sound itu dilaksanakan beberapa menit sebelum acara dimulai. Sang artis yang sangat perfeksionis mengkutuk keteledoran pihak panitia, namun tak ada waktu lagi untuk berdebat.
“Apa sudah jadi gaun saya?!” tanya Tasya dengan ketus saat baru saja tiba di butik yang dipercaya olehnya untuk membuat kostum panggung.
“Sudah non, ini silahkan dicoba,” jawab ibu pemilik butik sambil menyodorkan gaun merah menyala dengan bagian atasan berwarna hitam.
Tampak Tasya membolak balik gaun itu lalu cemberut, “Kok begini jadinya? Warnanya ga senada banget!
Ibu itu tampak terkejut dengan respon Tasya, “Bukannya nona sendiri yang minta saya menambahkan kain warna hitam di atasnya?”
“Iya, tapi seharusnya kalau jadinya begini ibu telepon saya dulu ngasih tahu kalau ternyata warnanya ga senada! Masak nurut aja apa yang saya omong tanpa ngasih pendapat sedikitpun!” Tasya tidak terima dengan pembelaan diri si ibu.
Ibu itu diam saja, melihat respon yang diam saja amarah Tasya semakin menjadi-jadi. Sambil menunjuk-nunjuk muka si ibu, Tasya berteriak menggurui, “Sebagai pemilik butik seharusnya punya jiwa seni, pakai dong bu kemampuan ibu!”
Ibu itupun tak tahan dengan perlakuan Tasya dan melelehlah air mata dari kedua matanya yang sudah sedikit keriput.
Malam sebelum pertunjukan, Tasya tidak dapat tidur nyenyak, gaun yang akan ia pakai besok malam tidak sesuai dengan harapannya. Mau tidak mau ia harus memakainya, mengingat sudah banyak biaya yang ia keluarkan untuk membuat kostum itu.
Saat yang telah dinanti banyak orang itupun telah tiba. Kini Tasya berjalan memasuki podium sambil mengumbar senyum yang dipaksakan terhadap penonton. Sorak sorai penggemarnya telah membuat nyalinya semakin ciut. Akankah penampilannya kali ini memuaskan mereka, sedang jantungnya berdegup kencang karena ia merasa ada yang tidak beres dengan persiapan pihak penyelenggara.
Benar saja firasatnya, di tengah-tengah lagu yang sedang dibawakannya, tiba-tiba mikrofonnya mati. Jantung Tasya berdegup kencang. Keringat dingin bercucuran dari keningnya. Ia pun panik dan bersumpah dalam hati akan menuntut pihak panitia. Saat itu juga nafasnya seolah terhenti. Tak percaya dengan apa yang sedang menimpa dirinya, Tasya pun jatuh pingsan.
“Yah…hujan deras lagi,” keluh Intan tatkala akan mengganti piyamanya dengan gaun malam hitam. Malam ini Intan, 19 tahun, akan menghadiri pesta ulang tahun temannya di sebuah hotel mewah, milik ayah Inge, teman Intan yang tengah berulang tahun itu.
Segera ia menelpon Bram, teman kencan Intan yang biasa mengantarnya kemana saja ke tempat yang Intan suka. Bram seorang pegawai swasta lumayan tajir, yang baru bekerja selama 1 tahun. Sebenarnya bukan Bram sendiri yang bisa dikatakan tajir, kekayaan orang tua Bram lah yang selama ini digunakan untuk memfasilitasi segala keperluannya, terutama dalam urusan cewek.
“Bram, jemput aku pake mobil ya? Hujan deras nich ,” pinta Intan dengan manja. Sesaat kemudian Intan bergegas mengganti pakaian, dan tak kurang dari 30 menit mobil Bram sudah membunyikan klakson begitu tiba di depan rumahnya.
“Uh… kenapa cepat sekali sich sampainya, aku kan belum siap nich…” keluh Intan seraya mempersilahkan Bram masuk ke dalam rumahnya.
“Tenang sayang, aku tidak terburu-buru kok. Santai saja…” jawab Bram sambil tersenyum genit.
Buru-buru Intan ngeloyor masuk ke dalam kamar membenahi riasannya yang belum kelar. “Braaam…! Aku pake gaun warna hitam pantas tidak ya…?” teriak Intan sambil mendongakkan kepalanya keluar dari pintu kamar.
“Kamu pake warna apa aja pantas kok sayang,” jawab Bram sambil melongok kearah jam tangannya. Sudah setengah jam Intan menghabiskan waktunya di dalam kamar, Bram seolah sudah tidak sabar untuk segera menghadiri pesta ulang tahun Inge, anak seorang pengusaha kaya.
Sesampai di hotel mewah tempat digelarnya pesta Inge, Bram sangat takjub dengan kemewahan pesta yang digelar di sana. “Kenalkan, ini Bram, cowokku,” kata Intan saat mengenalkan Bram pada Inge.
Inge yang saat itu mengenakan gaun purple, tampak sangat cantik dan elegan dengan dekorasi kolam renang yang bernuansa gold.
Dari pandangan pertama, Bram sudah jatuh hati pada Inge. Tidak hanya pada penampilan Inge yang malam itu tampak cantik di mata Bram, namun ia juga jatuh hati terhadap kekayaan yang dimiliki keluarga Inge.
Gayungpun bersambut, Inge menerima Bram menjadi cowoknya. Tampang Bram memang ganteng, hingga mampu melumerkan hati Inge. Namun apalah arti seorang Intan yang hanya seorang gadis yang berasal dari keluarga biasa. Memiliki cewek yang orang tuanya setajir Inge adalah incaran Bram dari dulu.
“Apa kamu benar-benar mencintaiku Bram?” tanya Inge di suatu malam saat mereka berdua asyik dalam suasana sendu, di bawah temaram cahaya bulan purnama.
“Iya sayang, aku sangat mencintaimu,” jawan Bram dengan penuh kemesraan.
“Mengapa kau tidak segera melamarku?” sambung Inge dengan penuh antusias.
Sesaat Bram terdiam, lalu menghembuskan nafas sambil memeluk Inge erat, “Ya sayang… mungkin sudah saatnya.”
Tiga bulan kemudian, pesta pernikahan digelar di kediaman orang tua Inge. Sudah bisa diprediksi, banyak tamu undangan yang hadir. Sebagian dari kerabat dan teman kerja ayah Inge, sebagian lagi berasal dari kerabat dan teman kerja ayah Bram. Tamu undangan yang hadir tumpah ruah dalam pesta mewah yang menghabiskan biaya sangat besar.
Setahun kemudian, mereka sudah menimang bayi. Kebahagiaan berturut-turut datang pada keluarga mereka. Sampai suatu ketika, ayah Inge harus masuk ke dalam bui karena kasus penggelapan dana.
Seketika itu juga keluarga Inge bangkrut. Tidak lama kemudian keluarga Bram juga terkena imbasnya. Kasus penggelapan dana itu ternyata juga menyeret usaha milik ayah Bram. Perusahaan milik keluarga Bram telah dirugikan berpuluh-puluh milyar.
Kini keluarga Bram maupun keluarga Inge sama-sama jatuh miskin. Mereka tidak punya apa-apa sama sekali. Tiga bulan kemudian, Bram dan Inge memutuskan untuk berpisah dan menjalani hidup mereka masing-masing.
Mereka yang kini sedang bersembunyi di balik selimut, sedang menghangatkan tubuhnya dan memejamkan mata. Mengirimkan rohnya masing-masing untuk memainkan peran di alam yang beda. Meninggalkan jasad yang sedang beku dan berusaha melupakan sejenak dingin yang melilit tubuh. Menikmati sup hangat dan secangkir kopi dalam sandiwara mimpi.
Kini derasnya air dari langit ketujuh telah berhenti. Mentari pagi telah menghangatkan tubuh mereka kembali. Kuncup bunga telah merekah memamerkan mahkotanya yang indah berseri.
"Bunda, aku ingin melihat benih ini tumbuh," kata sikecil tatkala menyaksikan sang bunda sedang menutup sebutir benih di atas sebongkah tanah dalam pot kecil dengan sebuah sangkar burung di atasnya.
"Iya nak, kau akan menyaksikan benih ini tumbuh sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya usia kamu," jawab sang bunda sambil tersenyum dan membelai halus kening sikecil.
Seminggu kemudian benih mulai menampakkan daunnya. Sikecil selalu memantau perkembangan benih itu. Disiramnya setiap hari, diamatinya bentuknya dan dijaga dengan penuh kasih sayang. Dua minggu kemudian benih mulai memamerkan kuncup bunganya. Tiga minggu kemudian benih mulai menyebarkan wangi dari mekar bunganya yang cantik. Semakin lama tanaman itu tumbuh semakin besar dan lebat daunnya.
Hingga suatu ketika sikecil bertanya pada bundanya,"Bunda, mengapa tanaman ini selalu dikurung dalam sangkar?" Sang bunda tidak menjawab dan hanya tersenyum pada sikecil.
Beberapa hari kemudian, sikecil mendapati tanaman kesayangannya melilit pada setiap ruas jeruji sangkar. Tanaman itu ternyata tumbuh merambat, meliuk mengikuti bentuk sangkar dan tak sedikitpun tangkainya tumbuh keluar dari jeruji sangkar yang telah mengurungnya.
Setahun kemudian tanaman itu mirip seperti bonsai. Ia tumbuh menyesuaikan keadaan. Seperti ada batasan-batasan yang tidak pernah dilanggar. Rupanya hal tersirat ini tersampaikan dalam benak sikecil. Ia tumbuh dengan tingkat adaptasi yang cukup baik, selalu mengikuti aturan dan patuh pada kedua orang tuanya. Anak itu berusaha melakukan hal yang tidak melenceng dari aturan.
Ia telah belajar dari tanaman itu, bagaimana caranya tumbuh dan beradaptasi. Sikecil menerima apa adanya kebersahajaan orangtuanya. Ia telah belajar bagaimana bertahan hidup di dunia yang penuh dengan tantangan dan cobaan.
Lebih baik mengubah cara pandang kita terhadap lingkungan, daripada memaksa lingkungan di luar kita agar mau mengerti apa yang kita pikirkan atau rasakan.
Aku di sini Terbaring dalam diam Berhenti dan mengelana dalam cakrawala senja Berusaha memahami apa saja yang telah kulakukan hari ini Seperti tiada ujung aku berlari dan kini ingin kuberhenti Seperti tanya yang tak berujung jawab Aku menunggu bahagia menyapa namun sepertinya sia-sia
Tawanya mengumbar berjuta tanya. Setelah panjang lebar kujabarkan apa arti hidup ini dalam pandangan sempit mataku. Kau tetap tak mengerti dan terus mentertawaiku seraya kaumainkan jemarimu dengan ketukan teratur di atas meja. Seolah menghitung detik demi detik waktu yang kauberikan padaku untuk bicara.
“Apa maksudmu?” celetukmu setelah kau lelah bermain tawa. Sementara aku sibuk mencari jawaban termudah. Semudah kalimat-kalimat yang mungkin bisa dimengerti oleh seorang anak kecil, walau saat ini aku berhadapan dengan seorang yang cukup dewasa, yang seharusnya mampu menalar setiap ungkapan yang kulontarkan.
“Ah, percuma saja bicara denganmu. Hanya membuang-buang waktu saja,” jawabku sambil beranjak dari tempatku duduk. Di hadapanku sedang bersandar seorang lelaki dewasa pada kursi malasnya. Asap rokok yang dimainkan dalam setiap hembusan nafasnya membuatku semakin tidak bisa bernafas.
Sementara waktuku semakin sempit. Aku segera berkemas dan memakai mantel yang cukup tebal. Di luar hujan deras, namun aku tak peduli dengan jarak yang kutempuh nanti. Dua jam perjalanan dengan sebuah bus kelas ekonomi cukup membuatku lelah, apalagi dalam kondisi hamil 2 bulan seperti ini. Aku tak meminta ia bertanggung jawab dengan menikahiku. Aku tak menuntut apa-apa darinya, seorang lelaki yang tidak memiliki hati, apalagi rasa iba. Aku hanya ingin ia tahu bahwa benihnya kini tersimpan di rahimku, agar suatu saat kelak anak ini bisa bertemu dengan ayah kandungnya. Itupun kalau dia menginginkan ayahnya, namun kuharap tidak.
Masih ada banyak jalan menuju Roma, begitu ungkapku. Setelah bayi ini lahir, akupun membesarkannya dengan sepenuh hati. Seorang lelaki yang baik hati dan kini telah menjadi suamiku telah menutup dalam-dalam luka batin yang pernah ada sebelumnya. Keluarga kecilku hidup dalam kebahagiaan dan sikecil tumbuh dengan tanpa kurang suatu apapun, hingga saat yang telah kuduga itupun tiba.
Lelaki yang berasal dari kehidupanku di masa silam saat ini kembali ada di hadapanku. Dalam keadaan tubuh yang ringkih dan penuh dengan tato permanen ia memandangi putraku yang kini berusia 3 tahun. Sikecil menangis ketakutan saat lelaki itu mendekatinya. Ia meronta dalam pelukanku seakan tak kuasa menyaksikan pemandangan menyedihkan di hadapannya. Seorang lelaki yang tubuhnya dipenuhi dengan penyakit mematikan. Seorang lelaki yang dalam tubuhnya bersarang zat beracun. Seorang lelaki yang rela menyakiti diri sendiri dan terjebak dalam lingkaran narkoba.
Ia pun berkata dalam buliran air mata, “Umurku tidak akan lama lagi… aku ingin sekali memeluk putraku untuk yang terakhir kali…”
Dalam diammu aku tak sanggup mengumbar kata-kata walau sekecap. Diammu adalah gundahku. Lebih baik kutelan ucapanmu dalam-dalam, agar dirimu tenang. Buanglah segala keluh kesahmu, agar jiwamu tak sengsara. Biar semuanya tertampung dalam ruang hampa di benak ini. Setelah masuk dalam diriku, maka semuanya akan menjadi beku dan membatu. Saat itulah diriku semakin lama menjadi semakin kebal dengan segala ucapan yang menyengsarakan. Karena setiap yang kaumuntahkan, akan kutelan mentah-mentah dan kukunci rapat hingga semuanya tak terasa lagi.
Diri ini hanyalah seorang perempuan yang tidak memiliki kuasa untuk sekedar berkata tidak. Segala yang kaukatakan tidak atau iya, aku ikut saja. Kemanapun kau pergi aku turut. Apapun yang kau ingin, aku amini.
“Pergilah dengan Frans malam ini, daripada kamu di rumah terus. Ia ingin mengajakmu jalan-jalan keliling kota ini,” kata Rio di suatu sore, ketika aku duduk bersebelahan dengannya di teras rumah, sambil memandang jauh bunga-bunga yang sedang bermekaran di halaman depan.
Suasana sore yang sangat menyejukkan, sesejuk hatiku yang kala itu sedang kasmaran terhadap suamiku sendiri, Rio. Kami baru menikah 3 bulan yang lalu. Aku diboyongnya ke Jakarta sehari setelah pesta pernikahan kami yang diadakan sederhana di kampungku. Namun aku masih tak mengerti dengan maksud perkataannya yang menyuruhku pergi dengan Frans, sahabat karibnya yang baru dikenalkannya padaku kemarin sore.
“Kau ikut juga kan mas?” tanyaku manja sambil bergelanyut ke lengan Rio.
“Tidak sayang… aku di rumah saja menyelesaikan tugas-tugas ini untuk meeting besok pagi,” jawabnya sambil mengecup mesra keningku.
Malam itu Rio memilihkan gaun yang akan kukenakan jalan-jalan dengan Frans. Walaupun lelaki, namun Rio sangat pandai dalam memilihkan segala pernak-pernik perempuan seperti gaun pink mini yang kukenakan ini, ditambah dengan kalung dan anting sebagai pemanis yang telah dipasangkannya padaku. Bagiku yang hanya seorang perempuan desa, hal itu sangat menyenangkan. Didandani menjadi perempuan cantik seperti ini menjadi suatu hal yang baru dan sekaligus menyenangkan. Aku berputar-putar di depan cermin.
“Benar kau tak ikut sayang?” aku memastikan sekali lagi.
“Tidak, aku sudah cukup lelah hari ini,” jawabnya singkat dengan senyum simpul kecil.
Tidak lama kemudian bel pintu depan berbunyi. Rio segera membukakan pintu. Sekilas terlihat mereka sedang berbisik. Setelah itu Rio berjalan ke arahku dengan senyum manisnya, diikuti Frans di belakangnya yang saat itu mengenakan kemeja hitam. Wangi aroma tubuh Frans tercium menyengat saat ia dan aku berjalan beriringan memasuki sedan hitam miliknya.
Entah kemana tujuan kami malam itu, yang jelas aku sudah membayangkan tempat-tempat indah yang akan kami kunjungi. Gemerlap kota Jakarta di malam hari sangat menakjubkan dan membuatku semakin ingin berlama-lama dengan Frans di malam itu.
Frans tipe lelaki yang tak banyak bicara, akupun juga begitu. Namun kebaikan Frans mengajakku berkeliling kota besar ini tak membuatku berpikir macam-macam tentang gelagat Frans yang sebenarnya, sampai pada akhirnya ia memaksaku bermalam satu kamar dengannya di sebuah hotel.
Ya… aku sudah terjebak dengan seorang lelaki hidung belang. Malam itu aku tak kuasa menolak segala keinginan Frans untuk bersetubuh denganku. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Antara berontak dan bingung, mengapa Rio suamiku sendiri menyerahkan kehormatanku pada lelaki busuk ini?!
Dering telepon itu benar-benar mengganggu tidur siangku. Damai hati dalam indahnya mimpiku yang sesaat telah terhenti dalam sekejab, tatkala ada sesuatu yang hendak kau sampaikan dengan segera. Dengan wajah terkulai dan tangan lemas kuangkat telepon itu dan berucaplah diriku dengan suara berat dan irit.
“Halo…” “Segera kemasi barang-barangmu Rin! istriku akan segera datang malam ini!” teriaknya dengan nafas tersengal-sengal.
Tiba-tiba dunia serasa runtuh. Teringat sekilas akan kenangan semalam bersamamu di atas ranjang ini. Begitu cepatnya berakhir sedang kau sudah berjanji padaku akan melakukannya sekali lagi denganku malam ini. Bercinta denganmu adalah hal terindah dalam hidupku. Seisi dunia serasa menjadi milikku dan segalanya seakan tiada berarti lagi selain bersamamu. Aku rela mengorbankan apa saja hanya untuk berada di pelukmu walau hanya untuk semalam.
Segera kukemasi barang-barangku. Kubalut tubuhku dengan gaun yang semalam kupakai. Kulihat kemejamu masih tergeletak di atas lantai ini, hingga bau parfummu masih samara-samar tercium. Kulihat jam di dinding masih pukul 9 pagi. Roy saat ini sudah berada di kantornya. Dia pasti tahu aku masih berada di kamar ini.
Sebelum aku meninggalkan kamar itu, sekilas aku menamatkan foto Roy dan Dina yang terpampang dalam sebuah bingkai berbentuk hati di atas meja kerja Roy. Dina sahabat karibku semasa kuliah. Aku yang menyatukan mereka berdua, namun diam-diam aku telah jatuh cinta terhadap Roy. Gayungpun bersambut tatkala beberapa tahun kemudian aku bertemu kembali dengan Roy di kota ini. Kamipun beberapa kali berkencan, namun tak satupun gelagat kami yang tercium.
Dari awal aku sudah tahu Roy tipe lelaki tidak setia, sama tidak setianya aku terhadap suamiku. Akupun telah berselingkuh. Suamiku tinggal jauh di negeri orang. Entahlah, apa bisa rumah tanggaku dipertahankan kalau kami tinggal berjauhan, sedang aku juga tidak tahu apa suamiku juga setia terhadapku.
Keluar dari apartemen Roy aku berpapasan dengan seorang perempuan berkerudung. Bau parfumnya sudah tidak asing bagiku. Dina… mungkinkah itu Dina. Saat itu juga aku langsung menengok ke belakang, aku terperanjat ternyata ia juga melakukan hal yang sama denganku.
“Rani…!” ia tersenyum menghampiriku. Deret gigi putihnya yang rapi mengingatkanku denga wajah lugunya 5 tahun silam. Ya… istri Roy sudah datang. Namun aneh, tak ada rasa bersalah yang menyelimutiku. Tak ada rasa takut atau sikap kikuk dalam diriku ketika berhadapan dengan istri Roy! Dina seorang istri yang suaminya telah bercinta denganku tadi malam!
Kami berpelukan, seperti layaknya bertemu kawan lama ia pun tak sabar ingin berbincang panjang lebar denganku, namun aku sadar aku harus segera menjauh dari perempuan ini sebelum Roy mengetahuinya. Dengan dalih kesibukanku yang super padat akupun menghindar dari Dina, sahabat karibku. Suatu saat ia pasti benar-benar akan membenciku, bahkan mungkin akan membunuhku.
Aku seorang wanita jalang, dalam balutan busana yang sopan namun berhati binal.
Buat apa makan kalau toh nanti lapar lagi. Buat apa belajar kalau toh nanti lupa lagi. Buat apa mencuci piring kalau toh nanti kotor lagi. Buat apa membereskan tempat tidur kalau toh nanti berantakan lagi. Buat apa mandi kalau toh nanti dekil lagi.
Hidup ini adalah melakukan perbuatan berulang-ulang dan terus menerus. Kita harus menurut, sebab jika tertinggal sedikit saja maka derajat kita akan turun satu tingkat. Satu saja aktifitas yang kita tinggalkan akan menyisakan penyesalan dan perasaan bersalah. Ketakutan demi ketakutan setelah melalaikan kewajiban akan membentuk suatu karakter yang justru merugikan diri sendiri. Rasa tidak percaya diri dan segala rasa lain yang bisa menjebloskan kita pada suatu kebiasaan buruk lainnya. Semacam jaring laba-laba yang jika diikuti kita akan terbawa, entah itu menuju tempat mulia atau sebaliknya.
Sesuatu yang baik dan dikerjakan berulang-ulang bisa membuat kita semakin kuat. Sembahyang yang dilakukan berulang-ulang akan membuat kita tegar. Belajar yang dilakukan berulang-ulang akan membuat kita semakin pintar. Kesulitan yang dihadapi berulang-ulang dengan ikhlas akan membuat pribadi menjadi lebih dewasa. Kuncinya adalah konsisten dalam kebaikan, maka akan tampaklah hasilnya kelak.
Aku hanya memastikan kalau segala sesuatu berjalan sesuai apa yang semestinya. Berjalan mengikuti jalur. Menata ulang dan mengerjakan ulang apa-apa yang sudah menjadi schedule harian. Dalam setiap langkah yang telah tertempuh, aku merasakan seperti ada penambahan point tak kasat mata yang hanya bisa dirasakan olehku, namun orang lain tak dapat mengetahuinya. Dalam setiap waktu yang telah terlewati ada semacam history yang ketika aku dapat melaluinya dengan kerja keras sesuai aturan dan rencana, ada semacam kebanggaan tersendiri.
Saat itu aku berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Agar tidak ada waktu yang terbuang, aku mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga secepat kilat namun dengan hasil memuaskan, pikirku. Namun ada saja kendala yang datang, saat aku mencuci gelas dengan kecekatan tanganku, tiba-tiba gelas itu tergelincir dan jatuh berkeping-keping. Lantai yang tadinya sudah kubersihkan hingga licin sekarang malah terkotori lagi dengan pecahan gelas. Waktu jadi terbuang, lantai harus dibersihkan sekali lagi dan sebelumnya harus memungut satu demi satu serpihan kaca tadi dari yang terkecil sekalipun.
Setelah itu aku coba curi waktu sejenak dengan menikmati secangkir kopi hangat sambil duduk di depan laptop dan menulis sebuah catatan kecil. Tanpa sengaja cangkir kopi tadi tersenggol tangan lalu tumpah lagi di atas lantai yang sudah kubersihkan. Jadi harus mengepel sekali lagi.
Setelah itu aku pergi ke dapur untuk memasak. Berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa, aku menggoreng sambil mengisi air di mesin cuci. Mengerjakan dua pekerjaan dalam sekali waktu, pikirku. Setelah air terisi penuh aku baru ingat kalau tadi juga sedang menggoreng, alhasil semuanya gosong dan terbuang, maka harus menggoreng untuk yang kedua kali.
Ketika lelah mulai bernyanyi, peluh keringatpun menemani. Diiringi suara nafas yang tersengal-sengal, mata inipun mengatup membayangkan angin surga yang segar dan segudang keceriaan tiada henti. Dalam heningpun waktu terus berlari. Seolah tak mengerti akan makna lelah. Tiada ampun bagi yang cuma berdiam diri. Waktu terus mengepakkan sayap kuasanya. Mentertawai singa-singa yang sedang tidur pulas dalam kerajaan hutan rimba. Mengagumi makhluk-makhluk yang sedang bertumbuh tatkala surya telah tenggelam. Melindungi siapa saja yang memohon diberi umur panjang, dan mengutuk sampah-sampah masyarakat yang sudah memenuhi isi dunia.